oleh

Habis Manis Sepah Dibuang

-Puisi-180 views

Habis manis sepah dibuang. Peribahasa ini masih relevan. Berbicara tentang kenyataan hidup manusia aktual. Terjadi dalam semua lini dan tatanan. Pola relasi yang memanfaatkan lalu membuang. Selama masih manis, dimanfaatkan. Setelah manis hilang, dibuang.

Pola relasi ini jelas tidak manusiawi. Ada eksploitasi. Ada sikap memperalat sesama. Ada pemerasan. Setelah selesai dikeruk, dibuang. Tidak digubris. Tidak diperhatikan. Tidak dihargai. Betul-betul dianggap sampah. Sepah yang dibuang.

Teringat akan pengalaman masa kecil. Makan tebu. Isap air gulanya. Ampasnya dibuang. Itulah habis manis sepah dibuang. Dalam kaitan dengan kehidupan bersama, terjadi pula habis manis sepah dibuang. Seperti yang sudah diutarakan tadi.

Mirisnya, dilakukan oleh pengikut Kristus. Entah pengikut secara umum, maupun secara khusus. Padahal mulut selalu berbusa saat bicara injil. Saat mengulas cinta kasih. Juga saat berdoa dengan khusuk dan terlihat saleh. Tapi pemerasan jalan terus.

Eksploitasi jalan terus. Memperalat jalan terus. Sampai saatnya kemanisan dikeruk habis. Lalu dibuang. Disingkirkan dengan pelbagai alasan rasionalisasi. Begitulah kehidupan yang penuh dengan drama. Sandiwara multi episode. Selama belum ada pertobatan internal.

Habis manis sepah dibuang. Kisah pilu orang-orang kalah. Kalah bukan karena salah. Kalah karena lemah, dan dilemahkan. Tak ada bargaining power. Tak ada uang. Tak ada kuasa. Tak ada konspirasi. Hanya ada hati yang jujur, tulus, sederhana, apa adanya. Siapa mau help? Hanya Tuhan yang tahu.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar