oleh

Hidup Kudus Berarti Melawan Segala Perbuatan Jahat

-Rohani-577 views

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan tentunya kita pernah melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Misalnya seorang anak yang sedang belajar menulis, tentu huruf yang dia tulis tidak selalu sama dengan huruf yang dicontohkan oleh orang tua atau guru yang mengajarkannya. Seorang ibu yang sedang memasak, lupa untuk menambahkan garam pada masakannya. Seorang anggota Majelis Jemaat yang memimpin ibadah Minggu yang lupa mengajak jemaat untuk mengungkapkan Pengakuan Iman Rasuli dalam ibadah.

Kesalahan adalah sebuah pengalaman sekaligus pelajaran yang berharga jika seseorang yang bersalah tadi menyadari kesalahannya, mau instropeksi diri dan memperbaiki kesalahannya itu. Sebaliknya kesalahan akan menjadi batu sandungan bagi diri sendiri apabila dia tidak mau berubah dan menyadari kesalahan pada dirinya. Dalam hal ini tentulah cara pandang, cara berpikir kita dalam menyikapi sebuah kesalahan diri menjadi cerminan diri pribadi kita.

Disamping kesalahan yang dilakukan secara pribadi, ada kesalahan yang berakibat melukai/menyakiti hati orang lain. Bisa itu lewat perkataan  yang menyinggung perasaan orang lain, sikap yang merendahkan orang lain dan tindakan yang menyakiti hati orang lain. Jika kita menyadari akan perkataan, sikap, dan tindakan kita telah menyakiti orang lain maka sedianya kita meminta maaf dan segera berdamai dengan orang tersebut. Namun pada kenyataannya hal itu tidak mudah dilakukan. Tidak mudah seseorang mau mengakui kesalahannya terlebih meminta maaf kepada orang lain.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Bacaan Firman Tuhan pada saat ini (Keluaran 12:1-15) mengisahkan tentang karya dan kasih Allah kepada bangsa Israel melalui peristiwa Paskah. Allah mendengar keluh kesah dan melihat penderitaan bangsa Israel sebagai budak di Mesir. Kemudian Allah memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan. Diceritakan pada bacaan kita cara Allah membebaskan umat-Nya dari tangan Firaun yaitu melalui tulah kepada bangsa Mesir. Bukan hanya sekali dua kali, Allah memberikan tulah kepada Mesir, tetapi karena sikap keras kepala Firaun, Firaun tetap tidak mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Hingga puncaknya Allah memberikan tulah yang kesepuluh yaitu kematian anak sulung pada keluarga orang Mesir, yang pada akhirnya Firaun mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir.

Peristiwa keluarnya bangsa Israel ini ditandai dengan peristiwa Paskah yang dirayakan oleh masing-masing keluarga Israel. Mereka melakukan ritual Paskah ini untuk mengenang kejadian penting dalam sejarah mereka ketika Tuhan menyelamatkan (“berjalan melewati”) mereka dari perbudakan di Tanah Mesir. Peristiwa Paskah ini dimaksudkan untuk merayakan puncak pembebasan umat Israel, yaitu ketika TUHAN memberikan tulah kesepuluh berupa kematian anak sulung kepada semua keluarga Mesir dan menyelamatkan keluarga-keluarga umat Israel. Perayaan ini berupa pengorbanan domba yang darahnya dibubuhkan pada pintu rumah orang Israel, supaya mereka terhindar dari kematian anak sulung (ayat 7,12,13). Domba tersebut dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan suyur-sayuran pahit. Mereka harus memakannya dengan berpakaian lengkap untuk bepergian. Hal ini menunjukkan ketergesaan dan kesiapan mereka untuk meninggalkan Mesir.

Kisah selanjutnya dalam perjalanan bangsa Israel sangat diwarnai dengan dinamika iman yang berulang. Bangsa Israel percaya kepada Allah Israel yang membebaskan – Bangsa Israel mengalami masalah dan berbuat dosa karena tidak setia dan mendegarkan Firman Allah – Bangsa Israel mendapatkan hukuman dari Allah hingga kematian – Bangsa Israel mengakui dosa dan kesalahannya kepada Allah dan berjanji setia kembali – Allah memulihkan keadaan Israel dan mengasihi Israel – Bangsa Israel percaya dan kembali setia menyembah Tuhan.

Pada bacaan 2 (Roma 13:8-14), Rasul Paulus menasihatkan tentang pentingnya hidup dalam kasih dan kekudusan kepada Jemaat Roma.  Dalam memberlakukan kasih, hendaknya setiap orang mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (ayat 9). Bagi Paulus, menunjukkan kasih adalah menggenapi seluruh perintah Hukum Taurat (ayat 10). Hukum Taurat menentang segala kejahatan yang menciderai hubungan manusia dengan TUHAN dan hubungan manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu mengasihi orang lain berarti tidak mencelakai sesama.

Dalam hal kekudusan, Rasul Paulus menyatakan bahwa hidup di dalam kekudusan berarti melawan segala perbuatan jahat. Paulus menasihati agar jemaat Roma menanggalkan perilaku hidup “malam” : kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati, dan kedagingan yang lainnya. Sebaliknya Paulus menasihati agar jemaat Roma mengenakan Yesus (hidup dalam terang), yaitu hidup sopan dan kudus. Kata “menanggalkan” dan “mengenakan” menunjukkan bahwa orang Kristen tidak dapat hidup di dalam daerah yang abu-abu. Orang Kristen harus menanggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kasih dalam iman Kristen tidak membawa manusia untuk berkompromi dengan dosa. Kasih yang sejati berjalan bersama kekudusan.

Bacaan yang ketiga (Matius 18 : 15 – 20) memberikan gambaran tentang Gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus. Gereja tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna, melainkan orang-orang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh Tuhan Yesus. Karena itu, kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa terjadi pada orang Kristen. Apabila hal itu terjadi, maka tugas sesama orang Kristen untuk menasihati dan membimbingnya untuk bertobat.

Bagaimana menegur, menasihati dan membimbing itu harus kita lakukan? Tuhan Yesus memberikan petunjuk sebagaimana pada bacaan kita (Mat. 18:15-20). Tuhan Yesus memberikan petunjuk bahwa teguran dan nasihat itu harus dilakukan secara bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi antar pribadi dengan seseorang yang berbuat salah (ayat 15). Jika tahap teguran dan nasihat ini tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi. Tujuannya bukan untuk menghakimi tetapi sebagai upaya untuk menyadarkan orang yang berbuat salah tersebut (ayat 16). Jika teguran dengan saksi itu pun tetap tidak ditanggapi, barulah orang yang berbuat salah itu ditegur dalam pertemuan jemaat Tuhan (ayat 17a). Jika sampai menerima teguran yang demikian ia tetap tidak merespon dan mengakui kesalahannya, maka jemaat harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Tuhan (ayat 17).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,

Saat ini kita memasuki bulan Kitab Suci, dimana kita diajak untuk memahami dan menghayati bahwa Firman Tuhan Allah adalah Firman yang hidup. Artinya melalui Firman Allah inilah ada tuntunan, petunjuk, perintah dan larangan bagi kehidupan kita. Firman-Nya menuntun kita pada kebenaran, mengarahkan langkah hidup kita untuk berjalan di jalan Tuhan. Firman-Nya memberikan petunjuk bagi kita untuk berlaku bijaksana, jujur dan setia pada kehendak-Nya. Firman Allah yang menjadi petunjuk hidup inilah yang menjadi pegangan dalam hidup kita agar kita selamat dalam menjalani hidup. Firman Tuhan yang adalah perintah-perintah Tuhan haruslah kita taati dan kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pun demikian dalam Firman Allah juga ada larangan yang bertujuan mengingatkan kita agar berhati-hati dalam berbuat sesuatu, jangan sampai kita melanggar apa yang menjadi larangan Allah tersebut.

Pada pembukaan bulan Kitab Suci saat ini, marilah kita renungkan Firman Tuhan ini dengan sungguh-sungguh. Ada ajakan atau sikap yang relevan dengan kehidupan iman dan jemaat untuk kita lakukan:

Pertama, Allah Bapa adalah Allah Pengasih dan Pengampun. Jika Allah mau mengampuni dan menyelamatkan bangsa Israel, maka Allah juga mau mengampuni dan menyelamatkan kita. Konsekuensinya kita juga harus mau mengakui kesalahan kita, jujur menyadari kelemahan dan keterbatasan diri kita, seraya kita memohon pengampunan dosa kepada Tuhan Allah atas segala dosa ucapan, pikiran, perbuatan kita yang jahat dihadapan Tuhan dan terhadap sesama kita.

Kedua, Tuhan yang berkenan mengampuni dan menyelamatkan kita, menghendaki agar kita hidup dalam kasih dan kekudusan. Teruslah berdoa dan berusaha untuk hidup dalam kasih dan kekudusan. Roh Kudus akan selalu menyertai dan memampukan kita mengasihi Tuhan Allah dan sesama kita dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dan Roh Kudus akan menolong kita untuk terus hidup kudus, hidup dalam terang Allah dan hidup benar seturut dengan Firman-Nya.

Ketiga, Kita yang telah diampuni, diselamatkan, marilah kita nyatakan kasih kita dengan menasehati dan mengingatkan saudara kita yang berbuat salah. Agar melalui nasihat dan teguran kita yang didasari kasih dapat merubah dan menyelamatkan saudara kita yang tersesat, menuntunnya untuk bertobat, mengakui dosa kesalahannya dan kembali kepada Tuhan dan kebenaran Firman-Nya. Tuhan memberkati dan memampukan kita semua. Amin. (AR)

Komentar

Jangan Lewatkan