oleh

Terima kasih, maaf, dan tolong

-Rohani-387 views

Pada hari ini Yesus menyuguhkan gambaran yang indah melalui dua anak dengan karakter yang berbeda. Anak pertama berkata “ya” tetapi tidak pergi bekerja ke ladang seperti yang diminta oleh bapaknya. Dan anak kedua berkata “tidak” tetapi akhirnya dia melakukan perintah sang bapak. Dua karakter anak tersebut ingin menantang kita untuk beriman agar kita melihat diri kita sendiri.

Apakah sebagai murid murid Yesuskita sudah menunjukkan kualitas iman yang terwujud dalam tindakan sehari hari atau tidak? Ataukah sikap dan pernyataan “ya” yang sering kita ungkapkan, hanya sebatas manis di bibir atau sekedar ikut ikutan dan sebatas mengikuti ritual agama saja? Hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya secara jujur.

Nabi  Yehezkiel melalui bacaan pertama hari ini menunjukkan kepada kita bahwa ternyata perbuatan kitalah yang pada akhirnya menentukan nasib kita. Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.

Dari Sabda itu jelas kita ketahui bahwa tindakan kita lah  yang menentukan kemana kita kelak, bukan kata kata manis atau sekedar mengikuti ritus agama. Bukan berarti ritus agama tidak penting. Yang mau diminta dari kita adalah menyelaraskan antara apa yang kita imani dengan apa yang kita lakukan dalam tindakan harian kita sebagai umat beriman. Dan untuk dapat melakukannya secara konsisten, kita hendaknya melakukan pertobatan terus menerus.

Membangun semangat penyesalan yang tulus menjadi cara dan sikap kehidupan yang dipuji oleh Kitab Suci pada hari ini. Semangat kehidupan padang gurun (kerinduan penuh harap akan kedatangan Sang Mesias) yang bisa kita ciptakan pada hari hari ini adalah membangun semangat penyesalan yang diwujudkan dalam kehidupan bersama. Tiga kata sakti yang bisa diperjuangkan dan dibiasakan dalam hidup harian kita, juga dalam keluarga kita masing masing adalah kata , terima kasih, maaf, dan tolong.

Ketika kita menerima kebaikan dari anggota keluarga atau orang lain, kita biasakan untuk spontan mengucapkan terima kasih, ketika saat tertentu kita jatuh dalam dosa dan kesalahan, sikap dasar yang perlu adalah meminta maaf. Saling memaafkan menjadi oasis menyegarkan bagi tumbuh mekarnya semangat persaudaraan dan rasa percaya dan diberi kemungkinan untuk dalam hidup.

Sikap ketiga yang perlu ada dalam keluarga adalah kerelaan untuk meminta tolong dan dimintai tolong. Sikap saling membantu dan memberi support dalam keluarga dan orang orang yang ada di sekitar menjadi kekuatan dahsyat untuk meretas rasa bahwa bahwa saya bisa main akrobat sendiri. Kerelaan meminta tolong kepada anggota keluarga atau orang lain, juga mencirikan sikap kesederhanaan dan kerendahan hati agar tidak berhenti pada rasa percaya diri yang berlebih atau sikap sombong tidak mau meminta pertolongan.

Baiklah kita menjadi pendengar yang baik dan menjadi pelaksana firman Tuhan yang mengerti untuk apa kita bersaudara satu sama lain. (Renungan Katolik)

Komentar

Jangan Lewatkan