oleh

Bangsawan Itu Bernama Yusuf dari Arimatea

-Rohani-82 Dilihat

Dari narasi balada penyaliban Yesus hingga pemakaman-Nya, saya teringat Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Kehadiran Yusuf dan Nikodemus dalam Sejarah Keselamatan menegaskan besarnya peran orang kaya. Banyak cerita tentang interaksi Yesus dengan orang miskin, tapi tidak banyak tulisan tentang peran orang tajir dalam hidup dan kematian Yesus. Para pemimpin agama pun lebih banyak berkothbah tentang Yesus dan orang miskin. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi mungkin kurang lengkap.

Keempat pengjinjil —Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes— menjelaskan tentang peran Yusuf dari Arimetea. Matius menulis begini. Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.” (Matius 27:57-61)

Matius menjelaskan, Yusuf adalah orang kaya dan telah menjadi murid Yesus. Ia tidak termasuk 12 rasul yang dicatat resmi sebagai murid Yesus, namun ia juga murid Yesus. Jika Petrus, Yohanes cs adalah murid resmi, Yusuf bukan murid resmi. Ia tidak resmi menjadi murid Yesus karena posisinya sebagai tokoh agama Yahudi. Tentang perannya sebagai tokoh agama dijelaskan oleh Lukas.

Lukas menulis sebagai berikut. “Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.” (Lukas 23:50-56)

Lukas mendeskripsikan Yusuf sebagai “orang baik dan benar” dan ia anggota Majelis Besar, organisasi pemimpin agama Yahudi. Beda dengan pemimpin Yahudi yang lain, Yusuf tidak setuju dengan putusan Majelis Besar yang menunggu Yesus dihukum mati dan memanggul salib ke Golgota.

Majelis Besar adalah Sanhedrin, kelompok pemimpin bangsa Israel. Mereka dianggap sebagai kelanjutan dari 70 tua-tua yang dipilih pada Zaman Musa. Ada wakil orang Farisi, ahli Taurat, imam-imam, para ilmuwan, para sastrawan di Majelis Besar. Mereka memiliki kemenangan di bidang yudikatif. Tidak heran jika Yusuf tergolong tajir.

Yohanes memberikan catatan tambahan tentang ketakutan Yusuf dan kehadiran Nikodemus. Begini Yohanes menulis. “Sesudah itu Yusuf dari Arimatea –ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.

Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.” (Yohanes 19:31-42)

Nikodemus adalah seorang kaya. Ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang dengan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Orang Yahudi sudah punya kebiasaan merempahi mayat.

Markus menjelaskan tentang keheranan Ponsius Pilatus, gubernur Yudea yang dipercaya Kaiser Romawi. Yesus dijatuhi hukuman mati olehnya meski ia berkelit dengan “mencuci tangan” sebagai simbol tidak ikut bertanggung jawab atas kematian Yesus. “Silakan menghukum orang ini (Yesus —Red) sesuai hukummu. Saya tidak menemukan satu kesalahan pun dari orang ini,” kata Pilatus.

Orang Israel yang sudah terhasut oleh para pemimpin agama Yahudi menjawab, “Biarlah darah-Nya jatuh ke atas kami dan anak-anak kami. Karena Ia telah menghujat Allah dan melawan Kaiser,” ujar orang Yahudi.

Peluruh terakhir Pilatus pun ditolak pemimpin Yahudi. Sebagaimana kebiasaan orang Yahudi, setiap Paskah ada satu penjahat dibebaskan. Pilatus menyodorkan Barabas, penjahat kakap waktu itu dan ia meminta orang Yahudi memutuskan: memilih membebaskan Yesus atau Barabas. Orang Yahudi memilih Barabas.

Ada konflik bathin luar biasa dalam diri Pilatus. Ia ingin membebaskan Yesus yang tidak bersalah sedikit pun, tapi ia tidak berani. Karena para pemimpin Yahudi menyatakan, “Jika engkau tidak menghukum Yesus, engkau bukan sahabat kaiser. Karena Yesus adalah pemimpin pemberontakan melawan kaiser.”

Orang Yahudi bukan setuju Israel di bawah Kekaiseran Romawi. Mereka menyatakan itu hanya untuk mengunci Pilatus. Membuat Pilatus mati kutu.

Penyebab utama mereka membenci Yesus adalah “konflik peran”. Yesus, Sang Reformator, telah mengubah isi pewartaan dan cara berpikir manusia, termasuk orang Yahudi. Pengajaran Yesus menggerus kewibawaan pemimpin agama Yahudi. Mereka khawatir kehilangan pengaruh akibat kehadiran Yesus.

Oleh karena itu, Yesus harus dilenyapkan dengan dua tuduhan. Ke dalam, ke kalangan orang Yahudi, Yesus dituduh “menghujat Allah”. Ke luar, ke pihak Pilatus dan orang Romawi, Yesus dituduh menggalang kekuatan untuk memberontak, melepaskan Israel dari penjajahan Romawi. “Kami tidak punya sahabat selain kaiser. Jika Anda (Pilatus —Red) tidak menghukum Dia, Anda bukan sahabat kaiser,” kata orang Yahudi.

Markus menulis: “Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.

Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.” (Markus 15:42-47)

Yusuf dan Nikodemus

Setelah Yesus wafatnya di salib, Yusuf tidak lagi takut terhadap rekannya sesama tokoh agama Yahudi. Ditemani Nikodemus, ia berani tampil sebagai pengikut Yesus dengan mendatangi Pilatus. Mereka tidak khawatir akan tindakan yang bakal mereka terima dari para tokoh agama Yahudi.

Kebangsawanan dan ketokohan Yusuf dan Nikodemus tidak bisa diragukan lagi. Pada masa penjajahan, apakah ada rakyat jelata berani bertemu Pilatus?

Yusuf dan Nikodemus memanfaatkan kebangsawanan mereka untuk memakamkan Yesus secara beradab. Yesus adalah figur yang mereka kagumi. Jika keduanya bangsawan, Yesus adalah Sang Bangsawan Sejati. Diam-diam, keduanya bahkan percaya Yesus sebagai Mesias, Putra Allah, penyelamat manusia.

Nikodemus adalah seorang Farisi yang pada suatu waktu datang menemui Yesus secara pribadi. Yohanes mengisahkan sebagai berikut.

“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”

Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21. tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:1-21)

Orang Kaya yang Baik

Yesus pernah mengatakan, “… lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 19:24) Pernyataan itu sama sekali tidak berarti orang kaya tidak bisa masuk surga. Orang kaya bisa masuk surga meski cukup sulit. “Di mana hartamu, di sana hatimu berada.” (Matius 6:21)

Lubang jarum yang dimaksudkan bukanlah lubang jarum suntik, melainkan lubang di Kenisah Yerusalem, tempat hewan persembahan dimasukkan. Lubangnya tidak besar. Domba dan kambing mudah melewati lubang ini, tapi tidak dengan unta. Untuk bisa masuk lubang jarum, badan unta harus diatur dalam posisi berlutut.

Hati dan harta acap sulit dipisahkan. Umumnya, orang selalu ingat akan hartanya, asetnya. Namun, hal ini tidak hanya berlaku bagi orang kaya, melainkan semua orang yang punya harta. Hanya saja, umumnya, semakin kaya seseorang, semakin ia memikirkan hartanya.

Orang kaya yang sungguh dengan tulus-Ikhlas mencari Tuhan dan bertobat akan memperoleh keselamatan. Ingat Kisah Zakeus.

“Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa. Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.

Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19: 1-10)

Aset atau kekayaan itu penting dalam hidup manusia. Kita tidak bisa memberi roti kalau kita tidak punya roti. Ketika memberi makanan kepada 5.000 orang, Yesus terlebih dahulu memperbanyak lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Saat digoda setan, Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Sabda ini menegaskan, roti (harta —Red) perlu juga bagi hidup manusia. Tapi, bukan itu saja. Bukan roti saja yang membuat orang hidup.

Dunia membutuhkan banyak orang kaya, orang kaya yang baik. Saat ini, cukup banyak orang kaya yang baik. Bukan saja orang kaya yang menyisihkan dana filantropis, tapi juga orang kaya yang membuka usaha, memberikan lapangan pekerjaan kepada sesama, dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.

Orang miskin juga tidak otomatis berkenan pada Allah jika selama hidupnya hanya sibuk mencari harta. Setiap orang yang percaya diminta Yesus untuk memperhatikan dan membantu sesama yang menderita dan terlupakan. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan…” (Matius 25:35-46)

Paskah mengingatkan kita untuk lebih saling mencintai. Tidak saling membenci dan bermusuhan. Yang miskin tak perlu membenci yang kaya, juga sebaliknya. Semua kita diminta untuk berbagi. Kita semua bisa membagi dari kekurangan. Dan itu membuat kita bermartabat.

Selamat Paskah!

 

Oleh: Primus Dorimulu

Komentar