oleh

Berkata dengan Kuasa

-Rohani-296 views

SAUDARA terkasih, berapa buah kata yang terlontar dari mulut kita selama dua puluh empat jam? Mungkin ratusan atau bahkan ribuan. Selanjutnya, berapa banyak kata yang membanjiri otak kita setiap hari? Baik yang masuk melalui telinga, maupun lewat mata.

Adakah kata-kata itu meningkatkan mutu hidup kita sehingga kita hidup “tanpa kekuatiran dan berkenan kepada Tuhan” (1 Kor. 7:32)? Tidak sedikit kata-kata yang kita ucapkan justru mau menutupi perasaan-perasaan negatif seperti kecemasan, kekuatiran dan bahkan keputusasaan.

Bacaan-bacaan hari ini mengantar kita untuk memahami hakekat menjadi seorang nabi. Bagi umat Israel, nabi-nabi adalah penyambung lidah Allah. Dengan kuasa, mereka menafsirkan kehendak Allah yang mengarahkan mereka ke masa depan yang telah Allah rancang bagi mereka (Ul. 18:15-20).

Maka siapa saja yang tahu, akan karunia-karunia Allah baginya akan hidup dengan sukacita tanpa merasa terbebani apa-apa. Walaupun bukan tanpa kesulitan dan pengorbanan, dia “melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan” (1 Kor. 7:35).

Seorang nabi tidak pernah menyampaikan kata-katanya sendiri dan atas kuasanya. Ia selalu membawa tolak ukur kesejatian kehendak Allah dan rencana-rencanaNya mengenai keselamatan manusia. Kuasa yang diletakkan Allah dalam kata-kata nabi itu menjadi sumber kewibawaan nabi.

“Orang yang tidak mendengarkan segala sabdaKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban”(Ul. 18:19).

Saudaraku terkasih, Yesuslah nabi yang paling unggul dari semua nabi. Namun tidak jarang kita suka mengikuti ajakan nabi-nabi palsu di dunia ini. Kita sering menolak kata-kata Yesus yang penuh kuasa, yang menyelamatkan dan membawa kelepasan dari beban dan kuasa roh-roh jahat. Kita mudah percaya pada kata-kata manis dan penuh kebohongan dari Iblis yang nyata lewat bebagai cara: bacaan, tontonan, dan perilaku menyimpang.

Yesus datang sebagai nabi yang berkuasa, yang mampu melepaskan manusia dari kuasa kejahatan dan dosa, lewat sabda-Nya. Lewat sabda-Nya, Ia mampu meyakinkan orang bahwa Allah telah mengenyahkan kejahatan dari hidup kita dan mengaruniakan kehidupan ilahi.

Dia selalu hadir di tengah-tengah kita dan terus meyakinkan kita lewat pewartaan Sabda dan perayaan Ekaristi. Kita disapa oleh-Nya dengan kata-kata penuh kuasa dan daya ilahi.

Apakah perjumpaan kita dengan-Nya menjadikan kata-kata kita juga penuh kuasa untuk membangun keluarga, komunitas, dan lingkungan hidup kita?

Ataukah kata-kata kita hanya menjadi sampah yang mengotori lingkungan atau menjadi kutukan yang membuahkan malapetaka bagi diri kita dan orang lain?

“Ia berkata-kata dengan kuasa” (Mrk. 1:27)

 

Oleh: Fr. Berly Dianomo

 

(Renungan Lentera Jiwa)

Komentar

Jangan Lewatkan