oleh

Arah Cerah di Saat Gelap

-Rohani-283 views

Bacaan bagi perarakan Minggu Palma kali ini (Mrk 11: 1-10) mengisahkan bagaimana Yesus disambut meriah oleh orang banyak ketika memasuki kota Yerusalem. Mereka telah mendengar pelbagai penyembuhan dan pengusiran roh jahat serta mengaturnya mengenai Kerajaan Allah. Mereka sadar, dia ini Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu. Harapan mereka, Allah segera akan membuat Mesias-Nya menunjukkan kebesarannya di kota suci-Nya. Dan memang akan terjadi demikian. Tetapi kebesaran Mesias ini berbeda dengan yang diidam-idamkan. Guna menyelaminya, marilah kita ikuti Kisah Sengsara pada Minggu Palma ini (Mrk 14: 1-15: 47) serta memetik hikmatnya.

Para imam kepala dan ahli Taurat yang terancam oleh Yesus karena ia akan mengubah pusat ke-Yahudi-an, yakni Bait Allah, menjadi rumah doa bagi semua orang (lih. Mrk 11: 17a = Yes 56: 7) dan bukan sebagai lambang identitas orang Yahudi belaka. Mereka juga tidak mengajarkan ajaran Yesus bahwa manusia boleh mendekat kepada Allah dan memanggil-Nya “Bapa”. Bagi para pemimpin tadi, sebutan ini sebuah hujatan. Oleh mereka berupaya mengartikan Yesus dengan “diam-diam”, tanpa mengungkapkan alasan yang sebenarnya (14: 2). Dan lewat penguasa Romawi, mereka berhasil menulis mati pada salib.

Mengapa Ia Disalibkan?

Bagi para pengikutnya, riwayat Yesus tidak tamat dengan penyaliban dan penguburannya. Ia tetap diingat. Kenangan ini menjadi sumber keteguhan kebenaran yang dipersaksikan Yesus, salib dan pengakuan oleh kepala pasukan (Mrk 15:39 “Orang ini benar Anak Allah”). Kenangan akan dikembangkan dan dikembangkan serta diperkaya dengan pengalaman orang-orang yang tidak mengenalnya secara pribadi. Dan kenangan ini menjadi sumber keteguhan iman mereka. Contoh paling jelas tulisan-tulisan Paulus. Lain lagi Kisah Para Rasul yang menjelaskan keteguhan itu sebagai karya Roh Kudus. Injil-Injil kemudian menjelaskannya dengan memakai gagasan dasar yang berasal dari Yesus sendiri, kedatangan Kerajaan Allah yang diperkenalkannya sebagai “Anak Allah”, orang yang amat dekat pada-Nya. Begitulah Kerajaan Allah itu menjadi pendukung dalam kehidupan.

Menjalani Saat-saat Gelap

Pengurapan Yesus di Betania oleh seorang perempuan (14: 3-9), seperti dikatakannya sendiri, menjadi gelagat bagi perawatan jenazahnya nanti. Akhir hidupnya nanti juga menjadi pokok yang diutarakannya dalam perjamuan terakhir (14: 12-21). Dikatakannya, di antara murid-muridnya ada yang akan menyerahkannya kepada para imam (14: 21-21). Roti dan anggur yang diperjualbelikannya pada kesempatan itu. Inilah yang menumbuhkan Kerajaan Allah. Pada saat-saat ini dari pihak manusia yang melihat kesetiaan, bukan cetusan kesediaan yang sulit dipenuhi. Petrus menyatakan bersedia mati bersamanya malah, tapi akhirnya mengingkarinya sampai tiga kali (14: 29-31;

Malamnya Yesus dan murid-muridnya berada di luar tembok kota bagian timur, di tempat yang bernama Getsemani. Sementara ketiga murid terdekatnya tertidur, Yesus menyerahkan diri pada kehendak Bapanya (14: 32-42). Akhirnya datang Yudas bersama para penangkap (14: 43-52). Penangkapan Yesus ini membuat murid-muridnya tercerai-berai, seperti nubuat Zakhariah yang dikutip Yesus (14:27 = Zakh 13: 7). Tapi mereka akan berkumpul kembali dengannya di Galilea (14:28).

Malam itu juga Yesus digiring ke Sanhedrin, Mahkamah Agama yang mengadili perkara-perkara yang berhubungan dengan kehidupan agama dan masyarakat Yahudi. Macam-macam tuduhan dilancarkan, tetapi tidak satu pun dapat ditampilkan. Saksi kata Yesus akan merusak Bait dan membangunnya kembali. Yesus tidak melakukan diri (14: 57-61a). Ketika ditanya imam agung apakah ia itu Mesias, Yesus tidak menyangkal dan malah mengatakan bagaimana ia nanti akan dimuliakan di kanan Allah dan akan kembali ke dunia (14: 61b-62). Jawaban ini jawaban hujatan dan mendatangkan mati. Tetapi Sanhedrin tidak dapat menjatuhkan hukuman mati. Maka mereka mengajukan kepada penguasa Romawi, Ponsius Pilatus, dan mengajukan tuduhan politik, yakni Yesus menyatakan diri raja orang Yahudi (15: 1-3). Pilatus berusaha membebaskan Yesus dengan meminta orang-orang Yahudi memilih siapa yang patut dibebaskannya pada hari raya mereka: Yesus atau Barabas. Mereka menghendaki Barabas, yang justru seorang pemberontak dan pembunuh (15: 6-11). Pilatus sudah menuruti. Ia memutuskan Yesus disalib dan membiarkan serdadu-serdadu menderanya terlebih dahulu (15: 12-15) Mereka memasangkan mahkota duri di kepalanya dan mempermainkannya sebagai raja.

Yesus memanggul salib ke Golgota, nama Aram yang artinya “Tempat Tengkorak”, sebuah bukit di kawasan barat Yerusalem. Di tengah jalan habislah tenaganya. Simon dari Kirene yang kebetulan lewat dipaksa memikul salib Yesus. Terpikir, seandainya tak ada Simon Kirene, bisa jadi Yesus tidak akan sampai ke Golgota dan sejarah umat manusia akan sangat berbeda. Perjumpaan dengan orang yang tidak dikenal juga menjadi jalan penebusan umat manusia.

Penyaliban Yesus menurut injil  Markus terjadi pada pukul sembilan pagi, pada salibnya dipasang tulisan “Raja orang Yahudi” dan bersama dia disalibkan juga dua orang penyamun (15: 25-27). Pada pukul tiga sore Jumat itu Yesus merasakan sakit, ia menyerukan doa keluhan Mzm 22: 2, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Dalam keadaan sekarat ia diberi minum anggur asam. Inilah saat Yesus berseru dengan suara nyaring dan menghembuskan nafas terakhir (15:37). Pada saat yang sama tirai Bait Suci terkoyak dua dari atas ke bawah (15:38) dan kepala pasukan di tempat penyaliban menyatakan bahwa Yesus itu benar Anak Allah (15:39). Kematiannya disaksikan para perempuan yang telah mengikuti dan melayaninya mulai Galilea hingga ke Yerusalem (15: 40-41).

Sebuah Narasi Kesaksian

Bagian terakhir Kisah Sengsara menceritakan penguburan Yesus petang hari Jumat menjelang hari Sabat. Yusuf Arimatea, anggota Sanhedrin, mendapat izin dari Pilatus untuk menguburkan jenazah Yesus setelah mengkafaninya. Begitulah Yesus dibaringkan di pemakaman yang kemudian ditutup dengan batu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus menyaksikan penguburan ini (15: 42-47).

Pelbagai macam dambaan, idaman, impian, perhitungan yang dikenakan pada Yesus kini memang ikut terkubur. Tetapi banyak dari harapan itu sebetulnya warisan yang mengajarnya, seperti halnya penegakan kembali kerajaan Daud, kejayaan politik serta kekuasaan bagi para pengikutnya di hadapan kaum mapan di Yerusalem.

Apa yang tersisa? Ada bukti yang tak diragukan dari orang-orang paling dekat dengannya, yakni bahwa pada hari Minggu, yaitu hari ketiga mulai dari hari penguburannya, mereka menemukan makamnya kosong tanpa ada yang memindahkan jenazahnya. Ia sudah bangkit! Para pengikut Yesus percaya bahwa Allah tidak membiarkan Yesus tetap berada di antara orang mati. Dia dibangkitkan! Yesus menerima hidup baru dari Allah Bapanya sendiri. Hidup baru ini kini dapat dibawa-bawa kepada siapa saja. Inilah kebangkitan Kerajaan Allah yang salib Yesus dan dipersaksikannya dengan kematian, serta kebangkitannya. Yang percaya juga boleh berharap ikut serta dengan dia yang bangkit itu. Inilah harapan yang tak bisa terkubur.

Kisah Sengsara dalam Injil laporan Injil pandangan mata, melainkan sebuah narasi kesaksian orang-orang yang paham serta percaya bahwa sengsara dan kematian Yesus terjadi dalam rangka pengabdiannya untuk membangun kembali hubungan antara manusia dan Allah. Kisah sengsaranya, betapa betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak Yang Ilahi. Ditegaskan dalam kesaksian ini bahwa orang yang pasrah menerima kehadiran Allah akan menerima kehidupan sejati – seperti Yesus yang kemudian dibangkitkan dari kematiannya. Kisah tragis manusia tak berdosa itu dipersaksikan bagi orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan jiwa, melainkan membuat kita menyadari bahwa kekuatan-kekuatan jahat dapat memerosotkan kemanusiaan. Juga untuk mempersaksikan bahwa Ilahi tidak bakal kalah atau meninggalkan manusia sendirian.

Kisah sengsara menurut Markus adalah bagian awal dari Injil dan baru mulai disusunnya pada awal tahun 70-an, jadi empat dekade sesudah Yesus wafat, dan di Roma, dan bukan di negeri tempat Yesus pernah hidup. Baru setelah itu disertakannya pula kisah-kisah mengenai tindakan dan diagnosisnya di sepanjang perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem tempat ia menderita sengsara. Sepuluh tahun kemudian Matius menyusun kembali tulisan Markus menjadi beberapa kumpulan pokok pembicaraan dan tindakan Yesus. Matius juga memasukkan bahan-bahan mengenai perkataan Yesus yang sudah diatur waktu itu dan menyertakan bahan khas dari Matius itu sendiri, antara lain kisah kelahiran Yesus. Sementara itu, Lukas juga mengolah kembali Markus sambil menambahkan bahannya sendiri, seperti misalnya kisah kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus. Lukas juga menyertakan bahan dari kumpulan kata-kata Yesus yang juga dipakai Matius. Baru pada tahun 90-an Yohanes menyelesaikan Injilnya. Ia tidak memakai Markus sebagai dasar seperti Matius dan Lukas. Ia menulis atas dasar gerak pengalaman batin orang percaya akan Yesus sang Sabda yang menerangi jagat.

Dari Bacaan Kedua Madah Tentang Kristus (Fil 2: 6-11)

Bacaan ini sebaiknya didengarkan sebagai madah pujian bagi Kristus, yang meskipun sejatinya dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi telah mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati.  Begitulah ayat 6-8.

Dalam mendalami bacaan ini sebaiknya tidak menyatakan bahwa ungkapan mengenai “pengosongan diri”, “merendahkan diri” bukan dimaksud sebagai anjuran bagi pengikut Kristus untuk menirunya. Tujuan bacaan ini adalah untuk membuat pendengar mengerti dan menghargai betapa besarnya pengorbanan yang telah dijalani Kristus demi membuat diri sama seperti manusia. Dengan demikian orang akan semakin dekat dengannya. Ini semua membuat Allah meninggikannya dan mengaruniakan nama luhur yang menyatakan kebesarannya semua ciptaan. Inilah yang ditegaskan dalam ayat 9-1. Mengakui kebesaran ilahi yang bersedia mendekatkan diri kepada kemanusiaan, inti iman para pengikut Kristus. Pengakuan ini jugalah yang membuat manusia dekat kembali dengan Allah.

Dalam arah itu kemanusiaan itu bisa menjadi benar-benar sama dengan Pencipta yang diinginkan, yakni menjadi “rupa” dan “info” dari Allah sendiri seperti terungkap dalam Kej 1:27. Gagasan inilah yang mendasari madah tentang Kristus dalam bacaan kali ini. Kristus digambarkan sebagai manusia seperti dikehendaki Pencipta sendiri, baik menjadi serupa dan memiliki kecerdasan tetapi toh tidak mengikuti-Nya, bahkan merendah dan menjadi hamba, maksudnya, bersedia menjalankan keinginan tuannya. Dan hamba yang seperti ini akan diberi kehormatan besar di rumah tuannya.

 

 

Oleh: A. Gianto

Komentar

Jangan Lewatkan