oleh

Renatha, Pada Kepalan Tanganmu Kutitipkan Doa

-Puisi-226 views

“Tulisan ini hanyalah sebuah karya hasil imajinasi, apabila ada kesamaan nama, dan tempat, itu hanyalah sebuah kemungkinan. Semoga tulisan Berupa Cerpen ini bisa menghibur pembaca. Selamat menikmati. Ditulis oleh Gund Ndarung.”

Renata, begitu ia kerap disapa oleh salah seorang ibu yang sering ku jumpai setiap kali ku lewat di Lapak reyot di bahu jalan sepanjang jalur menuju pusat perkantoran kabupatenku.

Tak jauh dari pusat perkantoran, Renatha selalu ku jumpai disaat menjajaki barang dagangannya di lesehan yang kerap menjadi pusat belanja para pegawai kantor sepulang bekerja.

Siang itu, sebagai pegawai kantor yang baru lulus PNS pada tahun kemarin, terkadang saya membiasakan diri membeli kebutuhan hari hari seperti sayur-mayur dan ubi-ubian di penjual lokal di sepanjang jalan itu. Biasa, sebagai pekerja di kantor pemerintahan, pegawai harus bisa mendukung UKM untuk mendukung ekonomi masyarakat.

Tepatnya di lapak kedua dari bagian barat, beratapkan alang- alang, beralaskan pelepa bambu, terdapat banyak jenis sayuran dan buah- buahan. Sepeda motor kuhentikan tepat di depannya, dari jarak dekat, aku menatapnya dengan curi. Ya biasa, sebagai lelaki normal, mengagumkan seseorang gadis itu sangatlah wajar.

Aku jatuh dalam lamunanku, seakan aku perlahan masuk dalam alam hayal yang penghuninya hanya aku dan dia. Aku terperangkap oleh parasnya yang begitu memanjakan hati dan mata.

”Om belanja apa?,” Suara lembutnya menyapa aku, sembari menawarkan barang dagangannya.

“Om mau beli apa?,” Tanyanya dengan nada datar.

“Ah… Kenapa begini?, Aku terlalu melamun, memang tidak salah juga dia terlalu manis, siapa namanya?,” Monologku dalam hati membongkar situasi lamunanku.

“Maaf dik, aku kurang dengar. Sebab masih ada yang belum beres dengan pekerjaanku di kantor tadi, dan baru aku ingat,” bantahku, agar tidak ketahuan bahwa dia adalah obyek yang masih terlintas dalam hati dan pikiranku.

Singkat cerita, belanja pun sudah usai, gadis yang tadi masih meninggalkanku sebentar untuk menukar uang kembalian.

Lamunanku kembali merajai seluruh ruang imajinasiku. Sungguh merasukiku. Dari samping kananku, dia berdiri, sembari memanggil perhatianku untuk memberikan uang kembalian.

“Om, ini uang kembaliannya,” ujar gadis belia berambut ikal itu sembari menyodorkan uang kembalian.

“Makasih, dik, permisi ya,” lanjutku sembari membalikan badan menuju sepeda motorku.

Memang kejadian seperti itu sungguh menyita perhatian dan waktu, dan sebagai lelaki tentu sangat wajar. Kisah singkat bertemu gadis belia seperti pedagang tadi mungkin baru pertama kali setelah kepergian kekasihku yang meninggal karena sakit komplikasi, seminggu sebelum rencana pertunangan, dua tahun silam.

Aku sedikit trauma dengan hal seperti itu. Aku takut hal itu akan terjadi kedua kalinya. Tuhan bantu aku agar tidak jatuh cinta pada wanita yang salah.

Selang seminggu, sebagai seorang penggemar ubi, aku terbiasa untuk berhenti di tempat berdagangnya Gadis belia yang sangat memukau itu. Aku disambut senyum manis, oleh Gadis itu.

”Om belanja apa?,” tuturnya sembari melemparkan senyumannya menjemputku ramah.

“Maaf non, aku bukan om, aku masih muda. Usiaku baru 28 tahun. Masih jomblo lagi,” terangku memberanikan diri, biar tidak terulang dipanggil Om (dalam hati sambil tersenyum).

Tak sabar aku, kuajukan tanganku, tuk berjabat sebagai perkenalan awal, dan dia juga. Dalam keadaan berjabat, sebagai perkenalan awal, rasanya seperti keringat dingin. Seakan jantung hampir copot, getaran senyum membahasakan aura jatuh cinta sudah semakin membludak, ah aku jatuh cinta.

Namaku Renatha, usia baru 25 tahun, selama ini menjalankan kuliah Daring, saya kuliah di salah satu kampus di Jogja, begitu ia menceritakan kepadaku. Aku juga merasa salut dan mengaguminya, dia mahasiswa dan tidak gengsi untuk berjualan.

“Namaku Ephos, ia begitu aku kerap disapa. Ephos. Di sini aku bekerja di salah satu kantor di ibukota. Aku berasal dari salah satu kecamatan yang kerap orang mengatakan nerakanya kabupaten ini, namanya Elsel. Namun, kami sudah lama tinggal di pusat kota,” ungkapku melanjuti perbincangan sore itu.

Rupanya berat sekali untuk melepaskan jabatan tangannya sore itu. Hasrat ingin memilikinya semakin menggunung. Dia sungguh membuatku tidak takut lagi jatuh cinta pada kesempatan kedua. Sebelum beranjak pulang, setelah berbelanja, aku sudah meminta tukaran nomor WhatsApp. biar komunikasinya lancar.

Beberapa hari terakhir, Renatha sudah menjadi pusat perhatianku. Antara tugas kantor dan Renatha adalah kedua obyek yang selalu menguasai segala ruang pikiranku.

Setelah melalui tahapan komunikasi panjang lebar memakan waktu yang cukup panjang, hingga tiba saatnya Renatha resmi menjadi kekasih aku. “Terima kasih Tuhan. Kasihmu luar biasa.

Hampir dua bulan usia pacaran kami jalani. Perasaan saling memiliki dan mencintai semakin bertumbuh seiring berjalannya waktu. Sungguh, aku sebagai lelaki yang sangat beruntung mendapatkan cintanya.

Siang itu, masih berhadapan dengan kepenatan kesibukan sehari-hari sebagai pegawai kantor, sedang membereskan beberapa berkas penting, tiba- tiba hp berbunyi bertanda pesan WhatsApp masuk.

“Siang Kak Ephos, maaf, informasi sangat mendadak. Hari ini saya segera ke Jogja untuk keperluan kuliah. Semoga bulan depan jadi wisuda. Untuk urusan itu, semua kami mahasiswa semester delapan harus ke kampus,” tulisnya dalam pesan singkat.

Kesibukanku kembali semula, tentu Renatha juga menjadi satu-satunya hal yang membuat kuras tenaga dan pikiran. Saking sibuk dengan pekerjaanku, hingga aku tak sadar, Renatha sudah seminggu pergi untuk mengejar cita-citanya yaitu ingin menjadi seorang sarjana.

Hampir dua Minggu, menjelang akhir tahun, hampir semua OPD di lingkup pemerintah kabupaten itu sangat sibuk. Aku pun tak jarang pulang malam sebagai bentuk loyalitas terhadap pekerjaan, sampai sampai, lupa menanyakan kabar sang pujaan hati, Renatha.

Hari terakhir bulan itu, kukembali mampir tuk menanyakan kabar ibu tempat kutemui Renatha dilesehan sebelumnya. Tempat jualan itu kutemui, tapi tak seorangpun disana, ibu Renatha yang dulu jualan tak kutemukan disana.

Batin semakin tak karuan, rupanya sangat tidak tenang. Jutaan pertanyaan hadir silih berganti merongrong isi pikiran. Dimanakah mereka ini?

Aku langsung menanyakan pedagang yang bersebelahan dengan tempat Ibu Renatha berjualan, merekapun tak memberiku informasi apapun tentang keluarga Renatha.

Gelisah, merana, sedih bercampur baur dengan rasa bingung. Semakin tak betah pun aku pada saat itu. Dalam hatiku, aku harus tahu mereka dimana. Berulang-ulang menghubungi nomor kontak, semuanya sama saja, tidak aktif. Aku hampir putus asa.

Hari itu, tepat hari ulang tahunku, tentang kegembiraan merayakan hari ulang tahun sangat jauh dariku saat itu. Nomor baru meneleponku, dalam benakku, itu sumber informasi berkaitan pekerjaan yang semakin menumpuk. Hampir enggan mengangkat telepon. Dengan terpaksa dipenuhi rasa capek dan jengkel, aku menerima telepon.

Siang kak, saya teman sekos dengan Renatha, orang tua Renatha ada di Jogja, Renatha sedang dalam keadaan Kritis di ruangan ICU,” tutur penelpon dengan dialeg khas kemanggaraiannya.

Lanjutku dengan sedih dan penuh takut,” Renatha kenapa? Dia sakit apa?,”

Rasanya berat sekali mendengar kabar itu. Ku minta untuk melanjutkan pembicaraan degan orang tua Renatha yang pada saat itu dekat dengan penelpon.

“Nak ini mamanya Renatha, informasi dari dokter, dia terpapar Covid-19. Sedang menjalani perawatan. Nak tolong bantu doakan,” tutur ibu Renatha dengan suara putus-putus.

Tuhan, mengapa harus seperti ini? Kenapa hal ini terjadi dengannya? Ah aku semakin takut dan selalu membayangi semua kejadian yang membuatku trauma.

Keseharianku kuhabiskan dengan menangis, kuserahkan semua itu kepada sang pemilik kehidupan, hanya doa yang mampu aku haturkan. Aku tak sanggup Tuhan, tolong jaga Renatha. Aku takut kehilangannya.

Komentar

Jangan Lewatkan