oleh

Yesus Ditinggikan di Atas Salib

-Rohani-3.897 views

Et ego si exaltatus fuero a terra, omnia traham ad me ipsum; dan Aku (Yesus), apabila sudah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” (Ioannes 12: 33)

Yoh. 12: 20-30

Perikop ini membentangkan nubuat Yesus tentang kematian-Nya. Injil Yohanes memiliki pandangan yang khas terhadap peristiwa salib Yesus. Bagi Yohanes, pemuliaan Yesus sudah terjadi ketika Ia ditinggikan di atas salib.

Dalam bagian lain Injil (Yoh. 3:14-18), diparalelkan peninggian Yesus di salib dengan peristiwa ular tembaga yang diangkat oleh Musa, agar semua yang terpatok ular tedung dapat melihatnya dan disembuhkan. Peristiwa salib bukanlah peristiwa kutukan, melainkan peristiwa keselamatan bagi umat manusia. Ungkapan “Pemuliaan” (Yun. doxazó) yang disebut beberapa kali dalam perikop ini merujuk pada peristiwa salib Yesus.

Kisah ini dibuka dengan kehadiran beberapa orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus. Injil Yohanes membuka gejala penerimaan universal kepada bangsa-bangsa lain selain Yahudi sebagai bangsa terpilih. Keselamatan terbuka kepada semua bangsa yang “ingin bertemu dengan Sang Mesias”.

Orang Yunani (Yun. Hellēnes) mewakili semua bangsa non-Yahudi. Pada bagian akhir perikop ini, kita juga menemukan ungkapan universalitas keselamatan. Bahwa, peristiwa pemuliaan Yesus di atas salib bertujuan untuk “menarik semua orang datang kepada Yesus sebagai sumber keselamatan” (Bdk. Yoh. 12: 32). Salib punya gaya gravitasi keselamatan bagi seluruh umat manusia. Di atas salib, Yesus menuntaskan cinta-Nya.

Metafora biji gandum yang harus jatuh dan mati untuk menghasilkan banyak buah menunjukkan efek keselamatan dari pengorbanan diri Yesus yang total di atas salib. Sabda Yesus ini sekaligus menjadi tuntutan kemuridan. Bahwa, sebagai pelayan Kristus, para murid (juga kita semua) harus mengikuti teladan Yesus.

Pertentangan “mencintai dan membenci nyawa” untuk memperoleh hidup yang kekal adalah pola khas Injil Yohanes untuk menunjukkan pilihan cinta yang radikal. Bahwa untuk menjadi murid Kristus yang sejati butuh penyangkalan diri yang sejati. Ini bukan berarti nyawa tidak penting. Hal ini dimaksudkan sebagai penyerahan diri yang total kepada Yesus. “Mencintai nyawa” menunjuk pada sikap egois.

Apa makna salib dalam hidup kita? Salib bukanlah tanda kutukan, melainkan tanda rahmat keselamatan. Dari salib Kristus, kita belajar untuk menjadi pelayan yang setia mengikuti teladan-Nya, yakni: memikul salib hidup kita setiap hari. Sebagaimana iman kita tidak sia-sia, karena Kristus yang tersalib itu bangkit jaya, demikianpun perjuangan hidup iman kita di dunia.

Tantangan dan kemelut hidup bukanlah halangan untuk kita bangkit bersama Kristus. Ingat, iman yang tidak tahan tantangan akan menjadi iman yang rapuh. Iman kita adalah keberanian biji gandum yang rela jatuh dan mati untuk menghasilkan banyak buah, bagi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama. Per crucem ad lucem. Salvete!

 

Oleh: Fr. Aditya Arum, Calon Imam Keuskupan Agung Kupang, tinggal di Sentrum

Komentar

Jangan Lewatkan