oleh

Di Puncak Watuzape

-Puisi-158 views

Di puncak Watuzape, angin berhembus santai, menggoyang pelan daun, rumput dahan pohon dan segala yang ia temui. Udara terbuka cerah, memeluk segala rindu yang tumpah. Namun yang pasti tidak semua ia jawab.

Wajahmu kembali terbayang saat rambut gadis itu bertaburan memenuhi pundak. Beberapa helai mengurung wajahnya. Matanya kecil menampung segala yang dilihatnya. Di sana ada aku yang sedang asik menghitung gugusan pulau di utara Flores. Ini adalah rindu yang belum genap.

Melihat gadis itu adalah melihat senyummu yang teduh. Di sana ada setia yang harus terus dijaga walau mata enggan berpaling. Melihat gadis itu adalah melihatmu. Tak ada yang perlu didebatkan, sebab telah kita ikat dalam sepakat, apa yang telah kita tambat dalam hati.

Melihat gadis itu adalah ketidaksengajaan pada tempat yang sengaja. Kau harus tahu, angin yang kencang masih ada batu yang kokoh menolak digoyang.

Melihat gadis itu adalah usaha untuk menata hati. Dengan jujur mengingatmu yang tetap setia. Dan setia mengingatmu yang jujur dengan segala cemburu.

Pertemuan ini bukanlah sebuah rencana, tetapi menggoda. Maka kau harus tahu, mencintaimu memerlukan banyak ketidaksengajaan yang ‘aduhai’ untuk tetap merindukanmu dalam segala bunyi dan sunyi.

 

Riung, 28 Maret 2021

Oleh: Nius Manimau

Komentar

Jangan Lewatkan