oleh

Persahabatan

-Puisi-342 views

“Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Soekarno, 23 Oktober 1946.

Mungkin bukan kebetulan jika film favorit saya bertemakan persahabatan: Stand by Me, The Sleepers, dan Set It Off. Dua film pertama bercerita tentang pertemanan sejak kecil hingga dewasa. Film terakhir berkisah tentang persahabatan orang-orang yang dalam kesulitan. Ketiganya punya kesamaan; kebersamaan dalam masa-masa susah.

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya menyukai tema-tema seperti itu. Mungkin saja Papa Mama menginternalisasi nilai-nilai pentingnya persahabatan secara perlahan, lewat proses panjang.

Papa Mama sendiri senang jika banyak tamu datang. Kebahagiaan mereka adalah bisa menghidangkan sesuatu bagi tamu, bisa melayani para sahabat yang berkunjung ke rumah. Entah bagaimana mereka berdua bangga dengan rumah kecilnya di gang sempit itu. Yang jelas banyak sekali tamu datang berkunjung.

Alm WS Rendra ketika berkunjung pernah bilang, “Suatu saat saya harus menginap di rumah ini. Kalau perlu saya tidur di atas tumpukan koran dan dokumen-dokumen itu.” Hari-hari selanjutnya, sebelum saya berangkat ke kampus, Mama minta saya pagi-pagi pergi ke pasar beli makanan tradisional untuk diantarkan ke hotel tempat Mas Willy dan Mbak Ida menginap.

Papa pernah punya keinginan untuk bertetangga dengan Pak Aribowo (Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya) dan Pak Slamet Haryanto yang kala itu menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari PPP. Seingat saya mereka bertiga membentuk Yayasan Surabaya Akademika.

Ketiganya bersepakat, jika mereka bertetangga di Rungkut, mereka akan jebol tembok belakang masing-masing agar rumah saling terkoneksi. Pak Aribowo dan Pak Slamet mampu mewujudkan rencana tersebut, kecuali Papa.

Selain kunjungan, ada banyak juga telpon masuk mencari Papa. Jika telpon rumah berdering, dan di ujung suara sana terdengar lelaki terbatuk perlahan, berkata “Halo ini saya, muridnya, Papa ada?” itu pasti Om Nurinwa. Demikianlah Om Nurinwa memperkenalkan dirinya saban menelpon ke 0315456720. Awal-awal saya tidak tahu, dengan polos saya bilang, “Papa ada telpon dari murid Papa.” Papa hanya tersenyum.

Setidaknya dua kali Om Nurinwa meyakinkan saya agar ke luar dari Indonesia.

Suatu saat, dia ajak saya dan Leo Kristi, musisi itu, bertiga makan penyetan lesehan pinggir jalan, dia bilang, “Kalau kamu ke luar negeri, mungkin kamu akan jadi seperti anjing, susah hidup, tapi nanti, anakmu akan jadi setengah manusia, lalu keturunanmu selanjutnya akan jadi manusia. Di sini, kita ini selamanya tidak akan pernah jadi manusia.” Menurutnya, orang yang menjaga idealisme seperti Papa, takkan pernah seutuhnya jadi manusia di bawah Soeharto.

Kali kedua, pada pertemuan yang lainnya, Om Nurinwa bilang, “Orang terlahir miskin itu bukan salahnya, itu sudah nasibnya. Namun, orang mati dalam keadaan miskin, itu pasti ada yang salah dengan orang itu.” Konteks saat itu, ia prihatin dengan kondisi Papa. Ia mendorong saya untuk bisa secara ekonomi lebih baik dari Papa, dengan tetap menjaga idealisme. Meski, seperti diakuinya sendiri, sangat susah menjalani idealisme di bawah rejim Orde Baru.

Seperti biasa, saya hanya mengangguk, mengiyakan. Siapa yang mau bertahan dalam keadaan serba pas-pasan?

Di sisi lain, saya juga teringat pada Papa yang mengenalkanku pada Gandhi, yang mati hanya meninggalkan Bible, sandal, dan sendok garpu dari kayu. Saya didorongnya untuk mencari tahu tentang Che Guevara, anak orang kaya Argentina yang memilih jalan hidup bersama orang-orang yang dimiskinkan. Tentang Fidel Castro, anak tuan tanah yang justru membagi-bagikan tanah keluarganya pada petani miskin.

Ketika kelak saya bergabung dengan SMID Surabaya, saya baru paham tentang bunuh diri kelas itu. Atas dasar prinsip tersebut, Papa membangun persahabatannya. Karena itulah, pertemanan Papa terentang panjang dari segala lapisan.

“Tidak banyak orang mau berteman dengan orang miskin. Kalau dia mau berteman, mungkin sekali, dia orang baik, yang akan jadi teman baik.”

JIka ukuran kesuksesan adalah faktor ekonomi, maka Yesus termasuk di antara mereka yang gagal, sebagaimana Che Guevara, Mahatma Gandhi, juga Soekarno. Orang-orang yang mati dengan meninggalkan keteladanan sebagai warisan, bukan kekayaan.

Namun secara naluri, saya ingin lebih baik secara ekonomi dari Papa Mama, tapi tetap berbagi, sebagaimana Papa Mama ajarkan selama hidup mereka.

*
Terima kasih untuk semua sahabat Papa, yang peduli, dan yang selalu sigap membantu keluarga kami. Kepada kami, Papa seringkali bercerita tentang mereka. Papa Mama telah mengenang mereka dengan sangat baik, kami juga akan mengenang sahabat Papa sedemikian rupa. Peluk hangat.

Amsal 11:24-25
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang berhemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan. Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

**
Note: Besok akan menjadi postingan terakhir mengenang Peter A. Rohi, tepat di hari 40 kepergiannya ke tempat abadi.

 

Moskow, 19 Juli 2020
39 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan