oleh

Hidup Dalam Kesetiaan

-Rohani-211 views

Kesetiaan merupakan sesuatu yang sangat mahal di jaman sekarang ini. Setiap hari perjalanan kehidupan kita diperhadapkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesetiaan, baik dalam hubungan dalam persahabatan, pacaran, rumah tangga, bisnis ataupun pelayanan.

Ada sebuah cerita, dimana ada seorang suami yang begitu mencintai istrinya, mereka sudah dikaruniai  tujuh orang anak. Suatu ketika istrinya mengalami penyakit tumor otak dan kadang-kadang membuat istrinya tidak berpikir normal dan melakukan tindakan yang aneh-aneh. Sehingga suami ini selalu menjagai istrinya, agar tindakkannya tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Sampai akhirnya penyakit tumor otak yang diderita istrinya semakin parah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semua aktifitasnya dibantu oleh suaminya, makan, minum, mandi, berpakaian dan lain sebagainya. Itu semua dilakukan suaminya sampai 15 tahun lamanya. Banyak teman dan saudaranya menganjurkan untuk menyerahkan istrinya ke rumah sakit atau panti yang bisa mengasuhnya, sehingga suaminya tidak kerepotan merawatnya.

Katanya,”Dia adalah istri saya dan ibu dari ketujuh anak saya. Saya akan merawatnya dan tidak akan menyerahkannya pada rumah perawatan atau rumah sakit, saya bisa merawatnya sendiri”. Sebelum kematiannya, istri suami tadi berkata pada temannya yang menjenguknya, ”Kapan saja engkau dan teman-teman membicarakan tentang kesetiaan dan pernikahan, katakan bahwa suamiku mencintaiku sama dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah”.

Jika saudara-saudara berdiri pada posisi suami ini, apakah bisa kita setia? Apakah kita tidak meninggalkan dan mencari istri yang baru? Kesetiaan selalu mempunyai dampak bagi kehidupan kita sendiri dan bahkan kepada orang lain di sekitar kita. Demikian juga dalam kehidupan kita yang majemuk dan penuh perbedaan dalam masyarakat. Ada yang mengatakan untuk hidup bersama dengan orang yang berbeda kita harus mengikuti cara hidup mereka? Bagaimana kita bersikap di tengah perbedaan kehidupan ini?

Hidup yang disertai oleh Tuhan itulah yang menjadi pengharapan setiap umat Tuhan. Sebagaimana dalam bacaan kita yang pertama bagaimana umat Israel disertai Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Mulai dibawa keluar dari tanah perbudaan Mesir sampai masuk pada tanah perjanjian Kanaan. Pertama kali karena dosa-dosa bangsa Israel tidak boleh masuk tanah Kanaan, Allah murka.

Namun Allah berubah pikiran dan memperbolehkan bangsa Israel masuk tanah perjanjian, namun hanya disertai oleh Malaekat-malaekat saja. Sampai akhirnya Musa berdoa kepada Tuhan dan akhirnya Tuhan menyertai bangsa Israel masuk Kanaan. Dengan selalu disertai oleh Tuhan, maka membuahkan perbuatan-perbuatan kebaikan di tengah-tengah bangsa Israel. Dengan disertai oleh Tuhan, menjadikan bangsa Israel bangsa yang diberkati Tuhan.

Demikian dengan kehidupan kita sekarang di jaman ini, jika kita hidup dalam dosa maka kita tidak akan disertai oleh Tuhan, tetapi jika kita hidup dalam kebaikan, kita akan disertai Tuhan, kita akan selalu diberkati Tuhan. Kehidupan bangsa Israel kala itu, harusnya menjadi pelajaran atau teladan bagi kita semua saat ini, agar kita hidup disertai oleh Tuhan dan menghasilkan buah-buah kebaikan dalam kenyataan hidup ini.

Dalam bacaan kita yang kedua Rasul Paulus begitu bahagia dan mengucap syukur karena menyaksikan buah dari pelayananannya kepada jemaat Tesalonika. Dari surat ini kelihatan bagaimana buah-buah dari karya Paulus dalam pemberitaan Injil-Nya. Buah itu antara lain adalah iman yang di miliki oleh jemaat Tesalonika tersebar luas di sekitaran tempat itu  (Makedonia dan Akhaya ayat 7), sekaligus iman mereka menjadi teladan bagi orang percaya saat itu. Kasih dan jerih kasih di antara mereka tumbuh dengan subur. Hal ini menandakan bahwa hidup mereka hidup yang diberkati oleh Allah.

Demikian juga mereka hidup dalam pengharapan kepada Kristus Yesus yang nyata dalam kehidupan bersama di jemaat Tesalonika. Allah memilih mereka untuk diselamatkan atau menerima anugerah Tuhan. Dengan iman, pengharapan dan kasih maka buah pelayanan dari Rasul Paulus sungguh nyata dalam jemaat ini. Dan inilah yang harus terjadi dalam kehidupan kita sebagai umat Tuhan sekarang ini.

Di tengah tantangan kehidupan sekarang ini, kehidupan yang penuh kemajemukan, maka seharusnya iman, pengharapan dan kasih itu tetap harus tumbuh subur. Bagaimana kita tetap mempunyai iman yang kuat ditengah-tengah mayoritas yang berbeda, bagaimana kita  bisa mengasihi sesama kita termasuk yang berbeda itu, dengan tetap berpengharapan kepada Yesus yang terus menyertai kehidupan kita bersama.

Sebuah keteladanan tentang kesetiaan diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada kita semua. Dia setia pada misi menyelamatkan kita semua meski harus menderita dan mati bagi kita semua. Demikain juga dalam bacaan kita yang ketiga, kita diajak melihat bagaimana orang Farisi berusaha menjatuhkan Tuhan Yesus  di hadapan orang banyak dengan menjebak-Nya. Dengan tameng memuji Tuhan bahwa Yesus adalah orang yang jujur, tidak takut pada siapapun karena tidak mencari muka, mereka menjebak-Nya dengan harapan bahwa Yesus akan terjebak untuk mengatakan “tidak” membayar pajak kepada Kaisar yang artinya Yesus menentang pemerintahan Romawi, atau berkata “ya” untuk membayar pajak yang artinya Yesus membela penjajah Romawi dan tidak peduli dengan bangsanya sendiri. Tetapi Yesus bisa cerdik menjawab pertanyaan jebakan itu dengan baik, dengan jujur dan tanpa melupakan kebenaran.

Yesus mengatakan apa yang wajib diberikan buat Kaisar, maka wajib diberikan kepada Kaisar, demikian juga kepada Allah, apa yang wajib diberikan kepada Allah, harus diberikan kepada Allah. Disini Yesus tidak membandingan atau menyamakan kesetiaan kepada pemerintah dan kepada Tuhan, namun semuanya mempunyai bagian sendiri-sendiri.

Kesetiaan atas teladan leluhur bangsa Israel dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus harus tetap kita miliki selamanya. Meski apapun yang terjadi di sekitaran hidup kita. Namun bukan berarti kita tidak bisa hidup bersama dengan yang lain yang berbeda, kita menghormati perbedaan, tetapi tetap setia pada Tuhan Yesus. Kesetiaan yang menjadi barang mahal saat ini harus berada dalam hidup kita sebagai orang percaya, sehingga dengan begitu kita bisa hidup seturut dengan kehendak Tuhan, disertai dan diberkati, serta menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang bisa menjadi kesaksian kehidupan kita semua.

Hidup dalam kemajemukan adalah keniscayaan dalam hidup kita di Indonesia ini. Bukan berarti kita harus bisa hidup sama dengan yang mayoritas, namun kita harus hidup dengan kesetiaan, menghargai perbedaan, mengasihi sesama kita, dan hidup disertai oleh Tuhan. Dengan perbuatan yang baik karena berkat Tuhan dalam kehidupan kita, bisa menjadi kesaksian kita kepada Tuhan. Mari hidup dalam iman, pengharapan dan kasih, serta tetap setia pada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memberkati. Amin

Komentar

Jangan Lewatkan