oleh

Serpihan Tanah Timor

-Puisi-526 views

Dikala senja berpamitan mesra dalam sinar kemilau Danau Kelimutu

Bagai Menebar Pesona dalam tegaknya Patung Soekarno Hatta

Bertamu dalam rembulan dengan balutan sarung tais dan genggaman tari likurai

Memamerkan kulit eksotis dan berlari kecil dihamparan pantai Nembrala

Suguhan manis cairnya gula Sabu dengan rapihnya tertata pinang dalam oko mama

Penyambut senja dengan senandung Flobamora iringan sasando pada bibir pantai

Berlari kecil ketika sorak mama menyuruh pulang balik pada gubuk reot

Dasyatnya kepingan cerita ketika mendengar kisah dari sudut bibir petuah

Dengan balutan kulit hitam bermata coklat, bagai bangsa Barat bertamu menyaksikan manisnya senyum anak Timor

Menghipnotis mata agar selalu terpaku dan menjalin asmara di tanah Timor

Sejuk tenang ketika malam datang dengan rembulan terang

Merajut harapan dengan lensa yang terus melirik derita anak Timor yang meratap pada pelosok dan nyeri yang menusuk batin

Desusan cairnya bantuan yang tak pernah sampai pada garis tangan anak

Pelosok berharap bersekolah setinggi rembulan agar mengangkat derajat anak kampung

Selalu bersandiwara dengan senyum manis ketika perih selalu mencekam

Liputan media sosial yang selalu menganggap bahwa ini hanyalah penghuni berhitam putih

Jemari yang terus menari diatas lantunan senar sasando dengan membanggakan Flobamora

Memaksa membuka mata para donatur agar tak hanya menganggap remeh

Harapan yang terus menjadi harapan

Ingin memutar lensa pejabat agar memperhatikan secerca harapan yang terus berkumandang

Berlari sekuat roda memutar dengan berharap, suatu saat akan berdiri menjadi seorang presiden

Dengan pengungkapan ingin maju dari mulut yang selalu membisu takut berbicara

Terima Kasih karena telah mengajarkan kami menjadi kuat

Membentuk hati sekuat baja

Dan berdiri tegak tanpa ada harapan untuk bisa mendapat lirihnya bantuan

Menentang dengan semangat tinggi untuk menjamu pada rasa kekeluargaan

Terima Kasih
Kamu Hebat

 

Oleh : Clara Mbulu
Penulis adalah Siswa SMA Katolik Giovanni Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan