oleh

Tubuh dalam Balutan Cinta Kasih

-Rohani-475 views

(Memaknai Valentine dengan Refleksi Teologi Tubuh)

Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai hari kasih sayang (Valentine). Namun, pemaknaan terhadap Valentine pada umumnya terjebak secara sempit dan dangkal dalam diskursus tentang romantisme cinta khas kaum muda. Padahal, tema cinta kasih adalah tema universal yang tidak bisa dibatasi hanya pada ranah yang sangat fragmentaris seperti itu. Di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh umat manusia dewasa kini, selebrasi hari Valentine yang meriah dengan aneka kegiatan dan pertemuan khas muda-mudi pun harus ditinggalkan demi menjaga keselamatan hidup. Berhadapan dengan fakta ini, kita akhirnya disadarkan bahwa cinta tidak bisa lagi direduksi hanya pada pertemuan fisik dan aneka hadiah. Cinta juga adalah kesediaan mengambil jarak dan mengisolasi diri. Kita mencintai orang lain dengan cara yang istimewa, yakni: dengan mengambil jarak demi keselamatan bersama.

Dalam situasi pembatasan ini, akhirnya refleksi tentang tubuh menjadi suatu hal yang menarik untuk diselami. Selama ini, kita larut dalam kerumunan sosial dan seakan terasing dari tubuh kita sendiri. Di saat tubuh kita mulai diancam dengan pandemi ini, kita pun menyadari bahwa tubuh adalah bagian penting yang tak terpisahkan dari diri kita. Pada momen hari Valentine ini, kita akan merefleksikan tubuh dari sudut pandang teologi tubuh (theology of the body) yang diperkenalkan oleh mendiang Paus St. Yohanes Paulus II.

Pada Mulanya (In Principio)

Pada mulanya, manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahkota ciptaan yang istimewa. Hanya manusia yang disebut imago Dei (gambar dan rupa Allah). Maka, setelah menciptakan manusia pada hari puncak penciptaan, Allah melihat ciptaan-Nya ini sebagai ciptaan yang “sungguh amat baik” (Ibr. Towb meod). Segenap diri manusia, jiwa dan tubuhnya diciptakan oleh tangan Allah sendiri. Dan kita tahu, segala sesuatu yang berasal dari Allah adalah baik. Manusia sebagai pribadi adalah makhluk yang memiliki kesatuan jiwa dan badan (hilemorfisme). St. Thomas Aquinas pernah mengatakan: “jiwa tanpa tubuh adalah malaikat, dan tubu tanpa jiwa adalah mayat.” Manusia dikenal sebagai manusia karena ia memiliki kesatuan jiwa dan tubuh.

Dewasa kini, refleksi tentang tubuh telah banyak dilukai dengan aneka kepentingan. Banyak orang mendewakan tubuh fisik sehingga segala sesuatu dikorbankan hanya untuk merasa dirinya dipandang lebih cantik atau lebih ganteng di mata orang lain. Tubuh juga dilihat sangat hedonistis sebagai “alat pemuas nafsu kedagingan”. Akibatnya, banyak terjadi masalah yang melecehkan kemuliaan martabat tubuh, misalnya: prostitusi, kekerasan seksual, dll. Ada juga yang melihat tubuh sebatas sebagai “barang” yang bisa diperjualbelikan demi keuntungan pribadi. Akibatnya, muncul masalah perdagangan orang, penjualan organ tubuh, dll. Aneka masalah yang melekat pada tubuh manusia inilah yang kemudian membawa refleksi yang negatif tentang tubuh manusia. Tubuh dipandang sebagai sumber dosa. Dan dari sinilah, refleksi St. Yohanes Paulus II yang mendasarkan teologi tubuhnya pada terang Kitab Suci memberikan kita suatu seruan metanoia (berbalik/ bertobat) untuk kembali pada refleksi yang benar tentang tubuh.

You are going the wrong way!” (Kalian sedang salah jalan!), demikian kata St. Yohanes Paulus II. Menurutnya, dunia telah ditipu habis-habisan oleh banyak konsep dan keyakinan yang keliru tentang tubuh. Karena itu, St. Yohanes Paulus II menunjukkan usaha yang cukup serius untuk kembali membangun pemahaman yang tepat atas tubuh manusia yang diyakini sebagai penentu bagi dunia dan seluruh sejarah peradaban budaya manusia. Menurutnya, jika pemahaman yang keliru ini dibiarkan begitu saja, maka manusia bisa saja dengan mudah terjerumus dalam penghayatan akan makna tubuh yang sangat dangkal, tidak dihargai dan bahkan bisa dilecehkan oleh manusia itu sendiri. Tubuh manusia bisa dengan gampang diperjualbelikan sekaligus keluhuran nilai tubuh diabaikan begitu saja serta bermacam-macam akibatnya.

Keadaan Tubuh pada Awal Mula Penciptaan

Seluruh penjelasan Paus Yohanes Paulus II tentang awal mula penciptaan diawali dengan mengutip sebuah kisah dalam Injil Matius 19:1-12. Ketika beberapa orang datang kepada Yesus dengan pertanyaan: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Yesus menjawab pertanyaan itu dengan mengajak mereka untuk tidak berhenti pada apa yang telah diajarkan oleh Musa mengenai perceraian, tetapi lebih jauh melihat keadaan paling awal pada saat manusia diciptakan. Dalam perikop di atas, secara jelas dikisahkan bagaimana Yesus menekankan keadaan pada awal mula. Yesus mengatakan bahwa hukum Musa itu ada karena hati manusia yang tegar. Bagi Yesus jelas bahwa meskipun ada aturan perceraian dalam hukum Musa, tetapi sejak semula (Yun. ap arche) tidaklah demikian (Mat 19:8). Karena keyakinan dasar itulah, St. Yohanes Pulus II sangat menaruh perhatian pada dua kisah penciptaan dalam kitab Kejadian (Genesis), yakni bab 1:1-2:4a dan bab 2:4b-25.

Kedua kisah penciptaan itu menjadi bahan dasar bagi teologi tubuh yang diajarkan St. Yohanes Paulus II. Menurutnya, pemahaman yang tepat atas tubuh manusia sebagai identitas harus diawali dengan pemahaman atas tubuh manusia saat diciptakan. Di sinilah letak persoalan dasar yang tidak disadari oleh orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus. Mereka tampaknya sudah sungguh lupa keadaan pada awal mula itu. St. Yohanes Paulus II ingin menyerukan kepada seluruh umat manusia agar menyadari bahwa segala persoalan dan kebingungan yang terjadi pada zaman ini seputar tubuh muncul karena manusia sudah lupa akan keadaan pada awal mula itu. Akibatnya, manusia mulai menghidupi satu kebiasaan yang sama sekali menodai kodratnya sebagai citra Allah.

Keadaan Tubuh Setelah Dosa dan Setelah Penebusan

Semua pengalaman asali manusia pertama di atas menjadi kabur setelah dosa asal menginterupsi sejarah hidup manusia. Selain manusia meragukan pemberian Allah, bersamaan dengan dosa asal pun, masuk juga terjebak dalam rasa malu karena telanjang. Mengapa demikian? Rasa malu atas tubuh sebetulnya berangkat dari pemikiran dan perasaan bahwa setiap kita takut untuk dinilai atau dipandang sebatas tubuh, sebatas objek. Dengan ini, secara positif rasa malu pun menjadi pelindung bagi kita dari kemungkinan untuk diobjekkan atau dilecehkan baik oleh yang lain maupun oleh diri kita sendiri.

Namun, berkat kuasa penebusan Kristus, belenggu dosa dipatahkan termasuk kuasa dosa yang menodai hakikat tubuh manusia. Dalam kuasa Kristus, tubuh manusia telah menjadi tubuh yang telah ditebus. Meskipun saat ini, kita hidup dengan tubuh yang terus diiringi oleh kelemahan-kelemahan yang muncul sejak adanya dosa, kita perlu melihat bahwa ada sebuah kemungkinan baru yang akan kita peroleh di masa depan sebagai janji dari Allah sendiri bagi orang yang percaya, setia dan bertahan hingga akhir. Peristiwa inkarnasi, “logos sarx egeneto; Sabda menjadi daging (tubuh)” (Yoh. 1:14) adalah peristiwa mulia yang mengangkat kembali kodrat manusia yang telah terluka (natura vulnerata) akibat dosa. Yesus Kristus melalui hidup dan terutama peristiwa Paskah-Nya telah mengangkat manusia untuk dilepaskan dari belenggu dosa dan diangkat statusnya menjadi “anak-anak Allah” (ad mirabile comercio).

Tubuh manusia ditegaskan St. Yohanes Paulus II sebagai Logos (perkataan) tentang Theos (Allah). Jadi, tubuh manusia mampu mengungkapkan hal-hal yang tak terlihat menjadi kenyataan yang terlihat: yang spiritual dan yang Ilahi. Allah menciptakan tubuh manusia sebagai tanda misteri keilahian-Nya sendiri. Maka, tubuh dapat menjadi locus theologicus di mana kita dapat belajar tentang Allah dan rencana-Nya bagi kita dari dan melalui tubuh kita.

Pernyataan itu sebenarnya memberikan penjelasan bahwa semestinya keseluruhan diri (tubuh) manusia dapat dengan jelas memperlihatkan cara seseorang menghayati spiritual dirinya. Manusia sebagai gambaran Allah dalam hubungan dengan sesamanya mampu mengungkapkan bagaimana seseorang menghayati spiritualitasnya. Ketika tubuh secara mudah diumbar-umbarkan ke orang lain, kita dapat mengetahui bagaimana orang itu menghayati spiritualitas dirinya.

Muliakanlah Allah dengan Tubuhmu!

Tubuh kita adalah “sakramen” cinta Allah. Paulus mengatakan tubuh kita adalah “Bait Roh Kudus” (1Kor. 6:19). Menghargai tubuh kita adalah bentuk penghargaan akan cinta Allah. Menjaga kesehatan (jasmani) dan kesucian (rohani) tubuh kita adalah “ibadah” kita kepada Allah. Kita bisa “beribadah dengan dan melalui tubuh kita.”

Ketika dosa menginterupsi persekutuan Adam dan Hawa bersama Allah, demikianlah juga tubuh kehilangan daya spiritualnya. “Jarak” (relasi yang putus akibat dosa) antara manusia dengan Allah harus disambung kembali. Kita perlu mendekatkan diri dalam persekutuan intim dengan Allah. Daya Roh lah yang mengangkat tubuh kita dari keterikatan dengan nafsu-nafsu yang tak teratur. Selama kita masih hidup di dunia kecenderungan untuk berdosa (concupiscentia) tetap ada. Namun, kita perlu membangun kedekatan yang inting secara rohaniah dengan Allah. (Doa, Devosi, Ekaristi, amal baik, askese, dll).

“Muliakan Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor. 6:20). Jadilah “sakramen cinta Allah” yang menunjukkan kasih kepada orang yang berada di sekitar kita! Tubuh dalam balutan cinta kasih Allah adalah tubuh yang mampu menjadi terang dan garam bagi kebaikan banyak orang. Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, di mana segala aneka bentuk pertemuan fisik yang menimbulkan kerumunan dibatasi, tubuh menjadi sarana cinta kasih dengan cara yang istimewa. Dengan menjaga kemuliaan tubuh kita dan tidak menyerahkannya pada kecenderungan nafsu kedagingan, kita sedang memuliakan Allah dalam dan melalui tubuh kita sendiri.

 

Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum

Penulis adalah Calon Imam Keuskupan Agung Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan