oleh

Cinta Menghidupkan, Kebencian Menghancurkan

-Rohani-236 views

“Hebatnya Kekuatan Pelukan, Bayi Prematur Hidup Lagi”. Itulah judul menarik berita di sebuah media massa Maret lalu. Peristiwa itu terjadi di Australia. Keajaiban benar-benar dirasakan oleh pasangan Kate dan David Ogg saat melahirkan Jamie beberapa waktu lalu.

Jamie yang lahir prematur dinyatakan secara klinis oleh dokter yang menanganinya. Sementara itu, saudara kembarnya Emily, berhasil selamat. Sekitar 20 menit kemudian, dokter menyerahkan kedua orang tuanya. Kate bersama suaminya memeluk Jamie dengan cintanya cukup lama untuk kali terakhir.

Tidak disangka, Jamie kembali membuka mata dan bernapas. Para dokter dan perawat langsung mengelilingi Jamie dan terheran-heran dengan mukjizat itu. Kisah mereka terungkap di media baru-baru ini.

Satu hal patut digarisbawahi bahwa cinta itu menghidupkan. Sementara kebencian itu menghancurkan. Pelukan kehangatan kasih dari orang tua Jamie ternyata mampu mengubah teori dan ilmu kedokteran yang telah memvonisnya mati secara klinis. Jamie kini hidup kembali karena kasih orang tuanya. Kita harus percaya akan dahsyatnya kekuatan cinta itu. Baik yang melakukan dan menerima cinta akan merasakannya secara langsung.

Kita sering mendengarkan penuh semangat membara dari orang-orang yang tengah jatuh cinta, “Bukit kan kudaki. Laut pun kan kuseberangi.” Itu semua dilakukan karena orang ingin bertemu dengan kekasihnya. Orang bisa dengan mudah melakukan hal seperti itu, karena cinta. Tetapi andaikan cinta sudah hilang, bahkan satu jengkal pun tidak terlewati. Aneh tapi nyata.

Betapa indah hidup ini bila cinta itu dipraktikkan. Di pastoran kami, seorang rekan imam yang sudah sepuh begitu peduli dengan anjing-anjing kecil. Beliau telaten memberi mereka makan. Tak ayal bila hewan yang lucu-lucu itu begitu lengket dengan sang tuan. Berbeda dengan saya yang jarang menyapa apalagi memberi makan, mereka tahu saya mendekat saja sudah lari.

Hewan saja memahami dan merasakan energi bahasa cinta, apalagi manusia. Manusia yang memiliki perasaan dan hati nurani akan tumbuh lebih sempurna bila cukup cinta. Ketika anak menjadi anak yang ramah, murah senyum, suka membantu dan sopan, karena dia mendapatkan didikan cinta dari orang tuanya. ketika anak mudah mencela dan membenci sesamanya karena dia dapat merasakan kebencian itu di dalam rumahnya. Apa yang dilihat anak itu.

Ada kabar buruk. Yesus di kampung halaman-Nya tidak mendapatkan sambutan hangat dari orang-orang yang telah mengenal-Nya. Ia malah diremehkan. “Bukankah Ia hanya anak tukang kayu?” Apa yang dapat dilakukan oleh anak tukang kayu yang tidak memperbaiki itu? Bukan tempat dan selayaknya bila ia berdiri dan berbicara banyak hal pengajaran di hadapan umum. Itu hanya pantas dilakukan oleh seorang guru. Padahal Yesus hanyalah anak tukang kayu. Orang seperti Dia lebih baik di belakang saja sudah lebih dari cukup.

Pikiran dan lontaran yang sungguh menyakitkan di hati. “Sakitnya tuh di sini”. Tidak ada rasa sakit yang lebih perih daripada luka akibat dari sesamanya. Yesus tentu mengalami rasa pedih akibat permintaan seperti itu. Andaikan mereka tidak percaya dengan rasa cinta yang besar pada siapapun yang dijamin oleh siapapun. Bagaimana pun itu hanya sebuah pengandaian karena yang terjadi adalah berubah. Suatu saat apa pun itu tetap sebagai permintaan.

Anda perlu tahu setiap terjadi pada manusia tidak hanya sebuah kerugian bahkan tragedi pilu bisa terjadi. Contoh, bayi mungil harus diaborsi karena sebuah pernyataan keji dari kedua orang tuanya. Andaikan mereka menerimanya sebagai tanggung jawab cinta, maka pembunuhan sadis seperti itu tidak akan terjadi.

Orang-orang Nazaret tanpa sadar juga telah mematikan kemungkinan-kemungkinan ajaib yang dapat dilakukan oleh Yesus. Injil sendiri mencatat, Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana.

Oleh karena itu, belajar dari pengalaman berharga ini, mari satu sama lain saling percaya. Kita satu sama lain saling menerima dengan pengertian hati yang luas. Sejelek apapun orang itu, di dalamnya selalu memberikan anugerah dan kebenarannya. Allah tidak pernah menciptakan manusia sebagai sampah! Sebaliknya, manusia adalah citra-Nya.

(Renungan Harian Katolik)

Dasar biblis:

  • Bacaan I : Yehezkiel 2:2-5
  • Mazmur : 123:1-2a.2bcd.3-4; Ul: 2cd
  • Bacaan II : Korintus 12:7-10
  • Bacaan Injil : Markus 6:1-6

 

 

Sumber: blogevan.com

Komentar

Jangan Lewatkan