oleh

Mama; Jembatan Hidup

-Puisi-244 views

Tak terkecuali, termasuk Papa, semuanya rajin menelpon Mama, memberitahukan kabar. Mama dan Taga, adik bungsu, tinggal di Surabaya. Saya dan Jojo di Jakarta, kami berbeda tempat tinggal. Oni di Depok, Maya di Banten, dan Papa bisa di mana saja, kapan saja.

Dari hasil menelpon Mama, kami jadi saling tahu bagaimana kabar masing-masing. Termasuk jika ada kebutuhan yang harus kami saling cover. Dalam hal ini, Mama menjadi jembatan informasi, sekaligus distribusi kesejahteraan di antara kami, untuk saling back up satu sama lain.

Dari hasil menelpon Mama, kami jadi tahu kabar saudara-saudara dari Papa Mama, juga kabar tentang tetangga. Mama sangat aktif, baik di gereja maupun di lingkungan rumah. Karena itulah, Mama punya banyak kabar yang bisa dibagikan ke kami. Bahkan ketika sahabatnya meninggal di hari ulang tahunnya, Mama sibuk seharian, melupakan hari istimewanya. Saya akan cerita tentang hal ini nanti.

Saya jarang curhat, baik ke sesama saudara, apalagi ke orang tua. Saya beranggapan, orang tua sudah saatnya mendengar berita baik saja dari anak-anaknya, selebihnya jangan. Namun, Mama selalu bertanya banyak hal tentang kebutuhan sehari-hari kami, tentang kondisi keuangan kami, tentang pekerjaan kami, tentang kesehatan kami hari itu. Pendeknya Mama cek semua hal tentang kami, juga tentang sang suami.

Jika ada anggota keluarga yang sedang membutuhkan, Mama akan minta anggota keluarga lainnya untuk menolong, termasuk menolong Papa. Saya lupa kapan tepatnya Papa benar-benar berhenti bekerja, dalam artian pergi ke kantor, punya meja atau ruangan. Yang saya tahu, Papa tak pernah berhenti beraktivitas. Kadang punya uang, lebih sering tidak punya uang.

Yang unik adalah cara Mama meminta, ketika ia ingin membantu orang lain. Terkadang Mama minta seolah-olah itu kebutuhannya, padahal saya tahu Mama sangat pandai berhemat, juga mencukupkan diri apa adanya. Meski saya kadang tahu itu bukan untuk Mama, saya tetap mengirimkan apa yang Mama minta. Biar Mama tetap sehat.

Kepuasan Mama memang bukan dirinya, tapi ketika yang membutuhkan menjadi tercukupi, hatinya senang, merasa sembuh meski sedang sakit. Dokter langganan selalu bilang Mama sakit karena banyak pikiran. Suka kepikiran kalau sedang ada yang berkekurangan.

Prinsipnya adalah semua orang harus punya, minimal apa yang jadi kebutuhan pokoknya. Itulah sejahtera. Setidaknya sejahtera dalam hati dan pikiran Mama, jika tak ada orang di sekelilingnya yang berkekurangan.

“Hidup harus saling bantu, karenanya pasti saling merepotkan, tapi itulah konsekuensi dari saling bantu.” entah ini kutipan dari mana. Yang pasti, Mama suka nonton tivi, kadang-kadang suka marah sendiri.

Walau sering tak pegang uang, Mama terkenal sebagai sosok periang. Hampir semua orang, bahkan yang baru kenal Mama, mengenangnya sebagai orang yang murah senyum.

Sekarang tak ada yang bisa kami telpon untuk berbagi cerita berpanjang-panjang. Tak ada lagi sosok yang ketika saya bawakan Martabak Pasar Kembang, lalu undang orang untuk ikut makan, atau ketika saya bawakan Es Campur Pacar Keling, bawa sebagiannya ke rumah orang. Tak ada lagi yang bisa saya bawakan makanan dan minuman, lalu dengan riang berbagi ke para tetangga.

Mungkin tetangga dan teman gerejanya akan kangen. Yang jelas, kami kangen. Begitu pula Papa, saat ditinggal Mama. Rasa kangen itu juga yang mempertemukan mereka kini. Selamat melepas rindu di sana.

Ijinkan saya mengutip lirik lagu yang Mama nyanyikan setiap hari di samping tubuh Papa yang lumpuh akibat stroke. Mama menyanyikannya setiap hari hingga di hari-hari terakhir kematiannya yang terasa begitu cepat dan mendadak.

“Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri. Hidup ini harus jadi berkat. Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat.”

 

Moskow, 22 Juni 2020
12 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan