oleh

Siapa itu Anselmus Wora?

-Puisi-8.274 views

Andaikan aku tahu, akan kisah almarhum Ansel, secara jujur dan sesuai fakta, akan dapat aku bercerita secara lugas dan terbuka akan kisah yang terajut dalam kepekaan permainan drama kejam ini.

Andai aku dapat bercerita tentang polamu melakoni permainan ini, aku dapat berkisah, menulis cerita indah dengan narasi hukum menyeretmu ke jeruji besi, sebagai akibat yang kau bangun dalam riak rekonstruksi bungkus bungkam, penuh intrik ini.

Andaikan Kau berada di antara aku, tidak perlu jadi aku, dengan sekian teriakan kesedihan, duka lara, kesulitan dan rindu ingin istri dan anak tanpa ayah, walau upah sopir tidak sama dengan sebutan eselonaring lainnya, aahh tidak .

Kau rasakan dalam jiwamu, derita tekanan batin yang akhir-akhir ini selalu menghantuimu, kau senyum tapi sedang tidak bahagia, kau tidur tapi bayangan ketakutan menjepit mimpi indahmu. Napas hidup yang kau tarik tidak selega O2 kehidupan, seperti asap gerbong kereta zaman Orla.

Coba kau lihat banyak yang menyoroti kisah ini, banyak yang peduli tentang misteri ini, beribu jiwa mengharapkan segera ungkap tuntas, jutaan mata memandang kenapa yang sederhana di buat sulit, kenapa kau tutup tutupi dan supaya apa?

Di saat banyak meneruskan aksi kemanusiaan sebagai pilihan untuk mengungkap kelambanan proses, justru di balik ketidak nyamanan disana yang membuat aklak insani sulit dicerna. Katanya aku tidak tau, walau aku tidak tapi kenapa aku diam, terus ketika disentil menjadi sensi, aahh ini “Pola Permainan”.

Iya dan lagi ini permainan, sejauh mana napasmu. Sadis.

Cerita dan cerita merenda sederetan nama terkubur tanpa terungkap. Katanya ini strategi kekinian, membungkam, bungkus, kewenangan dan jabatan menjadi taruhan, walau nyawa tak berdaya tergeletak kaku, di buka dari kubur untuk tujuan ungkap, tetapi janjimu itu tinggal janji, bahasamu manis tetapi penuh strategi licik membentengi diri.

Kisah ini sial benar. Mau diam nanti dibilang apatis, terus-terus begini kita tetap diam sampai kita dibilang membiarkan perbuatan?

Ah sudahlah ini waktu untuk kita buka. Caranya terbukalah.

Teriakan GARDA NTT dalam aksinya ANSELMUS WORA adalah kita, aksi kemanusiaan di Ende SAVE ANSEL’, Gerakan PMKRI Kupang dengan sorotan kerja profesional. Catatan kritis dalam tajuk opini Pater Stef Tupen Witin, dan ulasan lugas kritis dua episode Kae Antonius Tonggo, menjadikan publik bertanya, siapa itu Ansel?

Yang kita semua tau adalah Ansel adalah anak manusia yang layak hidup selayaknya kita hari ini, ciptaan Tuhan yang pada waktunya akan kembali ke Tuhan pula, tetapi bukan dengan cara seperti ini membuat kita terus bertanya pola jurnalistik 5W 1H. Sungguh kejam.

Apakah Ansel ada kaitan dengan politik. Tentu tidak dia bukan politisi atau nimbrung, minimal serempet dengan politikpun tentu juga tidak?

Apakah Ansel ada kaitan dengan kebijakan korupsi persoalan kantor? Tentunya juga tidak, dia sopir biasa siap perintah dan siap salah untuk antar cepat dan terlambat?

Apakah Ansel ada persoalan pribadi, juga tidak. Sosok pendiam, irit bahasa, menebar senyum ramah, miskin belum punya rumah pribadi, hanya tau berbaik dengan siapapun, sejak masih bawa mobil dlm kota, DAMRI, mobil dinas kadis dan mobil sekolah.

Terus siapa itu Ansel sehingga kasus ini seperti ada tembok besar yang menghalangi prosesnya?

Dalam aksi kemanusiaan di Ende Kapolres Ende dengan tegas mengatakan, kami masih tunggu hasil outopsi, outopsi pun berjalan lambat hampir 52 hari baru ada hasilnya. Setelah ada hasil outopsi Polres Ende seakan tak berdaya dan menyerahkan atau diambil alih dengan tim Polda NTT.

Nasib tim penyidik Polda NTT belum tahu seperti apa, seakan ribuan lembar yang harus dibaca dan ditandatangani, sehingga harus menunggu berminggu-minggu untuk dilanjutkan.

Akhirnya kita jadi bertanya-tanya siapa Ansel ini?

 

Oleh: Maksi Mari, Aktivis Kemanusiaan

Komentar