oleh

Abu Simbol Kefanaan

Abu. Debu. Tanah. Simbol kefanaan. Kerapuhan. Keringkihan. Keterbatasan. Ketakberdayaan. Asal keterciptaan manusia.

Maka manusia itu fana, rapuh, ringkih, terbatas, tak berdaya, di hadapan kekekalan dan kemahakuasaan Tuhan Pencipta.

Abu dan manusia yang rapuh. Berkubang dalam kejahatan dan kesalahan. Berlepotan lumpur dosa. Berlumur debu kekilafan.

Jatuh, bangun, silih berganti. Hari ini kuat, besok rapuh. Hari ini berdiri tegak, besok tumbang. Hari ini bersih, besok berdebu.

Abu, pengingat ketidaksempurnaan. “Ingatlah engkau ini debu, dan akan kembali menjadi debu.” Pengingat ini menyadarkan diri untuk rendah hati, mawas diri, dan bertobat.

“Hanya debulah aku” adalah ungkapan kesadaran diri akan keterbatasan di hadapan Yang Tak Terbatas. Akan kefanaan di hadapan Yang Mahakekal. Akan keberdosaan di hadapan Yang Mahasuci.

Abu itu penanda jiwa yang remuk redam oleh dosa. Abu itu penanda tobat yang bertumbuh dari kesadaran akan dosa dan kesalahan.

Abu itu sebuah ajakan untuk berani berbenah diri. Berani melepas balok di mata sendiri, ketimbang sibuk melihat selumbar di mata sesama.

Abu itu penanda mawas diri, bahwa sifat sombong, serakah, dengki, dendam, egois, tak berguna sedikitpun di depan Keadilan Ilahi.

Maka rendah hati, murah hati, tahu diri, memaafkan, mengampuni, memahami, rela berkorban, peduli, solider, adalah hal-hal yang menggugah Kerahiman Ilahi.

Kita ini cuma debu. Maka tak ada gunanya debu melecehkan debu. Mari bertobat.

 

Oleh: Romo Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan