oleh

Raja Yang Berbelaskasih

Renungan, Minggu 24 November 2019

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Hari Raya ini menjadi akhir atau puncak seluruh tahun Liturgi. Seluruh tahun liturgi dimaksudkan untuk merayakan misteri kehidupan Kristus. Di dalam perayaan-perayaan liturgi sepanjang tahun kita dimasukkan ke dalam misteri karya penebusan Kristus. Untuk menyelamatkan kita semua.

Krisus sebagai Raja keturunan Daud dalam bacaan pertama dan Kristus sebagai Putera Allah yang menampakkan gambar Allah yang tidak kelihatan dalam bacaan kedua ternyata adalah Raja yang menderita sengsara dan mati di kayu salib dan Raja yang berbelas kasih. Mari kita belajar dari penjahat yang baik yang mengakui kesalahannya dan mohon belas kasih dari Yesus. Ketika banyak orang menghujat Yesus, bahkan penjahat yang disalibkan bersama Dia juga berani ikut menghujat. Penjahat yang bertobat itu menunjukkan sikap yang seharusnya menjadi sikap setiap manusia.

Pertama, ia menegur sesama penjahat yang dihukum salib dengan mengakui kesalahannya,”Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedangkan engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita.” Kata–kata penjahat yang bertobat itu adalah ungkapan bahwa ia mengakui kesalahannya dan menerima bahwa hukuman itu sudah sepadan dengan perbuatannya. Saat itu ia dengan rendah hati mengakui dosanya.

Kedua, ia membandingkan dirinya dengan Yesus yang juga dihukum di kayu salib dengan berkata,”tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Dia mengerti dan mengakui bahwa hukuman terhadap Yesus itu tidak adil. Yesus tidak selayaknya menerima hukuman itu. Ia mengagumi Yesus dan tidak ikut-ikutan menghojat Dia.

Ketiga, penjahat yang bertobat itu akhirnya mengakui Yesus sebagai raja. Ia percaya kepada Yesus dan memohon belaskasih-Nya,”Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau datang sebagai Raja!” Inilah permohonan yang menyelamatkan jiwanya; menyebabkan semua dosanya diampuni pada menit terakhir hidupnya. Yesus mengucapkan Sabda pengampunan-Nya dan menunjukkan belas kasih-Nya dengan berkata,”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus.”

Penjahat yang bertobat itu sungguh beruntung bisa mendapatkan pengampunan dari Yesus sendiri pada saat–saat terakhir hidupnya dan ia mendapatkan keselamatan di Firdaus. Yesus pernah bersabda, “Apa gunanya manusia memperoleh seluruh dunia kalau ia kehilangan nyawanya? Apa yang bisa mengganti nyawanya?”

 

(Oleh: Pastor Albertus Sujoko, MSC)

Komentar