oleh

Keluarga Besar

-Puisi-248 views

SAYA dibesarkan dalam lingkup keluarga besar. Besar dalam arti yang luas.

Pertama. Papa adalah anak ke-14 dari 18 bersaudara, lahir tahun 1942. Sementara Mama adalah anak ke-3 dari 12 bersaudara, lahir pada tahun 1949. Bayangkan betapa besarnya keluarga kami. Itu belum menghitung sepupu-sepupu Papa dan sepupu-sepupu Mama, baik dari pihak Opa maupun Oma. Apalagi jika memasukkan kerabat jauh mereka.

Saya kerap kebingungan ketika Papa Mama mengenalkan pada seseorang atau keluarga tertentu. Saya tahunya bahwa mereka saudara. Bagaimana relasinya? Kadang dijelaskan, lalu saya lupa. Namun, lebih banyak saya tak bertanya.

Beberapa hari setelah Papa meninggal, muncul Kakak saya, Ferrel Wattimena. Orang yang dititipi oleh Papa ketika saya berada di Jakarta, masih kecil dulu. Saya teramat sangat gembira. Kangen itu terluapkan. Lalu saya beranikan diri untuk bertanya, bagaimana sebenarnya relasi kami? Bagaimana mungkin saya punya kakak dengan marga Ambon?

Ketika Papa bekerja di Sinar Harapan, Cawang, Jakarta, sehari-hari (pagi sampai malam hari) saya dititipkan ke keluarga Om Christian Silalahi. Itu Om saya. Om dengan marga Batak. Di rumah Om Christ ada lukisan pernikahan Papa Mama. Kemudian hari, lukisan itu dibawa ke Surabaya.

Namun sebenarnya istri Om Christ-lah yang mengasuh saya. Meninabobokan saya, memandikan, juga menyuapi ketika tiba saatnya untuk makan. Namanya Umi Cahyati. Saya memanggilnya Budhe.

Budhe orang Tegal, yang menjalankan Warung Tegal-nya di Cawang. Saya dititipkan di situ oleh Papa. Saya tumbuh dalam suasana warteg. Adik kandung Budhe menikah dengan orang Ambon bermarga Wattimena, punya anak namanya Ferrel Wattimena itu.

Budhe meninggal ketika saya di Jakarta. Saya sedang dalam masa persembunyian bersama teman-teman Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang saat itu, oleh Orde Baru, kami dinyatakan sebagai dalang kerusuhan 27 Juli. Saya sangat sedih, tidak bisa ikut mengantar Budhe ke tempat peristirahatan abadinya.

Saya menuliskan puisi untuknya malam itu. Puisi itu masih tersimpan rapi di kamar kami. Puisi terhadap cinta dan hormat pada Budhe, sekaligus kemarahan pada negara.

Kedua. Di Kartu Keluarga (KK) kami, status anak nomor satu, bukanlah Jojo, anak sulung Papa Mama. Namanya Jarid, keponakan Mama dari Timor. Secara fisik, dia berbeda dari kami. Hitam legam, lebih tinggi dari kami. Sejak SMP, dia masuk sasana, beberapa kali jadi juara tinju amatir di Jawa Timur. Kami selalu ditraktirnya pasca pertandingan.

Beberapa tahun lalu, ada perubahan lagi pada KK kami. Ada nama Joko di sana. Joko adalah teman saya di Sekolah Dasar (SD), anak perwira polisi. Orang tua Joko sudah meninggal. Supaya urusan administratif mudah, Joko minta agar bisa masuk KK kami. Tentu saja Mama mengabulkan permintaan itu. Mama senang jika bisa menolong orang.

Ketiga. Penghuni tetap rumah kami di Surabaya, tidak melulu anak-anak Papa Mama. Beberapa anak tetangga, sehari-hari tinggal bersama kami. Djenggo, Galing, dan Ipung; tinggal bersama kami. Selebihnya ada nama-nama lain, namun mereka hanya kadang-kadang saja menginap di rumah kecil kami.

Mereka makan dan tidur bersama kami. Berangkat sekolah dari rumah kami. Jika mereka sakit, Mama bawa mereka berobat ke dokter. Jika kami pergi berlibur, mereka semua ikut pergi berlibur. Kami biasanya berlibur ke Malang. Papa tinggal di sana. Biasanya kami main ke Wendit. Karena itu, banyak foto liburan masa kecil kami di Wendit.

Galing dan Ipung anak keluarga Muslim, namun karena kami ke gereja, mereka jadi ikutan ke gereja. Saat itu, tidak ada stigma apa-apa. Orang tua mereka juga tak pernah permasalahkan hal itu. Kami bersenang-senang.

Djenggo masih di Kampung Malang. Ipung tinggal di Sidoarjo sekarang. Galing, kabar terakhirnya tinggal di Jakarta, berpetualang.

Di tangan Papa Mama, banyak anak-anak beroleh masa kecil yang menyenangkan. Semuanya diperlakukan bak anak sendiri. Beberapa kenangan kami, tersimpan di album-album foto. Kenangan yang lain, sudah ikut terkubur bersama Papa Mama.

Terima kasih buat segala jerih payah, agar kami punya masa kecil yang menyenangkan.

 

Moskow, 25 Juni 2020
15 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan