oleh

Paus Fransiskus: Umat Kristiani Mesti Curahkan Lebih Banyak Waktu untuk Beribadat

-Rohani-235 views

Dalam homilinya pada Hari Raya Penampakan Tuhan, Paus Fransiskus berkata, “Kita perlu belajar lebih baik lagi bagaimana merenungkan Tuhan,” belajar dari teladan orang-orang Majus.

“Di zaman kita, sangat penting bagi kita, baik sebagai individu maupun komunitas, mencurahkan lebih banyak waktu untuk beribadat,” kata Paus Fransiskus pada Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan Rabu (6/1/2020) di Vatikan.

“Kita perlu belajar lebih baik bagaimana merenungkan Tuhan,” mengikuti teladan Orang-orang Majus, yang datang ke Betlehem untuk menyembah Bayi Yesus. “Seperti mereka,” kata Paus Fransiskus, “Kita ingin bersujut dan menyembah Tuhan.” Mengambil makna dari bacaan liturgi untuk hari itu, Paus Fransiskus memusatkan perhatian pada tiga frase yang dapat membantu kita untuk memahami lebih penuh makna menjadi penyembah Tuhan: ‘mengangkat mata kita’, ‘untuk berangkat pada perjalanan’, dan ‘untuk melihat’.

Untuk Mengangkat Mata Kita

Ungkapan pertama diambil dari Nabi Yesaya, yang mendorong orang-orang Israel, setelah mereka kembali dari pengasingan, untuk ‘mengangkat’ mata mereka dan melihat sekeliling, terlepas dari masalah mereka.

Panggilan profetis untuk ‘melihat sekeliling’ tidak berarti mengabaikan kesulitan dan masalah, apalagi menyangkal kenyataan. Sebaliknya, “Ini adalah masalah melihat masalah dan kecemasan dengan cara baru, mengetahui bahwa Tuhan mengetahui masalah kita, memperhatikan doa kita, dan tidak peduli pada air mata yang kita tumpahkan,” tandas Paus Fransiskus.

Hal ini merupakan ajakan untuk terus percaya kepada Tuhan, yang pada gilirannya mengarah pada “rasa syukur berbakti,” kata Paus Fransiskus. “Ketika kita mengangkat pandangan kita kepada Tuhan, masalah kita tidak hilang, tetapi kita merasa yakin bahwa Tuhan memberi kita kekuatan untuk menghadapinya.” Rasa syukur berbakti dan kegembiraan yang didasarkan pada keyakinan kepada Tuhan “membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk menyembah Tuhan.”

Untuk Memulai Perjalanan

Paus Fransiskus mencatat bahwa sebelum Orang-orang Majus dapat menyembah Yesus di Betlehem, mereka harus melakukan perjalanan jauh. Sebuah perjalanan, katanya, selalu melibatkan perubahan. Bagi kita pun, perjalanan hidup kita melibatkan banyak perubahan, bahkan kesalahan dan kegagalan yang toh bisa menjadi pengalaman belajar. “Dengan berlalunya waktu,” kata Paus Fransiskus yang asal Argentina itu, “pencobaan dan kesulitan hidup, pengalaman dalam iman, membantu memurnikan hati kita, membuat mereka lebih rendah hati dan dengan demikian lebih terbuka kepada Tuhan.”

Alih-alih menjadi putus asa oleh kesulitan yang kita alami dalam hidup, dia melanjutkan, “Kita harus memberi mereka kesempatan untuk maju menuju Tuhan Yesus … Dengan menjaga pandangan kita tetap pada Tuhan, kita akan menemukan kekuatan yang dibutuhkan untuk bertahan dengan sukacita yang diperbarui.”

Untuk Melihat

Hal ini mengarah ke frase ketiga: ‘melihat’. Ketika Orang-orang Majus tiba di Betlehem dan menemukan Yesus bersama ibu-Nya, Maria, “mereka bersujut dan menyembah Dia.”

Paus Fransiskus menyoroti betapa luar biasanya hal ini: “Beribadat adalah tindakan penghormatan yang diperuntukkan bagi para penguasa dan pejabat tinggi.” Tetapi meski Orang-orang Majus tahu bahwa Yesus adalah Raja orang Yahudi, mereka hanya melihat ‘Anak yang malang dan ibu-Nya.’ “Mereka mampu ‘meliha’ melampaui penampilan (yang tampak),” kata Paus Fransiskus.

Untuk menyembah Tuhan, jelas Paus Fransiskus, kita juga ‘perlu melihat’ di balik tabir hal-hal yang terlihat, yang sering terbukti menipu.’ Dalam Injil, Herodes dan orang-orang Yerusalem “mewakili keduniawian yang diperbudak oleh penampilan dan daya tarik langsung,” sehingga tidak dapat mengenali siapa sebenarnya Yesus.

Realisme Teologis

Tetapi Orang-orang Majus memandang hal-hal secara berbeda, dengan pendekatan yang Paus Fransiskus gambarkan sebagai ‘realisme teologis’: “cara untuk memahami realitas obyektif dari berbagai hal … cara ‘melihat’ yang melampaui yang terlihat dan memungkinkan untuk beribadah kepada Tuhan yang sering tersembunyi dalam situasi sehari-hari, dalam diri orang miskin, dan mereka yang berada di pinggiran… cara untuk melihat hal-hal yang tidak terkesan oleh suara dan kemarahan, tetapi mencari dalam setiap situasi hal-hal yang benar-benar penting.”

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan doa agar Tuhan “menjadikan kita penyembah sejati, yang mampu menunjukkan melalui hidup kita rencana kasih-Nya bagi seluruh umat manusia.” **

 

Oleh: Christopher Wells

Komentar

Jangan Lewatkan