oleh

Adakah Sukacita di Hatimu?

-Rohani-396 views

Hari ini Gereja memasuki hari Minggu Adven III atau seringkali disebut sebagai Minggu Gaudete (=Sukacita). Itu berarti penantian akan kedatangan Sang Juruselamat hampir tiba. Kesempatan untuk bersukacita di hari ini tidak hanya karena sebuah euphoria semata, melainkan karena iman akan kelahiran Kristus semakin diperteguh dan diperkuat sebagaimana dilantangkan dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini.

Dalam bacaan pertama, umat Israel yang kembali dari tawanan di Babilonia dikuatkan oleh pewartaan Nabi Yesaya. Mereka kembali bergembira dan bergairah untuk hidup kembali karena berita sukacita itu. Roh Allah yang menggerakkan lewat kabar baik yang disuarakan Yesaya sungguh-sungguh mengubah dukacita menjadi sukacita.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua mengajak kita sebagai orang Kristiani agar menjadi manusia yang gembira, mampu bersaksi dalam doa dan memiliki rasa syukur (1Tes. 5:16). Bergembira berarti menyadari akan nilai diri kita sebagai putera-puteri kesayangan Bapa dan akan rahmat yang dianugerahkan-Nya bagi kita. Berdoa berarti menyadari kebaikan Bapa yang melimpah terhadap kita dan dengan itu kita tetap menjalin relasi yang mesra dengan-Nya dalam doa. Sedangkan bersyukur berarti kita menyadari titik puncak dari kehidupan kristiani.

Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini sungguh-sungguh memperlihatkan sikap dewasa sebagai orang Kristiani. Melalui kesaksian Yohanes, kita dapat melihat bahwa ia menyadari tugasnya hanyalah sebagai pewarta kabar gembira bukan sebagai pusat kegembiraan itu sendiri. Yohanes tahu betul bahwa ia hanya mempersiapkan jalan bagi Sang Kegembiraan itu.

Dari bacaan-bacaan suci hari ini, ada tiga hal penting yang perlu juga kita sadari sebagai orang kristiani di masa persiapan ini. Pertama, kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang mampu bersukacita. Sukacita itu mesti menjadi nada dasar dalam bertutur, bertindak dan bersikap setiap hari.

Kedua, kita diajak untuk mampu berbagi sukacita. Sukacita yang kita miliki tidak hanya menjadi luapan emosi personal, melainkan juga menjadi luapan emosi komunal. Aura sukacita itu mesti nampak dalam kehidupan bersama orang lain.

Ketiga, sukacita itu mesti lahir dari iman. Artinya bahwa sukacita itu harus terarah dan terfokus pada Sang Kegembiraan itu sendiri. Dengan demikian, seluruh sukacita yang kita miliki akan menjadi paripurna ketika kita yakini dengan iman bahwa Kristus Yesus yang dinanti-nantikan itulah alasan utama kita bersukacita.

 

Oleh: Fr. Ray Legio Angelo Lolowang

Komentar

Jangan Lewatkan