oleh

Papa; Peduli dan Tidak Peduli

-Puisi-398 views

Setelah tenggelam dalam bacaan-buku dan dokumen-biasanya Papa menindaklanjutinya dengan hubungi banyak pihak untuk lakukan riset. Lalu mulai pergi, entah berbagi gagasan atau mencari sponsor penelitian. Beberapa idenya terwujud, pelurusan sejarah tempat kelahiran Soekarno misalnya. Kini, resmi Soekarno dinyatakan lahir di Surabaya, bukan Blitar sebagaimana Orde Baru katakan. Kemudian ditindaklanjuti dengan nama Jalan Ir. Soekarno yang sangat panjang di Timur Surabaya.

Beberapa risetnya belum sepenuhnya terwujud, beberapa di antaranya karena ketiadaan dana. Papa tetap berjalan, dengan mengeluarkan uang sendiri, kadang memakai uang untuk pendidikan kami. Mama pernah marah, karena di saat yang sama, ketika aku dan jurnalis muda (anak didik Papa) yang sama-sama membutuhkan bayar kuliah, Papa membiayai dia dari uang yang tersisa. Seperti biasa, Mama lalu menggadaikan apa yang bisa digadaikan.

Bagi Papa, pengetahuan dan pelurusan sejarah (Seokarno, NTT, dan Timor Timur) adalah hal utama dalam hidupnya. Kepuasannya ketika kebenaran sejarah ditegakkan, meski dengan itu ia berpeluh, berdarah-darah, dan jatuh sakit. Dengan atau tanpa sponsor, punya uang atau tidak, Papa tidak peduli.

Beberapa kali Papa muncul sebagai narasumber di TV menggunakan jaket krem dengan leher coklat tua. Itu aku beli di Blok M seharga 60.000 Rupiah saja, tanpa merk. Papa tidak peduli, murah atau mahal bakal diperlakukannya sama, dia pakai begitu saja, tanpa berpikir tentang warna yang senada atau lainnya.

Bagi orang-orang yang sering bertemu dengan Papa, mungkin mereka masih ingat bagaimana penampilan beliau. Kaos putih dirangkap kemeja biru dengan jaket krem dan topi abu-abu, atau kaos kuning dirangkap kemeja merah dengan jaket hitam dan topi coklat. Penampilan yang mungkin tampak amburadul.

Kebanyakan bajunya tidak bermerk, murah meriah. Papa sendiri tidak beli baju, aku dan Mama yang membelikannya. Tempat belanja favorit Mama adalah Pasar Tebet Barat dan Mall Ambassador, sementara tempat favoritku adalah Blok M. Kaos yang dipakainya sehari-haripun begitu. Kalau bukan kaos peninggalan reformasi 98, kaos kampanye Pilkada Bambang DH, dan kaos pemberian lainnya. Papa tak pernah peduli.

Papa tidak punya kebiasaan mengunjungi pusat perbelanjaan, apalagi berlama-lama di mall, kalau bukan karena janjian dengan orang yang mengajaknya bertemu di mall. Papa lebih suka bertemu orang di kantornya, di rumahnya, di ruang publik seperti Balai Pemuda Surabaya, di Taman Ismail Marzuki Jakarta, atau ke tempat yang menurutnya bersejarah.

Papa lebih senang ajak aku ke museum, kebun binatang, ke Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup di Trawas, atau ke makam Bosscha di Pangalengan, Bandung. Karena di tempat-tempat itulah dia bisa melanjutkan cerita-ceritanya. Kadang aku bosan karena Papa sudah pernah menceritakannya, beberapa kali malah. Papa tidak peduli.

Papa lebih suka mengenalkanku pada kolega-koleganya, sambil bercerita tentang kehebatan koleganya, berharap aku mendapat inspirasi dari mereka. Itu dilakukannya sejak aku kecil hingga dewasa. Seringkali aku kikuk dalam perkenalan-perkenalan itu. Baik di Surabaya, Jakarta, hingga ke pelosok daratan Timor dan pulau terpencil lainnya.

Papa lebih suka aku tahu banyak cerita, banyak sejarah, kenal banyak orang. Papa tidak mewariskan kami harta atau rumah mewah. Tidak ada mobil yang diwariskan. Hanya cerita, hanya buku, hanya perkenalan. Dan hari-hari ini, aku mewarisi pertemanan itu. Aku menerima banyak sekali pertemanan di media sosial, semua terhubung dengan Papa. Kini, aku punya banyak teman, bahkan mereka anggap Papa layaknya saudara. Kini, aku jadi punya banyak saudara. Hal seperti ini yang Papa lebih peduli.

 

Moskow, 12 Juni 2020
Dua hari setelah kematian Peter A. Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi, Putra ke-4 almarhum Peter A. Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan