oleh

Roh Kuat Tetapi Daging Lemah

-Rohani-380 views

Roh memang kuat. Tetapi daging itu lemah. Demikian kata Santo Paulus. Tetapi salah seorang teman mengubah sedikit. Cuma untuk gara-gara. Tetapi berangkat dari kenyataan. Sekaligus ungkapan tentang kecenderungan manusia ke arah dosa.

Katanya begini: “Roh memang kuat, tetapi daging itu enak. Daging memang enak. Makanya dicari. Dengan penuh keinginan. Keinginan yang kentara kuat dalam tindakan, maupun samar-samar dan halus tapi mengikat. Apalagi bila kondisi selalu tersedia atau tercipta untuk menumbuhkan yang samar-samar itu sampai terang benderang.”

Di titik ini, kelemahan daging menjadi kekuatan negatif yang terus menggerogoti. Karena daging itu enak, maka hati terpikat. Yang enak dan menyenangkan biasanya memikat. Walaupun belum tentu membawa berkat. Malah justeru menjerumuskan ke liang laknat. Maka jadilah masalah. Sialnya, banyak yang suka cari masalah.

Daging itu lemah. Tapi enak. Kelemahan yang enak. Aneh, tapi nyata. Karena kecenderungan kepada daging melekat erat pada diri. Tak terelakkan. Hanya bisa dikendalikan dengan doa dan refleksi.

Dengan olah rohani. Agar Roh membimbing. Itulah pengendalian diri. Itulah penyangkalan diri. Aktus rohani yang mengatur keinginan agar terarah pada kebenaran dan kebaikan. Keinginan yang tidak diatur, cenderung mengarah ke daging yang enak itu.

Hidup manusia adalah pertarungan antara roh dan daging. Ikut roh, hidup sejati. Ikut daging, hidup palsu. Karena daging itu enak, maka kecenderungan memilih yang enak akan menguat, apabila tidak diatur atau dikendalikan. Kemahiran mengendalikan diri itu tidak datang tiba-tiba. Harus dilatih dalam proses yang lama. Tidak instan. Latihan intensif sepanjang hidup.

Lewat doa dan refleksi yang berkanjang. Selalu membuat discerment atau pembedaan roh. Pembedaan keinginan. Mana keinginan yang selaras kehendak Tuhan, mana yang sesuai keinginan setan. Ikut Tuhan, hidup sejati. Ikut setan, hidup palsu.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan