oleh

Memaknai Kebangkitan Kristus Dalam Praksis

Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gereja. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai “anak domba Paskah”. Umat Kristiani hingga hari ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Pada hari yang ketiga, bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru.

Oleh karena itu, perayaan paskah ini biasanya melalui beberapa fase sebelum memasuki puncak dari kebangkitan Kristus yaitu, masa prapaskah dan paskah. Masa prapaskah adalah masa pengorbanan 40 hari yang sakral sebelum Kematian dan Kebangkitan Yesus. Selama Masa Prapaskah, umat Katolik dan umat Kristen bersiap untuk merayakan Minggu Suci dengan berpuasa, berdoa dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Sedangkan Paskah adalah puncak dari masa puasa, “pesta kebangkitan Kristus”.

Lantas, Bagaimana Memanifestasikan Kristus Dalam Praksis?

Sebagai umat kristiani yang mengimani kristus sebagai juru selamat manusia. Tentu, momentum paskah ini kita tidak lagi bicara kristus dalam paradigma simbolis tapi bagaimana teologinya mengarah pada tindakan yang konkret. Artinya, “kita tidak lagi memperdebatkan kebenaran agama di ruang publik seperti halnya terjadi di banyak negara terutama di Indonesia”. Relevansi kebenaran kristus sejatinya akan terlihat ketika kita bisa mengejawantahkan pesan kebaikan kristus kepada sesama. Kepada semua golongan tanpa membatasi ruang relasi sedikit pun.

Kaitannya dengan ini. Untuk memanifestasi pesan kristus tentu dengan merefleksi kembali sengsaranya, kebangkitan dan pesan moral yang disampaikan. Kebangkitan kristus adalah titik di balik bangkitnya kita juga. Sehingga fenomena kekerasan, diskriminasi, kemiskinan, kelaparan dan gerakan anti kemanusiaan yang terjadi di banyak negara, sudah saatnya menjadi tanggungjawab gereja dan umat. Ikut andil dalam menkampanyekan persaudaraan, perdamaian dan pentingnya menjaga kondusifitas hidup dalam keberagaman.

Relevansi paskah sejatinya implementasi pesan Yesus. Maknai posisi kita sebagai 12 rasul yang akan melanjutkan tongkat estafet untuk misi kemanusiaan. Sebagai Tokoh agama harus tahu memposisikan diri, sebagai mahasiswa berkontribusilah sebagai agen perubahan, sebagai pemimpin birokrat atau politisi bertindak layak seorang birokrat dan politisi. Serta apapun “background” kita harus punya visi hidup. Oleh karena itu, di manapun kita berada kebaikan harus dikampanyekan untuk mewujudkan kebangkitan perdamaian.

Pesan terakhir Hari Raya Paskah 2017. “semoga kita menjadi umat yang terus menjaga toleransi, pluralitas keberagaman di Indonesia, perdamaian dan persaudaraan tanpa pandang bulu”. Terkhusus untuk muda-mudi katolik, Orang Muda Katolik dan komunitas anak muda katolik lainnya agar segera ambil bagian dalam pelayanan gereja. Dan menjadi penggagas perdamaian, terutama sinergi dengan komunitas agama lain untuk mewujudkan Indonesia yang toleran.

 

Oleh : Fransisco Yassie

Komentar