oleh

Menjadi Penghambat dan Penyalur Rahmat?

-Rohani-220 views

KEBAIKAN itu mengalir dan menghidupkan manusia. Kebaikan yang disebarkan akan menghasilkan ganda kebaikan bagi yang lain untuk mengalami kesejahteraan bersama.

Setiap orang adalah penyalur kebaikan. Dalam dirinya ada kebaikan. Apa yang baik itu dibagikan kepada sesama dalam kebersamaan. Sikap murah hati dalam berbagi kebaikan tak kan membuat yang berbagi itu kekurangan. Malah ia akan berkelimpahan. Karena kebaikan yang dibagi, akan berlipat ganda dan kembali kepadanya dalam bentuk kebaikan yang lain. Ia semakin diperkaya.

Teks Injil Mrk 9:38-43.45.47-48

Perikop ini berbicara tentang tanggapan Yesus atas komplein dari Yohanes terhadap seseorang yang melakukan mujizat dalam nama Yesus. Yohanes merasa tersaingi karena ada yang mampu melakukan seperti itu. Di sisi lain, ia merasa bahwa melakukan mujizat itu sesuatu yang eksklusif milik mereka. Orang lain di luar komunitas ini tidak boleh melakukannya.

Tentu saja cara berpikir sempit seperti ini ditentang oleh Yesus. Bsrbuat baik itu tidak menjadi milik eksklusif orang tertentu. Kebaikan pun tidak boleh dilarang untuk dibagikan kepada yang lain. Tuhan malah menghendaki agar setiap orang bisa berbuat baik kepada sesama atas namaNya. Siapapun dapat dijadikan Tuhan sebagai sarana penyalur kebaikan ilahi kepada sesama.

Yesus membuka pikiran Yohanes agar meninggalkan sikap eksklusif, sikap sombong sebagai pengikut Kristus, sikap melarang orang berbuat baik atas nama Yesus. Lewat tanggapanNya Yesus mengubah cara berpikir Yohanes yang eksklusif ke inklusif, dari sikap sombong ke rendah hati, dari sikap melarang ke mendukung kebaikan yang disebarluaskan dalam nama Yesus.

Lebih lanjut Yesus mengingatkan Yohanes dan para murid mengenai cara berpikir sesat, yang bisa menjerumuskan orang pada penyesatan terhadap sesama. Cara berpikir sesat ini pada akhirnya menggarisbawahi pandangan Yesus bahwa penyesatan yang mengakibatkan sesama, terutama yang kecil dan menderita terhambat untuk menerima kebaikan atau rahmat Tuhan, adalah dosa berat yang patut dijauhkan dari pribadi seorang murid Kristus. Secara radikal Yesus memberi peringatan tentang dosa penyesatan yang menghambat rahmat itu, dengan menyingkirkan bagian tubuh yang melakukan penyesatan.

Jika mata, tangan, atau kaki melakukan penyesatan, maka cungkil atau penggal bagian tubuh yang melakukan penyesatan itu. Tentu saja ajaran Yesus ini tidak dipahami secara harafiah. Dari sudut pandang berbeda, hal ini merupakan awasan Yesus agar para murid tidak terjebak dalam sesat pikir, sesat kata dan sesat tindakan yang dapat menjadi skandal bagi sesama, sekaligus menghambat rahmat Allah bagi sesama. Yesus tidagk menginginkan para muridNya menjadi penyesat atau penghambat rahmat Tuhan bagi sesama manusia dengan menggunakan anggota tubuh maupun seluruh dirinya.

Secara positif, Yesus justeru menginginkan para muridNya selalu menjadi penyalur kebaikan dan tidak menghambat kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Iri hati dan eksklusivisme adalah akar penyesatan yang membuat sesama tidak dapat menerima dan menyalurkan rahmat ilahi.

Inspirasi Hidup Kristiani

Dari teks injil di atas, kiranya dapat direnungkan kebenaran sabda ilahi yang menegaskan adamya dua tipe manusia yaitu penghambat rahmat dan penyalur rahmat. Tipe penghambat rahmat adalah manusia yang merasa berhak atas kebaikan dan melarang orang lain melakukan kebaikan. Ia juga merasa iri hati pada orang lain yang juga melakukan kebaikan. Terdorong oleh iri hati dan sikap eksklusivisme, ia dapat menyesatkan pihak lemah sehingga tidak mengalami kebaikan dari dirinya mapun dari orang lain. Ia juga menggunakan kemampuan diri untuk menyesatkan sesama sehingga tidak mengalami kebaikan.

Tipe manusia penghambat rahmat ini tidak dikehendaki oleh Tuhan. Maka Tuhan mengingatkan Yohanes, para murid, maupun semua pengikutNya darinsegala zaman, agar tidak menjadi manusia penghambat rahmat, melainkan manusia penyalur rahmat. Tipe kedua ini adalah manusia injili, manusia kasih. Manusia kasih selalu terbuka, rendah hati, berpikir positif, inklusif, bersedia bekerja sama dengan siapapun yang berkehendak baik untuk menyalurkan kasih Allah kepada sesama.

Semoga dengan inspirasi injil ini, kita semakin bertumbuh menjadi manusia kasih, manusia penyalur kebaikan ilahi di manapun berada. Kita bersikap rendah hati dan inklusif, sehingga mampu melihat kebaikan Allah pada sesama, dan bersinergi menjadi penyalur rahmat Allah kepada siapapun, di manapun dan dalam keadaan apapun.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda
Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan