oleh

Keluarga

-Rohani-293 views

Keluarga adalah suatu kesatuan. Sebagai suatu kesatuan, keluarga dapat dibentuk dari perbedaan-perbedaan. Seorang ayah dapat memiliki kegemaran-kegemaran yang berbeda dengan Ibu. Demikian pula anak-anak. Namun sebagaimana dinasihatkan oleh Paus Fransiskus, keluarga pertama-tama dan terutama merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk berbagi sukacita, kegembiraan dan harapan.

Bacaan pertama ditampilkan bagaimana Allah memberikan perhatian yang begitu serius terhadap keberadaan manusia di dunia ini. Allah melihat bahwa “tidak baik jika manusia seorang diri. Maka Allah menciptakan bagi manusia itu, seorang penolong yang sepadan baginya” (Kej.2:18). Peristiwa inilah yang menjadi dasar semangat persatuan dalam keluarga, sebab pada akhirnya seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Surat kepada Orang Ibrani memberikan suatu dimensi baru dari kesatuan keluarga. Penulis surat Ibrani memahami keluarga jauh melampaui status-status biologis. Keluarga di sini dilihat sebagai suatu kesatuan tidak terpisahkan antara Kristus dan orang-orang yang ditebus-Nya. “Sebab dia yang dikuduskan dan mereka yang dikuduskan, semua berasal dari Yang Satu” (Ibr.2:11). Dalam keadaan seperti itulah Yesus dengan penuh cinta menyapa setiap pengikut-Nya sebagai Saudara.

Yesus dalam bacaan Injil yang direnungkan hari ini, memberikan penegasan mengenai sikap kesatuan tidak terpisahkan yang dimiliki dalam keluarga-keluarga. Yesus secara tegas menyatakan tidak adanya perceraian “karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk.10:9).

Selain itu juga, ditampilkan bagaimana Yesus dengan penuh sukacita menerima anak-anak yang datang kepada-Nya. Yesus memeluk mereka, dan meletakan tangan-Nya di atas mereka dan memberkati mereka “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk.10:14).

Bacaan-bacaan suci yang direnungkan hari ini, kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, Allahlah yang memulai inisiatif dalam proses terbentuknya keluarga-keluarga. Maka setiap calon-calon keluarga perlulah terlebih dahulu menyadari campur tangan Tuhan dalam hubungan mereka. Demikian pula setelah menjadi suatu keluarga kesadaran tersebut harus tetap tinggal dan menjiwai kehidupan keluarga.

Kedua, Yesus menambahkan suatu dimensi baru dari kekeluargaan yaitu keselamatan. Berkat karya keselamatan Kristus, setiap orang diangkat kepada suatu hubungan persaudaraan kekal yang jauh melampaui persaudaraan biologis. Suatu persaudaraan yang tidak akan lekang oleh waktu. Ketiga, keluarga-keluarga diarahkan untuk tetap menjaga kesatuan. Kesatuan ini merujuk kepada kesatuan tidak terceraikan antara suami dan istri.

Kemudian juga merujuk kepada suatu kesatuan dengan Yesus yang menerima setiap orang datang kepada-Nya dengan penuh sukacita. Dari sini sebagai anggota keluarga kita dapat belajar untuk terus setia menjalani kehidupan keluarga dan terus membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami sukacita bersama Yesus.

 

Oleh: Fr. Yuf Fernandes

Komentar

Jangan Lewatkan