oleh

Ada Yang Terus Bergerak di Rumah Ini

-Puisi-718 views

(Untuk 100 Hari Kepergian Bapak)

Tersirat angin yang berhembus malam itu

Kala malam tertidur pulas,

Halom langit berkumpul menyanyikan syair pulang

Senin, 23 November 2020 tepat pukul 02:05am

Tangisan kaka terdengar di lorong rumah sakit,

Menyambut hari-hari pedih, dalam sunyi yang menampar hati.

Wangimu yang kini bersanding dalam ingatan

Seperti fana yang menghibur.

Tatap-tatap merah berteriak

Mengapa pergi?

Apakah kini kau ajarkan kami arti luka?

Namun kau terlelap dengan sendu,

Debu selimutmu, gelap menjadi teman.

November jatuh dipelukku, aku merengek pada Tuhan.

Tuhan, dia yang kau titipikan padaku, belum usai menyaksikan togaku,

Beras yang dia minta dibersihkan, ibu dengan tangannya lelah menapis tuntas.

Dan bapak pergi memburamkan jejak,

Diam-diam nafasmu pergi diantar doa kaka pada salib di dadanya.

Di balik jendela jutaan aksara pergi meninggalkan arti

Bertelut resah dititan kasih yang hampa

Setiap malam beralaskan sepi, dan aku tertidur menggenggam sunyi

Bapak, betapa rapuh tulang-tulang disembunyikan oleh waktu

Ada yang terus bergerak di rumah ini

Setiap jejak, panggilan khas, kini luruh ditelan rahsa Khalik.

Katanya tidak ada yang abadi, baik bahagia maupun sedih

Suatu saat kita akan bahagia atas rasa sedih

Dan menangisi rasa bahagia yang dahulu.

Benarkah?

Setelah bapa pergi aku hanya berpikir

Ini hidup seperti hanya untuk menahan air mata

Dan hanya bertanya dalam doa,

Bisakah seorang laki-laki menangis walau hanya dalam doa?

Tak ada jawaban, rinduku disematkan dalam doa

Banyak cara meneduhkan rindu.

Pergilah dengan tenang,

Surga memang terlalu indah sampai kami kau tinggalkan.

Ikhlas.

 

Oleh: Sensi Tri Putra Day

Prestasi penulis: Juara 1 Musikalisasi puisi Tingkat Mahasiswa/I Se-Kota Kupang, Urutan 16 Loma Puisi Tingkat Nasional Tema Ibu Tahun 2020, Harapan II Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2019.

Komentar

Jangan Lewatkan