oleh

Mengikut Yesus, Memeluk Penderitaan

-Rohani-11.377 views

(Injil Markus 8:31-38)

Kerinduan setiap manusia adalah memperoleh kebahagiaan. Untuk itu, secara positif manusia melakukan apapun untuk meraih kebahagiaan. Orang berlomba-lomba bekerja keras, bersekolah tinggi, mengejar kekuasaan, mencari uang, menumpuk harta, dengan pikiran bahwa ia dapat bahagia.

Untuk tujuan itu, manusia menghalalkan segala cara, termasuk rela berbuat dosa. Sebaliknya, manusia berjuang menghindari segala macam kekurangan, penderitaan, sakit penyakit, kemiskinan, malapetaka karena dianggap menghambat kebahagiaan. Manusia tidak ingin menderita. Naluri itu tidak salah. Bacaan tadi memperlihatkan bahwa Petrus mewakili karakter manusia itu, yakni mau menjauhi penderitaan dan kematian. Tetapi sebaliknya, Yesus justeru mau menderita, bahkan rela mati demi apa yang dipegang-Nya sebagai misi Allah.

Penjelasan teks

Setiap komunitas baru di mana pun seringkali mengalami tantangan. Sebabnya karena mereka dianggap mengganggu stabilitas sosial yang ada. Akibatnya muncul penolakkan, pengusiran, dan penganiayaan, entah oleh mayoritas warga atau pun penguasa setempat. Tindakan-tindakan ini membuat komunitas baru itu akan mengalami penderitaan untuk waktu yang bisa cepat atau pun lama. Pengalaman negatif itu pernah menjadi bagian dari kehidupan umat Kristen perdana. Surat-surat Paulus mau pun injil-injil menunjukkan bahwa jemaat mula-mula mengalami penderitaan yang sungguh menyedihkan. Penolakan, penganiayaan, diskriminasi, dan berbagai kejahatan seringkali dialami mereka. Secara khusus, jemaat yang menjadi alamat injil Markus ini benar-benar ada dalam tekanan dan kesulitan. Berulangkali Markus berbicara tentang penderitaan dan penganiayaan yang dialami (Ps.8:35, 38; 10:30; 13:11-13). Pengejar dan penganiaya mereka berasal dari kalangan Yahudi maupun pejabat-pejabat Roma. Injil Markus ditulis sekitar tahun 60-70 Masehi di mana penganiayaan berlangsung sengit.

Terutama, setelah Kaisar Nero pada tahun 64 mengkambinghitamkan orang Kristen di Roma dengan tuduhan mereka membakar kota Roma, orang Kristen di lain tempat pun mudah saja dapat menjadi sasaran penganiayaan, diskriminasi dan rasa curiga. Kaum kerabat yang tidak setuju bahwa anggota keluarganya masuk Kristen, bisa memanfaatkan alat negara untuk mencegah mereka. Orang-orang Yahudi pun dapat menyalahgunakan suasana itu untuk melawan orang-orang Kristen. Perang Yahudi tahun 60-70 M mengobarkan semangat anti-Yahudi dan rasa curiga. Maka dengan mudah semangat itu dibelokkan juga kepada jemaat-jemaat Kristen bukan Yahudi. Akibatnya jemaat-jemaat Kristen kerapkali diperlakukan sebagai kelompok Yahudi. Mereka menjadi sasaran perasaan dan tindakan anti-Yahudi.

Dalam suasana itu, narasi tentang penderitaan Yesus relevan. Markus (juga Matius dan Lukas) mencatat bahwa setelah pengakuan Petrus terhadap kemesiasan Yesus, Yesus pun secara terang-terangan menyatakan nasib-Nya di dunia ini. Pada zaman itu orang-orang Yahudi berpendirian bahwa Mesias adalah raja orang Israel yang hendak mengalahkan musuh-musuh Israel dengan gampang dan secara gemilang, dan bukannya terbunuh oleh bangsanya sendiri. Namun Yesus mulai bernubuat bahwa Ia akan dibunuh oleh bangsa Israel. Yesus tahu apa yang akan terjadi dengan diri-Nya. Ia mengerti bahwa suatu keputusan radikal akan diambil, dan Ia akan dihukum mati sebagai mesias palsu. Yesus memahami bahwa semua hal itu memang harus terjadi sebagai bagian dari rencana Allah.

Tetapi Petrus sangat terkejut ketika mendengar pernyataan Yesus, dan ia tidak mau hal itu terjadi pada gurunya. Paralel dari cerita Markus ini ada dalam Matius 16:22, di mana Petrus mengatakan: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali takkan menimpa engkau”. Apa yang dipikirkan Petrus menunjukkan bahwa Petrus sangat mengasihi Yesus, sehingga ia tidak mau hal-hal buruk terjadi pada gurunya itu. Dalam benak Petrus, penderitaan dan kematian mesti dihindari, apa lagi oleh gurunya yang adalah mesias, raja Israel yang dinubuatkan.

Namun apa yang dipikirkan Petrus adalah pikiran manusia, bahkan merupakan pikiran iblis, dan bukanlah pikiran Allah. Iblis memakai Petrus untuk menyelewengkan Yesus dari ketaatan kepada Allah. Tetapi Yesus kuat, sehingga Ia tidak mau menyimpang dari tugas yang diembannya, betapa pun tugas itu beresiko. Yesus memilih taat, bahkan kalau pun Ia harus ditolak, dihina, difitnah, dicambuk bahkan dibunuh. Yesus siap menghadapi penderitaan dan kematian dengan hati terbuka. Yesus tahu bahwa jalan sengsara mesti Ia tempuh sebagai solidaritas Allah bagi manusia. Ia yang adalah Allah, mesti menjadi manusia, menderita, dan mati, untuk menunjukkan kepada manusia bahwa Allah berbela rasa dengan manusia, memahami kelemahan manusia, dan siap mengangkat manusia dari kelemahannya, serta memulihkan kerapuhan manusia. Yesus mati dan bangkit, agar Ia melepaskan kita dari kematian.

Markus hendak menunjukkan bahwa Yesus sendiri menderita dan bahkan mati dibunuh demi kebenaran Allah. Maka sudah sewajarnya para pengikut Yesus pun rela menderita demi ketaatan kepada Kristus. Yesus sendiri mengajarkan: setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (ay.24). Menyangkal diri berarti mengabaikan segala kepentingan diri. Menyangkal diri berarti mengatakan kepada diri sendiri bahwa tidak ada yang dibutuhkan lagi oleh diri. Menyangkal diri berarti melupakan seluruh kepentingan diri, karena ada kepentingan di luar diri yang menjadi fokus dan prioritas kita. Menyangkal diri berarti siap mengalami kenosis (mengosongkan diri), mengabaikan kepentingan pribadi, dan mengutamakan perintah Allah. Yesus mengalami menjalani itu. Ia menyangkal diri, mengabaikan kepentingan diri-Nya, demi misi Allah. Selanjutnya memikul salib. Memikul salib berarti siap menanggung akibat apapun sebagai resiko menjadi pengikut Kristus. Salib itu berupa hinaan, ejekkan, olokkan, bahwa taruhan nyawa karena iman kepada Kristus dan kebenaran yang dijalani.

Tetapi kematian di dalam Kristus tidak sia-sia. Yesus mengatakan, barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Artinya, barangsiapa tidak mampu menyangkal diri, karena mementingkan kesenangan diri semata, ia akan kehilangan hidup kekal bersama Kristus. Tetapi barangsiapa mampu menyangkal diri, memikul salib, bahkan mati sekali pun karena imannya kepada Kristus, ia akan memperoleh kembali hidupnya bersama Kristus dalam hidup yang kekal. Itulah janji Yesus bagi orang percaya.

Penutup

Dalam minggu sengsara kedua ini kita diajak untuk menghayati penderitaan Kristus, sekaligus kita diajak untuk rela menderita kalau memang itu yang harus kita alami sebagai pengikut Kristus. Kita diajak untuk merenungkan via dolorosa (jalan penderitaan) yang ditempuh Yesus untuk menyelamatkan kita. Bacaan kita memperlihatkan bahwa Allah begitu mengasihi kita, sehingga Ia menunjukkan solidaritas-Nya bagi kita, betapa pun Ia harus menderita. Allah tahu bahwa untuk menyelamatkan kita, ada resiko penderitaan yang Ia alami, namun hal itu tidak membuat-Nya mundur sedikit pun. Ia sadar bahwa penderitaan pasti dialami, karena kebenaran yang dibawa-Nya, pasti ditolak manusia. Ia mau menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi manusia tetap menyukai dosa. Itulah sebabnya manusia menolak-Nya, bahkan membunuh-Nya. Namun kebenaran senantiasa berpihak pada-Nya, sehingga akhirnya Ia tetap muncul sebagai pemenang melalui kebangkitan dari kematian.

Maka sebagai pengikut Yesus, sudah semestinya kita pun siap  menerima penderitaan sebagai bagian dari iman kita. Di masa pandemi ini, kita terpaksa membatasi ruang gerak kita. Kita tidak bisa leluasa ke mana pun mengikuti keinginan hati kita. Kita mesti menjaga jarak sehingga mengabaikan budaya ramah-tamah kehangatan kita. Kita terpaksa memakai masker yang mungkin mengganggu pernapasan kita. Kita mesti rajin cuci tangan sehingga terhambat pekerjaan kita. Semua pembatasan ini membuat kita menderita. Namun sebagai pengikut Kristus yang terpanggil untuk merawat kehidupan, penderitaan itu hanya salib kecil. Maka kita mesti siap menjalaninya.

Dalam skala yang lebih luas, penderitaan mesti kita terima demi kehendak Allah. Di sinilah arti penyangkalan diri diri dituntut. Bila kita sungguh-sungguh mau menjadi pengikut Kristus, kita mesti mau menyangkal diri, dan itu berarti mesti rela berkorban, termasuk mengorbankan kesenangan diri demi kehendak Allah. Kehendak Allah berupa cara hidup benar, jujur, lurus, mesti kita hidupi meski pun sebagai akibatnya kita hidup dalam kekurangan. Dengan kata lain, lebih baik menderita kekurangan tetapi  setia pada kebenaran dari pada melakukan kecurangan, manipulasi, dan ketidakjujuran hanya agar kita memperoleh harta benda.

Orang percaya dituntut untuk tidak boleh berkompromi dengan dosa hanya demi harta duniawi, sebab Kristus dan kebenaran-Nya lebih berharga dari dunia. Dunia tidak menjamin kebahagiaan manusia, sebab hidup di dunia hanya sementara. Kristus dan kebenaranlah yang menjamin hidup bahagia. 1 Petrus 3:14 berkata: tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sejalan dengan itu, Amsal berkata: Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut Tuhan dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan (Amsal 15:16).

Menyangkal diri juga berarti mengabaikan ego. Berhadapan dengan tindakan buruk dari orang lain, pengikut Kristus dituntut untuk bersabar dan tetap berbaik hati walaupun menderita daripada melakukan pembalasan atas kejahatan yang kita alami itu. Dengan bersabar dan tetap mengasihi, kita sudah meneladani Kristus yang setia pada kebenaran, betapapun nyawa-Nya dikorbankan. Prinsipnya, setia pada kebenaran dan hidup sesuai kehendak-Nya, betapa pun tidak mengenakkan, atau merugikan kita, atau membuat kita sakit, sesungguhnya kita sudah mengambil bagian dalam jalan penderitaan yang dikehendaki Yesus. Itulah sebabnya Petrus menulis demikian: Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dkehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat (1 Pet. 3:17). Karena itu, peluklah penderitaan bila harus demikian demi kehendak Kristus, dan bukan sebaliknya: demi kesenangan diri kita mau mengabaikan Kristus dan kebenaran. Amin

 

(Oleh: Pdt. Gusti Menoh)

Sumber: www.sinodegmit.or.id

Komentar

Jangan Lewatkan