oleh

Hidup Dalam Genggaman Sang Khalik Semesta

-Rohani-195 views

Mendengar kata bersungut-sungut kita akan segera ingat keberadaan Bangsa Israel yang terkenal dengan sifat ini. Padahal mereka berjalan dalam lindungan Tuhan secara langsung, mengalami sendiri bagaimana Tuhan menyertai mereka secara nyata.

Namun tetap saja ketika situasi menjadi sulit, mereka pun dengan mudah mengeluh. Setiap menghadapi kesulitan atau masalah mereka tidak pernah mengoreksi diri terlebih dahulu sebab-musababnya, melainkan langsung menyalahkan orang lain dan bersungut-sungut.

Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”  (Keluaran 16:3).

Mereka menyalahkan Musa, menyalahkan keadaan dan selalu membanding-bandingkan dengan keadaan sebelumnya.  Melihat apa yang diperbuat oleh bangsa Israel ini Tuhan menjadi sangat marah sehingga mereka harus langsung menanggung akibatnya:  mati dipagut ular, dibinasakan oleh Malaikat maut, dan puncaknya gagal memasuki Tanah Perjanjian.

Mereka bersungut-sungut karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan, ketika mendapat masalah dalam hidup, ketika merasa mendapat perlakuan tidak baik juga ketika ditimpa beban berat.

Cerita yang menyinggung masalah serupa juga disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang upah para pekerja kebun anggur. Tentu kita semua bisa berpikir bahwa cerita ini menggambarkan tentang sebuah ketidakadilan seorang pemiliki kebun anggur yang tidak memberikan upah sepantasnya kepada para pekerjanya.

Kita semua tidak senang diperlakukan tidak adil, bahkan beberapa dari kita mungkin sangat-sangat sensitif dengan ketidakadilan. Ketidakadilan bukan hanya merugikan diri kita tetapi melecehkan harga diri kita. Kalau kita pikir dengan akal sehat, sungut-sungut para pekerja tersebut adalah normal.

Membayar setiap orang dengan upah yang sama tanpa melihat berapa lama mereka bekerja, berapa banyak yang mereka hasilkan jelas merupakan tindakan yang tidak adil.  Panen anggur di Israel biasanya terjadi pada bulan September. Pada saat itu temperatur masih cukup tinggi sehingga para pekerja out door benar-benar mengalami terik matahari yang menyengat dan juga angin kering yang tidak nyaman.

Bisa kita bayangkan betapa lelahnya bekerja selama 12 jam dalam keadaan seperti itu. Lalu, mereka dibayar sama seperti para pekerja yang hanya satu jam, satu dinar. Cara pembayaran tuan dalam perumpamaan itu sungguh tidak adil.

Tetapi sebenarnya kita diajak untuk tidak berfokus pada persoalan adil atau tidaknya upah yang diberikan kepada para pekerja dalam cerita atau perumpamaan tersebut, tetapi lebih kepada sikap hati dan perasaan tahu diri dari para pekerjanya. Mari kita memperhatikan kembali perumpamaan ini.

Apakah benar tuan itu telah bertindak dengan tidak adil dalam pembayarannya kepada para pekerja jam enam pagi? Bila kita selidiki dengan saksama, tuan itu telah membayar sesuai dengan perjanjian yang disepakati bersama, yaitu: “Satu dinar untuk satu hari kerja.”

Lalu, dimana ketidakadilannya? Bukankah adil itu berarti berpegang pada kebenaran? Bukankah adil itu berarti memberikan apa yang menjadi hak orang lain? Tuan itu tetap berpegang pada kebenaran. Tuan itu telah memberikan apa yang menjadi hak para pekerja itu: yaitu upah satu dinar. Itulah sebabnya, tuan itu berkata kepada seorang dari mereka, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”

Tuhan Yesus dengan sengaja menceritakan pembayaran itu dengan urutan yang sebaliknya. Ia dengan sangat pandai memperlihatkan kepada pendengarnya apa yang menjadi isu utama dari para pekerja jam enam pagi, yaitu perasaan diperlakukan tidak adil karena orang lain mendapatkan keberuntungan atau kemurahan.

Andaikata para pekerja jam enam pagi itu tidak pernah tahu bahwa ada pekerja yang mendapat kemurahan dari pemilik kebun anggur itu, ia tidak akan bersungut-sungut. Perasaan diperlakukan tidak adil muncul ketika mereka melihat pekerja lain mendapat kemurahan. Kemudian, pemilik kebun anggur itu mempermalukan orang-orang itu dengan mengingatkan bahwa Ia adalah pemilik kebun anggur itu, Ia berhak atas seluruh miliknya. Tidak ada seorang karyawan pun yang layak untuk mengajar atau memerintah dia untuk ini dan itu. Ia berdaulat untuk bermurah hati kepada siapa Dia mau bermurah hati.

Kemudian tuan itu berkata lagi, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (ayat. 14, 15). Ya, mereka iri hati. Hati mereka serasa terbakar bila mereka melihat orang lain mendapat keberuntungan. Mereka tidak siap untuk menghadapi hal itu. Mengapa mereka tidak siap untuk melihat itu? Karena mereka merasa diri mereka lebih baik daripada orang lain.

Mereka merasa bekerja lebih lama, lebih produktif, lebih sungguh-sungguh, dan lebih lelah dari para pekerja jam lima sore. Oleh karenanya, sudah sepantasnya mereka yang harus dibayar lebih banyak, bukan yang lain. Inilah pola pikir yang Yesus kecam!

Ketika melihat dan membandingkan keberadaan diri kita dengan orang lain yang secara fisik, kekayaan, kedudukan jauh lebih beruntung daripada kita, tidaklah mudah untuk menemukan makna yang baik dari perumpamaan di atas. Mungkin sebagian dari antara kita akan mudah berkata dan bersungut-sungut: “Dimanakah keadilan Tuhan, sampai kapan Tuhan akan menjawab doaku?” Sifat bersungut-sungut mampu me­ram­pas sukacita yang berasal dari Tuhan.

Itu adalah sebuah sifat yang sama sekali tidak produktif dan hanya akan menambah masalah bagi diri kita saja. Oleh kare­na itu, kita hendaknya bisa mencermati apa yang ditulis oleh Paulus mengenai kesabaran tanpa menjadi kehi­langan kepecayaan dalam menanggung beban yang tengah kita alami hari ini.

Oleh Paulus, kita diajak untuk menghayati bahwa ketika kita diberikan kesempatan oleh Allah, marilah kita mengucap syukur kepada-Nya dengan menggunakan kesempatan itu untuk setia dan terus melayani-Nya dengan kesungguhan hati. Kalaupun mati, marilah kita melihat peristiwa yang mendukakan secara manusiawi itu sebagai hal yang justru membawa keuntungan bagi kita, karena Allah telah menyiapkan kerajaan sorga bagi kita yang setia kepada-Nya. Amin. (YEP)

Komentar

Jangan Lewatkan