oleh

Undangan Perjamuan Kudus

-Rohani-105 views

Menghadiri suatu undangan dapat diartikan sebagai cara kita menghormati orang yang mengundang. Tetapi ada cara lain pula untuk memberi arti dalam hal undangan, yaitu kita mengambil bagian dalam kebahagiaan, kehormatan dari orang yang mengundang. 

Oleh karena itu dapat dibayangkan bila kita menolak untuk menjalankan sebuah undangan. Selain kita menolak penghargaan yang diberikan oleh yang mengundang, kitapun berada pada tanggapan untuk menjadi terhormat dengan orang yang mengundang kita. 

Melalui sabda Tuhan pada hari ini, (Injil Mat 22: 1-14) kita diajak untuk memahami bahwa hal Kerajaan Surga itu adalah kesediaan menerima undangan untuk mengambil bagian dalam Kekudusan Allah, Bapa kita. Peristiwa yang dikisahkan melalui perumpamaan oleh Yesus menggambarkan:

Pertama, sikap manusia yang melekat pada segala sesuatu yang sifatnya duniawi. Begitu melekatnya sehingga selalu menciptakan alasan untuk tidak memenuhi undangan-Nya.

Kedua, manusia yang menerima undangan namun tanpa persiapan yang dilakukan dengan sepenuh hati. Hal ini digambarkan oleh Yesus melalui orang yang hadir tanpa pakaian pesta. Mau hadir tetapi tidak mau repot menghiasi diri untuk kepantasan sebuah pesta, hadir semaunya. Sikap semacam ini tidak berkenan di hati Allah yang mengundang kita. Ia menghendaki agar kita membangun sikap yang pantas untuk menerima rahmat pengudusan dari Allah.

Di zaman kita sekarang ini, pun untuk seterusnya, undangan Allah untuk mengambil bagian dalam perjamuan-Nya berkelanjutan. Allah menyediakan sebuah pesta perjamuan yang istimewa bagi kita melalui Ekaristi yang kita rayakan. 

Istimewa karena sang pengantin dan hidangan yang disediakan bagi kita adalah Putra-Nya sendiri. Di dalam dan melalui Ekaristi, Allah menyediakan sarana pengudusan bagi kita. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang pantas untuk mengambil bagian didalamnya, terutama melalui sikap tobat yang benar.

Hadir dalam perjamuan Tuhan dengan berpakaian memungkinkan kita menerima hati yang baru dan roh yang baru dalam batin kita.

Bapa Tuhan kita Yesus Kristus kiranya menerangi mata hatimu,   agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan kita. (Renungan Katolik)

Komentar

Jangan Lewatkan