oleh

Mendengarkan dan Mewartakan

-Rohani-318 views

Dalam hidup bersama, sebuah komunikasi menjadi berarti kalau pihak-pihak yang berkomunikasi memiliki bukan saja kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan itu pun bukan asal bicara dan asal mendengar. Karena yang demikian itu bukanlah komunikasi yang berkualitas.

Dalam berbicara dan mendengarkan, ada hati dan pikiran serta keseluruhan diri yang terlibat. Dengan demikian kualitas komunikasi menjadi semakin tinggi dengan dampak yang positif bagi semua pihak dalam kebersamaan hidup.

Hari Minggu ini dalam Gereja Katolik Indonesia ditetapkan sebagai Minggu Kitab Suci Nasional. Dalam perayaan liturgi, penekanan pada Sabda Allah perlu mendapat perhatian. Sabda Allah patut didengarkan dan diwartakan. Dengan perayaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang diawali dengan perayaan pembukaan pada hari Minggu pertama bulan September ini, umat Katolik memulai sebuah perjalanan rohani selama sebulan ditemani Yesus Sang Sabda, yang menjadi sahabat seperjalanan. Karena tema BKSN tahun ini adalah Yesus, Sahabat Seperjalanan Kita.

Menengok Inspirasi Injil Mrk 7:31-37

Bacaan injil untuk perayaan liturgi hari Minggu ini adalah Mrk 7:31-37. Perikop ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Penyembuhan ini terjadi melalui satu proses yang mengantar orang ini untuk sampai pada tahap mendengarkan dengan baik dan mewartakan sukacita itu dengan penuh semangat.

Ada tiga hal yang menarik untuk disimak berkaitan dengan perayaan pembukaan BKSN. Yang pertama, Yesus berjalan keliling sambil berbuat baik, menyembuhkan banyak orang. Yesus selalu bergerak dari tempat ke tempat, mewartakan injil Kerajaan Allah. Dia meninggalkan daerah Tirus, melalui Sidon, menuju Danau Galilea, ke daerah Dekapolis. Di setiap tempat yang dilalui-Nya, Ia mewartakan injil. Dalam pewartaan itu, Ia meneguhkan apa yang diajarkan-Nya dengan aneka mujizat. Salah satu mujizat adalah penyembuhan orang sakit. Dalam teks ini, tampak jelas bahwa perjalanan Yesus adalah perjalanan pemerdekaan manusia dari aneka perbudakan. Entah itu penyakit, kuasa setan maupun kuasa dosa. Semua dibebaskan Yesus. Dalam segala situasi buruk yang dialami manusia, Yesus hadir dan membawa perubahan. Dia menjadi sahabat seperjalanan manusia yang menderita. Kehadiran dan karya-Nya membawa transformasi hidup.

Kedua, orang yang disembuhkan Yesus. Orang ini tuli dan gagap sekaligus. Tuli berarti tidak bisa mendengar maupun mendengarkan. Gagap berarti tidak bisa berbicara dengan baik dan lancar. Ketidakmampuan ini membatasinya dalam komunikasi. Padahal komunikasi itu sangat penting untuk kesejahteraan hidup. Komunikasi memungkinkan dia untuk menyampaikan isi hati dan pikiran kepada orang lain, agar terpenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupannya. Keterbatasan yang dimilikinya membuat dia sulit menyampaikan apa yang dibutuhkannya, dan kesulitan juga bagi orang lain untuk memahami dan melayani dia. Situasi sulit ini tentu membuat dia merindukan kepulihan. Dambaannya terpenuhi setelah perjumpaan dengan Yesus. Orang membawa di kepada Yesus. Karena dia tidak pernah mendengar dan mengetahui berita tentang Yesus.
Perjumpaan ini membawa perubahan besar bagi diri dan hidupnya. Ia bisa mendengar, mendengarkan dan berbicara dengan baik. Inilah sebuah perjumpaan transformatif.

Ketiga, menarik untuk mencermati perkataan Yesus pada saat menyembuhkan orang itu. Yesus berkata singkat saja. “Efata!” yang berarti: Terbukalah! Kata imperatif ini memiliki daya pemulihan yang ajaib. Telinga dan mulut yang tertutup dan terkunci selama ini kini terbuka seketika setelah mendapat perintah ilahi. Sabda Yesus memiliki daya ubah yang dahsyat. Kata ‘efata’ bisa saja diucapkan orang, tetapi tidak membawa transformasi hidup seperti yang dilakukan Yesus.

Sabda Yesus adalah sabda kehidupan.
Yesus dalam perjalanan keliling sambil berbuat baik menunjukkan bahwa Dia adalah Sahabat bagi mereka yang putus asa, yang kehilangan harapan, yang menderita, yang berdosa, yang terkungkung dalam kuasa iblis. Dia datang, Dia hadir, Dia melihat, Dia mendengarkan doa permohonan manusia, dan Dia bertindak memberi pemerdekaan. Semua itu dilakukan karena kasihNya kepada manusia.

Mendengarkan dan Mewartakan

Ulasan teks di atas membawa kita pada pemahaman mengenai pengalaman akan kasih Allah yang menyembuhkan. Yesus adalah perwujudan kasih Allah yang memanusia. Di mana saja Ia hadir, di situ ada perjumpaan transformatif bagi mereka yang membutuhkanNya. Ia menampakkan kehadiran Allah yang mendengarkan harapan manusia dan mewartakan kasih Allah dalam kata dan tindakan mujizat.

Berhadapan dengan kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam diri Yesus ini, manusia yang terbekap oleh ketulian dan kegagapan iman membutuhkan sebuah pengalaman efata. Karena manusia masa kini memang tidak tuli dan gagap secara fisik, tetapi sering kali tuli dan gagap secara moral, sosial, religius, oleh karena pelbagai hal duniawi yang memikat. Ada belenggu kepentingan duniawi yang mengikat dan menutup pintu hati dan budi. Alhasil terjadilah kebuntuan komunikasi. Dalam hidup bersama yang mengedepankan komunikasi berkualitas untuk bonum commune, ketulian dan kegagapan hati dan budi merupakan hambatan besar.

Hambatan ini kerap justeru datang dari pihak-pihak yang seyogyanya menjadi panutan dalam komunikasi berkualitas.
Berangkat dari permenungan atas teks ini, kita dapat mengambil inspirasi untuk menjadi manusia yang tidak tuli hati dan budi, tidak gagap hati dan budi. Inspirasi ini menggugah dan menggugat kita untuk bertransformasi menjadi manusia kaya arti, manusia yang mendengarkan Sabda Allah dan mewartakan kasihNya melalui kata dan tindakan berkualitas.

Pertama, kita belajar dari Allah yang mendengarkan keluhan manusia yang terkungkung oleh dosa, dan mengutus PutraNya untuk mewartakan kasihNya yang memulihkan, membebaskan, menyelamatkan. Kita belajar dari Allah untuk memiliki hati dan budi yang terbuka mendengarkan dan melaksanakan apa yang wajib dilakukan untuk keselamatan bersama.

Kedua, kita belajar dari Yesus, Sahabat seperjalanan kita, yang berkeliling sambil berbuat baik. Dia berkeliling, mendengarkan harapan orang-orang yang menderita, dan menanggapinya dengan tindakan pewartaan kasih Allah yang maharahim. Kita belajar dari Yesus untuk juga memiliki kepekaan hati dan budi, mendengarkan setiap jeritan derita sesama, dan mewartakan kebaikan Allah melalui kata dan tindakan transformatif untuk pemberdayaan dan pemerdekaan.

Ketiga, kita melihat inspirasi dari orang yang tuli dan gagap itu. Situasi tuli dan gagap fisik membuat dia menderita. Komunikasi buntu. Perjumpaan dengan Yesus membawa perubahan baginya. Kita memang tidak tuli dan gagap fisik. Tetapi banyak kali kita tuli dan gagap hati dan budi. Komunikasi buntu dan merugikan pihak lain maupun diri sendiri. Kita belajar untuk berjumpa dengan Yesus dalam olah rohani intensif. Dengannya hato dan budi kita yang tuli dan gagap disembuhkan olehNya. Lalu kita mampu mendengarkan dan mewartakan kebaikan Allah melalui komunikasi bermutu yang bermuara pada kesejahteraan bersama.

Keempat, kita menghadirkan pengalaman efata dalam hidup dan karya pelayanan kita. Sesudah kita mendapat anugerah efata dari Yesus sehingga kita bertransformasi menjadi manusia kristiani sejati, kita juga diutus untuk menghadirkan efata bagi sesama, agar semakin banyak orang yang tuli dan gagap hati dan budi, dapat bertransformasi. Lalu semuanya bergerak sinergis sebagai sahabat satu sama lain dalam perjalanan hidup bersama yang berkualitas. Tentunya dalam perjalanan sebagai sahabat itu, kita selalu ditemani Yesus Sang Sahabat seperjalanan kita.

 

Oleh: Rm. Siprianus S. Senda, Pr
Ketua Komisi Kitab Suci KAK

Komentar

Jangan Lewatkan