oleh

Kisah Pagi, Minggu Pentekosta

-Rohani-372 views

Minggu pagi. Hari Raya Pentekosta. Puncak perayaan paska. Dimahkotai dengan pencurahan Roh Kudus kepada para rasul. Juga kepada Gereja semesta.

Pagi ini Roh Kudus juga turun ke seminari. Ada keinginan untuk tidur lagi setelah tersadar di pagi hari. Sementara itu ada suara hati yang mendorong untuk segera bangun. Ayo, bangun. Siap diri untuk ibadat dan misa.

Suara ini berperang dengan keinginan tubuh untuk kembali menikmati tidur. Pikiran yang muncul adalah hari Minggu, hari libur, tidak ada aktivitas kuliah, jadi bisa santai dulu, nikmati tidur panjang.

Pertarungan ini berlangsung tidak lama. Tapi menentukan kualitas kepekaan roh. Syukurlah, Roh Kudus memang turun ke seminari pagi ini. Ke Unit Ibrani, kamar 01.

Dengan sigap saya bangun dan berbenah pagi. Lalu berbagi renungan harian, ibadat pagi, dan siap berangkat misa di Noekele. Semoga Roh Kudus juga turun atas seluruh umat Kapela Noekele agar tergerak hati ikut misa Hari Raya Pentekosta.

Sepanjang jalan ke Noekele saya selesaikan rosario lima peristiwa sebagaimana biasanya. Doa untuk pemulihan dunia, Indonesia dan NTT dari pandemi covid19. Doa untuk mereka yang berada dalam kesulitan dan tantangan hidup yang berat.

Doa untuk mereka yang bersekutu dengan iblis hendak menghambat atau menghancurkan hidup sesama karena iri hati, benci, dendam, serakah, sombong, egois. Doa untuk para pejuang kemanusiaan, keadilan, kebaikan umum. Doa untuk para arwah, khususnya Mama Hermina Getrudis Paoe dan Bapak Kanis Naben.

Di kapela Noekele, umat telah menunggu untuk misa. Yang lain berdatangan satu persatu. Lumayan banyak juga yang hadir. Mereka ini tergerak oleh Roh Kudus untuk datang ke gereja. Dalam misa, saya memberikan permenungan kecil tentang kehadiran dan peranan Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, termasuk umat Noekele.

Roh Kudus hadir dalam kehidupan keluarga, melalui tuntunan suara hati untuk melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat. Semoga dengan perayaan Pentekosta ini, umat Noekele dan imam pelayan Ekaristi selalu hidup dalam bimbingan Roh Kudus. Selalu terbuka hati pada tuntunan Roh Kudus. Selalu berusaha memutuskan untuk ikut yang benar dan baik, serta menghindari yang sesat dan buruk.

Untuk itu, dibutuhkan selalu kepekaan rohani dan pembedaan roh. Kapasitas rohani ini mesti diolah dan dilatih dalam doa dan refleksi yang intensif. Ketekunan dalam doa dan refleksi akan memampukan seseorang untuk peka terhadap bisikan Roh Kudus dan mampu membedakan mana roh baik dan mana roh jahat. Dengan itu, hidupnya akan selalu berjalan menurut Roh.

Tentu saja dengan perjuangan tak kenal putus seumur hidup. Karena di mana Roh Kudus hadir untuk keselamatan manusia, di situ roh jahat atau iblis juga hadir menjerumuskan manusia kepada kebinasaan. Maka hidup adalah perjuangan intensif untuk selalu mengikuti bimbingan Roh Kudus. Tiap hari. Tiap momen. Tanpa kecuali. Berlangsung seumur hidup.

Salam dari Unit Ibrani di siang hari. Usai kembali dari Noekele, setelah bersama umat mengalami kehadiran Roh Kudus dalam ekaristi suci. Tuhan memberkati.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan