oleh

Petuah Kakek Bukan Sebuah Kesia-siaan

-Puisi-426 views

Malam itu sehabis santap malam antara Kakek, Nenek dan si cucu masih sibuk bercerita tapi bukan cerita dongeng. Ini tentang petuah kakek kepada cucunya. Kakek tampak serius berpetuah dengan penuh harap dipahami oleh cucu satu-satunya. Meskipun pendidikan terakhir Kakek hanya Sekolah Dasar tapi Ia memiliki pengetahuan yang luas. Pengetahuan yang diperoleh dari kebiasaannya membaca. Juga pengalaman organisasi yang diikuti kakek di kampungnya. Maka tidak diherankan lagi jika kakek sangat pandai berbicara. Di kesunyian malam yang gelap itu hanya diterangi pelita mereka bertiga duduk melingkari meja yang sudah usang termakan usia. Kakek, nenek dan cucu mereka. Malam semakin larut dalam kuasanya. Serak-serak suara kakeklah yang memecah kesunyian itu. Karena kakek juga neneknya telah menaruh harapan yang besar agar cucu semata wayang itu menjadi orang sukses di masa depan.

***

Khayalan-khayalan indah yang melangit dibalik selimut tebal nan lembut kadang tak seindah realitas, bukan? Ia selalu menggairahkan dan menggiurkan jiwa. Tak terjamin keabsahannya, hanya tipu muslihat yang beterbangan di awan-awan kayangan. Menyuguhkan panorama eksotis memukau. Tentang hal indah dan bahagia tanpa usaha. Seolah hidup ini instan. Kita bahkan telah terbuai dengan khayalan liar yang berujung pada bingkisan mimpi buruk masa depan. Dan kenyataan terjadi demikian cucuku, kakek mulai berkata-kata dengan suara yang sedikit pelan. Mengikuti irama hembusan angin yang menerpa dengan mesranya.

Berhentilah kebiasaan burukmu itu cucuku. Karena hidup ini tak seromantis seperti yang engkau pikirkan. Apakah engkau pernah melihat mereka yang berbaring di kolong-kolong jembatan di kota metropolitan itu. Mereka sebenarnya ada asa tapi tak berdaya untuk melangkah. Seolah tak ada tempat di dunia bagi mereka untuk berkarya. Menggapai hidup bahagia. Bukankah kita semua memiliki hak yang sama? Tapi apalah daya kita hanya rakyat jelata yang tak pernah didengarkan suaranya. Lebih ironisnya lagi, di tengah hiruk pikuk kota metropolitan itu tak seorang pun yang menengok mereka. Atau barangkali memberikan uluran kasih. Itu semua hanya harapan belaka. Mereka itu malah sibuk memenuhi hasrat ego semata. Sungguh malang bukan? Dengan terpaksa para peziarah dunia yang malang itu harus merebahkan tubuh lelahnya di kolong jembatan. Beralaskan kardus-kardus kusam.

Kita semestinya harus banyak bersyukur pada yang Kuasa. Meskipun keadaan kita sebelas duabelas dengan mereka, kita masih punya gubuk untuk berteduh. Masih bisa makan barangkali hanya ubi yang selalu menemani isi perut kita. Kita harus bersyukur untuk itu.

Perihal berkhayal itu perlu untuk membangkitkan hasrat. Menenunkan asa. Namun untuk mewujudkannya kamu harus berani tanggalkan selimut yang harum mewangi penuh kepalsuan. Selimut kemalasan yang masih merekat erat membalut tubuh mungilmu. Selimut yang pandai membuat engkau merasa nyaman dengan kondisi terpurukmu, kakek begitu antusias berpetuah. Hal ini dikatakan Kakek sebab cucunya sudah salah bergaul sejak memasuki SMA kelas satu. Ia menjadi pribadi yang malas dan suka begadang setiap malamnya. Hari-harinya hanya duduk berkhayal yang tiada berguna. Bergaya di atas kesengsaraan hidup kakek dan neneknya. Benar-benar mencerminkan masa depan yang suram.

Tak mau bangkit, itu bukan pilihan. Engkau harus bisa bangkit berjuang. Berjuanglah kejar cita-citamu. Kakek yakin engkau dapat berubah dari sikap kemalasanmu. Juga kebiasaanmu mengkhayal yang tidak berguna, timpal kakeknya lagi. Dengan nada yang lebih tegas untuk meyakinkan cucunya.

Mengenai masa depan yang cerah itu tak terlepas dengan apa yang engkau lakukan saat ini. Ia ada dalam genggamanmu. Ada dalam pundakmu yang harus engkau pikul. Ada dalam hatimu yang harus engkau tekatkan. setiap orang pasti mengimpikan masa depan yang indah, bukan? Aku yakin engkau pun menginginkan demikian. Ataukah ada orang yang tidak mau masa depannya indah. Tentu tidak ada dan belum pernah aku dengar. Semua manusia dalam hati kecilnya pasti memimpikan masa depan yang bahagia. Merasakan lembutnya mengenakan jas dan sepatu fantovel yang lagi tren saat ini. Tapi itu tidak terlalu penting. Pastinya bahwa engkau menjadi orang sukses dan hidup bahagia. Untuk itu engkau harus bekerja keras, jujur, sabar dan tetap tabah dalam segala percobaan dan tantangan hidup ini. Karena hidup tidak mudah seperti engkau berkhayal. Kakek memberi cucunya petuah berapi-api di malam yang dingin itu.

Dikira sebuah kesia-siaan setiap malam Kakek berceloteh kepada cucunya. Di meja paling sudut ternyata cucunya berusaha mendengarkan dengan teliti setiap petuah yang diucapkan kakek. Dengan terus menundukkan kepala bukan berarti mengabaikannya, melainkan sedang menyelami lebih dalam butir-butir petuah kakek. Makna yang ditemukan luar biasa hebatnya. Kata-kata sederhana itu menyentuh jiwanya. Menumbuhkan niatnya. Petuah itu memiliki inspirasi tersendiri yang mampu menggugah hatinya untuk bangkit dari kerapuhan. Dan membuahkan tekad untuk berjuang dalam hidupnya. Tak ada kata menyerah ataupun kalah sebelum bertanding.

***

Nama cucu kakek dan nenek itu adalah Dul, sebuah nama yang baru Ia kenal ketika kakek dan nenek memanggilnya dengan sebutan Dul. Saat itu baru Ia tau bahwa namanya Dul bukan Joker Sopan nama samaran teman sekolahnya. Dul sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya ketika masih kecil. Mengenai rona wajah orang tuanya saja belum terpampang jelas di memorinya. Ia masih sangat kecil kala itu usianya baru tiga tahun. Hanya foto yang berjejer di dindinglah menjadi kenangan Dul akan kedua orang tuanya. Berdasarkan cerita kakek kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi masuk jurang dan tidak ada yang selamat dari peristiwa itu. Sejak peristiwa naas itu kakek dan neneklah yang merawat dan membesarkan si Dul hingga kini. Kakek dan nenek sendiri telah Dul anggap sebagai orang tuanya. Dul merasakan kasih sayang yang besar dari mereka. Layaknya kasih sayang ayah dan ibu kepada anaknya. Itulah secuil bingkisan kisah tentang si Dul. Cucu tercinta kakek dan nenek.

***

Syukurlah petuah yang disuguhkan Kakek setiap malam kepada Dul tidak sia-sia. Ia membuahkan hasil luar biasa. Sekarang Dul berubah sangat drastis dari kebiasaan lamanya. Ia menjadi seorang pekerja keras dan amat rajin. Petuah kakek itu tajam seperti belati yang berhasil memutuskan ikatan yang membelenggu si Dul selama ini. Dul kini telah menjadi manusia yang lebih baik. Ia memiliki lebih banyak waktu bersama Kakek dan Neneknya di rumah maupun di kebun. Ia sudah melepaskan kebiasaan lamanya.

Terkait kondisi ekonomi keluarga kakek yang boleh dikatakan masih jauh dari kata sejahtera. Sebenarnya bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk terus berjuang. Alhasil, mereka masih bisa mengatasinya. Memenuhi kebutuhan hidup keluarga juga biaya sekolah Dul yang sekarang berada di bangku SMA kelas tiga. Kakek membanting tulang mengolah hasil di kebun milik mereka yang kemudian dijual di pasar. Tak ada kata mengeluh dari cecap lidah mereka. Meskipun kakek dan nenek sudah tua tapi semangat kerja tak pernah pudar. Bahkan ia terus bergelora dalam dada mereka.

Dari hasil kebun itulah mereka bisa bertahan hidup. Kakek bekerja mengolah kebun hingga membuahkan hasil untuk nenek jual di pasar. Dul yang selalu setia membantu kakek dengan gerobak peninggalan ayahnya. Tugasnya mengangkut hasil kebun ke kampung. Jaraknya lumayan jauh melewati jalan yang tanjak dan berliku-liku. Menguras banyak tenaga mengucurkan peluh yang tak terhitung jumlahnya. Di hati kecilnya Dul memiliki tekat yang besar. Tetap bekerja keras dan selalu tabah telah menyatu dengan gelora jiwanya. Bingkisan petuah kakek yang selalu mengingatkannya. Selalu mengetuk pintu hati dan pikirannya jika Ia melalaikannya. Pekerjaan mengangkut hasil dari kebun Dul lakukan setiap hari sepulang sekolah. Biasanya sehabis makan siang, Ia meraih gerobak dan mendorongnya berjalan melewati tanjakan yang berliku-liku itu.  Menyusul kakek yang sedari pagi berada di kebun.

Hari-harinya Dul hanya gerobaklah yang selalu setia menjadi sahabat karibnya. Ia menjadi saksi bisu segala keluh kesahnya. Tapi Dul seorang yang tegar. Ia tak mau menyesali hidup ini yang seolah tak adil dengannya.  Dul juga sangat mencintai gerobak peninggalan ayahnya itu. Dia merawatnya penuh cinta. Menjaganya agar tetap stabil dengan kondisinya. Pernah beberapa kali gerobak itu harus masuk bengkel mengenai bannya yang selalu pecah. Bagaimana tidak? Jalan yang dilaluinya penuh batu-batu tajam. Dengan kejamnya ia mencabik-cabik layaknya singa mencabik tubuh lembut rusa yang ditangkapnya. Sungguh malang nasib gerobak itu tapi banyak jasanya bagi keluarga. Mungkin tanpanya Aku tak bisa sekolah. Menata masa depanku. Karena tak ada hasil kebun yang dapat dijual nenek di pasar, Dul menggerutu sembari menatap gerobaknya.

Peluh yang bercucuran akan dibalas senyum syahdu kala Dul melihat wajah Nenek kegirangan. Sebab semua dagangannya ludes terjual. Aroma rupiah dalam kantongnya tercium bahwa sekolahnya terus berlanjut. Karena sekolah tak gratis kawan. Sukses itu mahal butuh kerja keras. Tak hanya berkhayal dalam selimut yang lembut anda pun menjadi sukses.

Hari-hari bersama kakeknya di kebun memberinya banyak pengalaman berharga mulai dari bercocok taman, mencangkok tanaman juga mengawinkan vanili diketahuinya. Ia juga tahu banyak soal berkebun berkat kakek yang setia mengajarinya. Dul ternyata sangat ulet dalam hal berkebun. Ia begitu cepat memahaminya. Berkat kerja keras yang gigih. Mereka dapat menyisihkan sebagian uang untuk ditampung. Sehingga setelah tamat SMA, Dul dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi pada fakultas pertanian di kota. Sesuai cita-cita yang Ia telah selipkan dalam hatinya.

***

Petuah bukan perihal pilihan kata-kata mutiara. Ia bahkan lebih berarti dari rangkaian kata mutiara juga lebih mesra dari kata romantis. Pastinya adanya petuah itu mampu mengayuh perahu perjuangan kita menerobos lebih dalam. Menghadang ombak-ombak dahsyat yang datang menghempas dan menghancurkan. Menembusi batas-batas samudra. Menyingkap keterbatasan pola pikir dengan kerlap-kerlip penerangan. Dalam arti petuah itu mampu Menggugah semangat seseorang. Mampu memantik hasrat seseorang untuk berjuang.

Petuah kakek yang masih terngiang di kepala si Dul kini lebih manja dari rindu, lebih mesra dari peluk. Membuatnya terkesima. Menjadikan Dul seorang remaja yang rajin dan selalu bekerja keras. Ternyata petuah yang selalu kakek suguhkan kepada Dul setiap malam luar biasa mujarabnya. Dul menjadi seorang yang benar-benar diidamkan kakek dan neneknya.

Bermodalkan petuah kakek yang penuh inspirasi dan yang menggugah jiwa itu. Juga doa-doa kakek dan neneknya. Dul akhirnya berhasil menamatkan pendidikannya di salah satu fakultas pertanian di kota. Dan Ia menjadi seorang insinyur pertanian yang berkualitas.

Impian besar si Dul yang terselip di saku hatinya kini sudah tercapai. Peluh yang bercucuran melumat habis sekejur tubuhnya kini dibayar dengan ijazah kesuksesan. Perjuangan menghasilkan bahagia. Ia kini menyadari bahwa petuah kakek luar biasa mempengaruhinya. Tangisan haru si Dul pun pecah pada malam yang indah dalam rangkulan hangat kakek dan neneknya di kampung.

 

Nita, 3 Agustus 2020

Oleh: Yohanes Latrino Lele.

Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere-Flores

Komentar

Jangan Lewatkan