oleh

Rangkasbitung – Surabaya

-Puisi-299 views

SEBELUMNYA dokter sudah sarankan supaya Papa lebih banyak istirahat. Dokter bilang, sebaiknya Papa tidak perlu menonton berita di televisi atau lewat media lainnya, agar tensi Papa tidak tinggi. Namun, seperti kebiasaan Papa selama ini, berdiam diri akan membuat Papa lebih menderita lagi.

Sejak bertahun-tahun lalu, jika Papa sakit, ia hanya sanggup untuk beristirahat 1-2 hari saja, selebihnya Papa butuh untuk bertemu dengan teman-temannya. Anehnya, itulah obat yang mujarab bagi Papa. Mengikuti anjuran dokter untuk beristirahat lebih dari 3 hari, malah akan membuatnya stress. Hati yang gembira adalah obat! Bertemu teman-teman adalah obat baginya.

Kali ini sakit Papa jauh lebih serius, untuk berjalan 100-200 meter saja, Papa butuh istirahat. Untuk jalanan menanjak apalagi. Jantungnya memang sedikit bermasalah. Papa sudah pasang ring. Terakhir Papa butuh dipandu untuk berjalan ketika kami sekeluarga lakukan perjalanan ke Bandung.

Siska Rohi, cucu pertamanya menikah. Saat foto bersama Papa menangis. Sebelumnya, ketika memeluk dan mencium Siska, matanya sudah berkaca-kaca. Ternyata, itu pertemuan terakhir antara Papa Mama dan cucu pertama mereka.

Lalu seperti biasa, kami mengunjungi makam dan rumah Bosscha, sekalian melihat rumah lama di Pangalengan. Di sana, di jalanan pegunungan itu, Papa sering berhenti berjalan, beristirahat. Di Bandung, ketika menjenguk adik kandungnya, vulkanolog yang kakinya baru diamputasi akibat diabetes itu, Papa minta digandeng, berjalan sangat pelan, padahal jalanan datar.

Kembali ke Jakarta, Papa terlihat sangat kelelahan. Tak lebih dari sehari di Kalibata, Papa sudah kembali berpetualang. “Papa masih harus tuntaskan tulisan tentang Multatuli.”

Minggu, 13 Mei 2018, bom bunuh diri meledak di beberapa gereja di Surabaya. Papa panik!

Berita simpang siur, televisi sebagai sumber utama informasi berebut sebagai yang paling pertama mengabarkan, sekalipun informasinya tidak akurat.

Kata Mama, Papa menelpon puluhan kali hari itu, sejak pagi hingga malam. Seolah Surabaya, tempat Mama dan Taga (anak bungsu) tinggal, sedang kiamat. Mama berusaha menenangkan Papa, tapi tak berhasil. Subuh, 14 Mei 2018, Papa tak bisa bergerak, Papa dilarikan ke Rumah Sakit Adjidarmo, Rangkasbitung.

Papa terserang stroke! Kaki dan tangan kanannya lumpuh. Lidahnya kelu. Papa tak bisa bicara sejak saat itu.

Kakak perempuan yang di Banten jadi yang pertama meluncur ke RSUD tersebut. Mengurus semua hal, menginap di RS, meninggalkan Efrata, bayinya di rumah. Saya menyusul keesokan harinya dari Jakarta. Sejak saat itu, setiap hari saya melakukan perjalanan Kalibata-Senayan-Rangkasbitung-Kalibata, dari pagi hingga dinihari.

Mama datang membawa banyak perbekalan dari Surabaya, ia tahu bahwa ia akan lama tinggal di RSUD. Saat itu bulan puasa, dan pembukaan Piala Dunia. Momen yang harusnya tak dilewatkan Papa.

Meski keadaan Papa buruk, Mama tetap yakin Papa bisa disembuhkan. “Kalau Tuhan menghendaki Papa sembuh, Papa akan sembuh, apapun kata dokter,” katanya optimis. Pagi, siang, sore, dan malam, Mama berdoa, kadang Mama berdoa sambil menangis, meminta berkat, juga pengampunan. “Jika sakit penyakit ini karena dosa hamba dan suami, ampunilah kami,” doa Mama tiap hari.

Kenyataan berkata lain

Minggu, 17 Juni 2018, Mama tumbang, kelelahan urus Papa sendirian. Mama menjalani rawat inap di lantai yang sama, bersebelahan ruang dengan Papa. Hari yang sama, saya ambruk, diantar istri ke IGD RSI Jemursari Surabaya. Kakak perempuan pulang karena sakit, ia sendiri harus mondar-mandir antara urus orang tua dan urus anak-anaknya. Lima enam jam saban hari ia lakukan perjalanan.

Agustus 2018 Papa sudah boleh dipindahkan, Taga bawa Papa Mama pulang Surabaya. Keadaan sempat membaik, meski Papa tetap tak dapat lakukan pekerjaan apapun, bahkan sekadar duduk dan bicara. Banyak agenda, banyak keinginannya terhenti total sejak bom gereja meledak di Surabaya.

22 Januari 2019, Mama yang selalu optimis itu, kali ini tumbang untuk selamanya. Jerih lelah Mama diangkat oleh Tuhan. Sejak Mama meninggal, kondisi Papa semakin menurun, seakan kehilangan semangatnya. Jiwanya yang kuat, runtuh seketika, saat ditinggal Mama.

Maut sempat memisahkan Mama dari Papa, selama lima bulan lamanya, tapi cinta mereka lebih kuat. Cinta telah menang, mengalahkan maut yang memisahkan mereka. Bapa di sorga kini telah mempertemukan mereka berdua kembali. Kali ini dalam kekekalan sorgawi.

 

Moskow, 19 Juni 2020
Sembilan hari setelah kematian Peter A Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan