oleh

Mama, cinta pertama

-Puisi-1.335 views

Her eyes are like moon for the night, lights in the dark.

When she closed her eyes, my heart went dark.

With her, life was summer.
The day she passed away, it was the hardest rain ever.

Saya tak tahu apakah kesedihan bisa dibandingkan. Mungkin bisa, mungkin saja tidak. Antara saya dan Papa, siapakah yang lebih berduka atas kepergian Mama? Saya mengekspresikannya dalam puisi dan airmata. Sedih yang mungkin tak akan ada ujungnya.

Sementara Papa tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Tak ada ekspresi Papa ketika di rumah, juga ketika peti itu masuk ke dalam tanah. Dengan pandangan kosong, Papa hanya diam. Dalam diam, Papa menolak apapun. Papa menolak makan, Papa menolak semuanya. Seakan, melanjutkan hidup adalah hal sia-sia bagi Papa.

Mengenang Papa, membuatku mengingat Mama. Mama, gadis dari keluarga petani sederhana itu adalah tokoh utama dalam kehidupan Papa dan kami. Mama was the foundation that kept the fight going. Ia belajar dari hidup, bukan dari bangku sekolah.

Saya tak kuasa menulis panjang tentang Mama. Rasanya, tak ada cukup kata yang bisa mewakili sosoknya. Coretan-coretan tentang Mama ini ekspresi bahwa tak ada yang lebih kuat daripada cinta Mama kepada kami semua.

Dia mencintaiku, sejak aku dalam kandungannya.

Dia mencintaiku, bahkan sebelum aku mengenal arti cinta.

Aku lahir, aku menuntut, ia menyediakan.
Aku bayi yang menangis, maka ia menyediakan susu, makanan, perlindungan, dan kehangatan.

Aku menuntut perhatiannya setiap saat, ia menyediakan.

Ketika aku dewasa, Mama masih ingin menyediakan.

Ia tak menuntut, hanya ingin aku berhasil, punya masa depan.

Keinginan Mama itu bukan tuntutan. Itu bentuk kerinduan.

Ketika aku dewasa, Mama jadi Oma.
Datang para penuntut baru baginya. Mama menyediakan.

Ia menyediakan buat cucu-cucunya, memanjakan mereka dengan luar biasa.

Tak pernah lelah ia memberi, pikiran dan perhatiannya, semua untuk anak dan cucunya.

Aku belum sempat membalas dengan cinta yang setara, sampai saat Mama tiada.

Ia mencintaiku sepanjang hidupku, bahkan sebelum aku tahu arti cinta.

Mama, maafkan aku, belum sempat membalas cintamu.

Maaf ya Ma, belum sempat jadi penyedia bagimu, sebagaimana peranmu dalam hidupku.

Terima kasih untuk semua cinta yang pernah ada.

Engkau yang mengenalkan makna cinta lewat perbuatanmu, Engkau adalah cinta pertamaku.

Aku mencintaimu. Selalu, dan selalu.

Life means sadness and happiness, born and gone.

Hidup memberikan kebahagiaan lewat perjumpaan, juga merenggutnya kembali atas nama kematian.

Lalu datang kesedihan, juga penyesalan.

Anakmu, yang duduk di ssampingmu.
Surabaya, 25 Januari 2020.

Mama, ayo bangun, lihat aku sudah pulang.

Sepanjang hari aku meratapi diri, kesalahanku adalah aku kurang mencintainya lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Di malam hari, aku berhenti pada pertanyaan ini; mungkinkah aku dapat mencintaimu lebih, sebagaimana cintamu padaku selama ini?

I am sorry Mom, I should love you more, and more, and more, and more. Descanza em paz.

I’ve lost my half, greatest woman on earth. She raised me with her tiny incredible hands. You will be missed Mom. Without you, I am nothing.

I am not ready for this.
I promised to call you, share stories and laugh like we used to. But..
RIP Mimi Rohi, heart attack, Wednesday, January, 22, 2020. I am not ready for this.

Memposting ulang catatan ini di hari 27 kepergian Papa. Mama dilahirkan oleh Oma Lusi tanggal 27 Februari.

 

Moskow, 7 Juli 2020
27 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan