oleh

Samudra Stigma Corona

-Puisi-453 views

Saat George Soros membencanakan dunia dengan meluluhlantakan moneter, masyarakat dan rakyat kecil tidak merasakan ada penderitaan ekonomi. Tidak merasakan stigma.

Namun saat Corona membencanakan dunia, semua ruang dan tempat diluluhlantahkan oleh ukiran wajah Covid-19. Ini membuat orang terisolasi dan terbuang dari rumah mereka sendiri, dari keluarga, dari lingkungan. Corona lebih membumisuburkan stigma.

Sampai ke kampung-kampung orang-orang terus saling menghakimi. Menghakimi perantau yang pulang rumah. Padahal rumah ke dua mereka di tanah rantau telah dirampas oleh ketiadaan asupan pangan, karena dirumahkan dari pekerjaan.

Menghakimi dengan bisik-bisik tetangga rumah, tetangga lingkungan sampai tetangga kampung dengan penolakan oleh ketakutan berlebihan.

Kita seperti menakar samudra, dengan hanya melihat butiran-butiran buihnya!

Menilai semua orang dengan penghakiman kegalauan persepsi pembawa wabah, sama dengan menyalahkan musim yang melakukan pergiliran antara barat dan timur, atau basah dan kemarau.

Kalau corona adalah samudra bencana, mestinya kita menunggu dengan harap pada air pasang, agar butiran-butiran buih bencana itu meredah hilang ditelan birunya samudra.

Maka ketika buih-buih bencana mulai surut, mestinya stigma kehidupan yang tidak manusiawi tidak harus terus digeloragelombangkan.

Mestinya, kita juga memandang bencana ini seperti menikmati musim-musim yang berganti. Pada musim hujan, kita tidak harus terus menstigmakan bencana banjir, tetapi menyandarkan hidup kita pada harapan tanah-tanah basah.

Juga pada musim kemarau, kita juga tidak perlu harus terus menstigmakan bencana kekeringan, tetapi tersenyum pada datangnya kantuk oleh teduh sejuk dinginnya malam.

 

Oleh: Marsel Tupen Masan

Komentar

Jangan Lewatkan