oleh

Yesus Gembala Yang Baik

-Rohani-300 views

Minggu paska keempat. Gereja merayakan hari minggu panggilan. Yesus adalah Gembala yang baik. Dia menjadi model utama panggilan sebagai imam, bruder, frater, suster. Dipanggil menjadi gembala umat. Dipanggil menjadi pelayan Kristus.

Pagi-pagi sudah dapat WA dari penasihat Apinat TTS, P. Vinsen Wun, SVD, di grup Apinat TTS. Komunitas Apinat TTS adalah persatuan para imam, biarawan-biarawati asal Timor Tengah Selatan. Tersebar di seluruh dunia. Pagi ini, di hari minggu panggilan, usi penasehat memberi ucapan selamat kepada kami semua dan harapan untuk tetap setia dalam komitmen panggilan ini.

Harapan Pater Vinsen adalah harapan Gereja. Harapan semua umat beriman. Harapan bahwa Tuhan tetap menggerakan hati orang muda terhadap panggilan menjadi imam, bruder, frater, suster. Tapi juga harapan bahwa yang sudah terpanggil ini tetap setia dalam panggilan. Supaya para imam, biarawan-biarawati yang berada dalam panggilan khusus ini tetap memberi kesaksian hidup yang “menggembalakan” jiwa-jiwa untuk selalu terpaut pada Kristus, sang Gembala yang baik.

Sambil merenung di awal hari, sebelum merayakan misa, saya teringat akan sebuah tulisan saya tentang imam sebagai Pastor Bonus atau gembala yang baik. Tentu saja Yesus adalah Pastor Bonus atau Gembala yang baik. Dia menjadi model kegembalaan para pastor atau imam. Saya tulis waktu itu, para imam mesti waspada supaya tidak berubah dari pastor bonus ke pastor yang suka bonus.

Maka pagi ini pun saya menulis lagi. Salah satu tantangan imamat dewasa ini adalah mau menjadi pastor bonus ataukah pastor yang suka bonus. Pastor bonus atau gembala yang baik, berpola imamat Yesus Kristus. Dia yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Dia yang memberikan hidupNya untuk keselamatan manusia. Dia yang tidak mencari kesenangan diri, tetapi taat pada kehendak Bapa.

Sementara pastor yang suka bonus justeru akan bertentangan dengan spiritualitas Yesus. Minta dilayani. Bergaya bossy. Pamrih dalam pelayanan. Diskriminasi dalam pelayanan: yang kaya dilayani, yang miskin dipimpong ke imam lain.

Rasionalisasi: pakai alasan tak masuk akal untuk pembenaran atas kebijakan pastoral yang mengeruk keuntungan, tapi mengorbankan umat. Ringkasnya cari cela untuk mendapatkan bonus berupa keuntungan material.

Fenomena ini jelas kelihatan. Umat melihat semua itu, tetapi hanya bisa diam dan bersabar. Bicarapun sebatas orang tertentu. Untuk menjaga pamor pastor yang suka bonus.

Di zaman transparan ini, pastor yang suka bonus tak bisa berkelit dengan rupa-rupa alasan. Semua terpampang jelas. Suara umat dan rasionalisasi pastor yang suka bonus hanya akan terhenti, kalau pastor berubah kembali menjadi pastor bonus. Di hari minggu panggilan ini, hari minggu Pastor Bonus, sebuah intensi dipersembahkan.

Semoga para pastor yang suka bonus, kembali menjadi pastor bonus yang dicintai umat. Hari minggu ini adalah momen terbaik untuk refleksi imamat dan mawas diri. Tuhan Yesus, Sang Gembala yang baik, memberkati. Salam dari Unit Ibrani yang hening di minggu pagi.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan