oleh

Salib Yesus dan Mukzijat Penyembuhan

-Rohani-14.909 views

Dikisahkan bahwa pada waktu agama Kristen telah dijadikan agama resmi oleh Kaisar Konstantinus, ibunya yakni Santa Helena, yang dikenal sangat saleh itu tergerak untuk mencari salib yang digunakan oleh Tuhan Yesus, Ia bersama orang-orangnya memulai pencarian salib itu di tanah suci.

Mereka merobohkan kuil-kuil paganisme dan setelah menggali, akhirnya ditemukanlah lokasi penyaliban Tuhan dan kubur tempat Ia dimakamkan.

Dekat lokasi penyaliban Tuhan tersebut, para penggali menemukan ketiga salib dan sebuah plakat kayu yang bertuliskan INRI.

Persoalan lain muncul sebab mereka tidak dapat menentukan mana dari ketiga salib itu yang merupakan Salib Tuhan.

Untuk mengetahui hal tersebut, dibawalah seorang wanita yang sedang sakit parah agar menyentuh salah satu dari ketiga salib tersebut.

Mukzijat penyembuhan terjadi ketika ia menyentuh salah satu dari ketiganya. Salib yang telah menyembuhkannya adalah benar Salib Tuhan Yesus.

Kita patut berterima kasih kepada Santa Helena, karena cintanya yang besar terhadap Tuhan telah mendorongnya untuk mencari salib yang dalam arti tertentu tidak dipedulikan, dikubur atau dibuang.

Berbeda dengan Santa Helena yang mau mencari dan mengangkat salib Tuhan dari reruntuhan dan puing puing, kita lebih sering menutup dan menguburnya.

Kita menolak salib, tidak mau memikulnya takut mencicipi penderitaannya, malu karena aibnya. Kita lupa bahwa salib adalah identitas, sumber kekuatan bagi orang yang percaya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes menyebutkan bahwa dengan Salib, Tuhan Yesus telah ditinggikan, seperti tiang ular yang telah ditinggikan oleh nabi Musa untuk memberikan kesembuhan bagi mereka yang dipagut ular.

Salib Tuhan juga memberi daya kesembuhan bahkan menyelamatkan manusia dari sengat dosa, itu sebabnya kita harus bangga memikul salib, bukan mengubur atau menolaknya.

Santa Edith Stein sangat bangga akan Salib Tuhan.

Baginya salib adalah satu-satunya harapan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, ditolak, dikucilkan, dibenci bahkan dibunuh.

Masing masing dari kita mempunyai salib yang harus ditanggung, ada yang kecil dan besar, ada yang ringan dan berat. Semoga apapun jenis jenis salib hidup, dapat kita pikul dengan rasa bangga bersama Yesus Juru Selamat Dunia.

Berkat pengorbanan Yesus dengan mati disalib dan dibangkitkan, hidup manusia telah diubah menjadi baru, Semua orang yang percaya mesti bersyukur atas karya penyelamatan yang dilakukan Allah.

Maka, setiap kali membuat tanda salib, orang Katolik diingatkan akan kasih Allah yang begitu besar itu.

Selain itu, dengan mengenakan salib diharapkan, mereka yang memandangnya senantiasa terarah pada Dia yang tersalib itu (bdk Bil 21.9) dan menerima keselamatan.

Lebih dari itu, dengan memandang salib kedekatan dengan Yesus semakin meningkat dan usaha semakin menyerupai Dia semakin nyata (bdk Flp 2.5).

Dengan sepikiran dan seperasaan dengan Yesus, kerelaan berkorban seperti Dia semakin berkembang. Bila sungguh mengerti makna luhurnya, orang Katolik dengan senang dan bangga mengenakan salib.

Namun banyak juga orang Katolik menghindarinya, karena tahu bahwa konsekuensinya tidak ringan.

Betapa sulitnya pada zaman ini untuk berkorban buat sesama, ketika kecenderungan untuk mencari kenyamanan dan rasa enak semakin kuat. (*)

 

Sumber: https://www.blogevan.com

Komentar

Jangan Lewatkan