oleh

Keteguhan Iman Mendatangkan Keselamatan

-Rohani-217 views

Bacaan-bacaan suci yang kita dengarkan pada hari ini secara umum berkisah tentang hari Tuhan. Kisah tentang hari Tuhan dalam pengungkapan iman berkaitan dengan misteri kedatangan keselamatan dalam Kristus. Misteri kedatangan ini merujuk pada dimensi eskatologis atau gambaran tentang saat keselamatan di akhir jaman.

Dalam bacaan pertama, Nabi Maleaki memuat dimensi hari Tuhan sebagai gambaran yang berrelasi dengan dua tipe manusia yakni tipe manusia manusia fasik dan tipe manusia benar. Tipe manusia fasik merujuk pada gambaran manusia yang tidak setia pada Allah. Bagi orang fasik hari Tuhan akan datang seperti perapian yang membakar mereka. “Orang fasik menjadi seperti jerami yang akan terbakar sampai tidak ditinggalkan akar dan cabangnya Maleaki 4:1.

Uraian tentang tipe manusia fasik menampilkan gambaran hubungan sebab akibat. Tindakan ketidaksetiaan menjadi sebab yang mengakibatkan kebinasaan, penghakiman, hukuman. Gambaran kefasikkan bersebarangan dengan tipe manusia kedua yakni tipe manusia benar. Orang benar dilukiskan sebagai kelompok orang yang takut akan Tuhan.

Bagi orang benar hari Tuhan akan datang membawa keselamatan. bagimu (orang benar), akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya, kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang Maleakai 4:2. Hubungan sebab akibat dalam corak kehidupan orang benar merujuk pada garis sebab akibat dari perbuatan iman.

Sebab kesetiaan menghadirkan dampak berarti yakni keselamatan. Pewartaan nabi Maleaki mengarah pada misi pertobatan bangsa Israel. Melalui karya pewartaannya nabi Maleaki berusaha menyadarkan umat Israel agar dapat hidup sebagai orang benar yang setia pada Allah.

Kisah iman dalam bacaan kedua diambil dari surat kedua rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Teks dalam bacaan kedua ini memuat wejangan Paulus tentang kerja. Bagi Paulus kerja menjadi bagian dari kehidupan orang beriman.

Paulus menekankan nilai kerja sebagai bagian yang mengambarkan secara utuh kualitas iman seseorang. Wejangan Paulus tentang kerja sejatinya berakar pula pada situasi jemaat Tesalonika. Pada waktu itu jemaat Tesalonika berhadapan dengan ajaran asing tentang hari Tuhan.

Dalam pandangan sesat yang berkembang hari Tuhan dilukiskan sebagai hari penghakiman yang akan segera tiba. Bagi jemaat Tesalonika pandangan sesat ini membuat iman mereka tergunjang. Banyak dari antara jemaat Tesalonika pada akhirnya hidup dalam kecemasan dan mulai tidak setia pada karya pelayanan iman.

Situasi ini kemudian membuat Paulus merasa tertantang untuk menuliskan surat wejangan tentang hari Tuhan kepada jemaat Tesalonika. Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika diawali dengan pesan iman tentang makna hari Tuhan dan diakhiri dengan wejangan praktis tentang doa dan kerja.

Paulus mengarahkan jemaat Tesalonika agar tidak mudah terguncang dengan macam-macam ajaran asing namun tetap berpaut pada nilai dasar kebenaran iman. Pesan yang ditampilkan dalam bacaan kedua mengarahkan diri pada makna kerja sebagai bagian dari kehidupan kaum beriman.

Hari Tuhan menjadi hari kedatangan Kristus. Makna eskatologis yang diungkapkan Paulus merupakan ajakan kepada semua kaum beriman agar dapat mempersiapkan diri. Tanda dari kesiapan diri itu dituangkan melalui doa dan kerja. Melalui kehidupan doa dan nilai pekerjaan yang benar setiap kaum beriman menunjukkan kualitas imannya secara utuh.

Dalam bacaan injil kisah iman berakar pada tema hari Tuhan. Akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain Lukas 21:6. Gambaran hari Tuhan oleh Yesus dilukiskan bersama dengan proses iman.

Yesus menjelaskan bahwa para murid kelak akan berjumpa dengan macam-macam ajaran asing. Dalam ajaran asing itu berita tentang kedatangan hari Tuhan adalah pesan semu yang dibuat untuk mengacaukan para pengikut Kristus.

Berhadapan dengan situasi ini Yesus berpesan agar para murid jangan khawatir dan berusahalah tetap teguh dalam iman. Menarik bahwa nuansa khas dalam bacaan injil ini mengarah pada nilai keteguhan iman. Keteguhan iman menjadi ukuran pasti dari kualiatas kemuridan Kristus.

Setiap orang yang setia dalam iman kemudian akan memperoleh sukacita keselamatan. kalau kamu tetap bertahan kamu akan memperoleh hidup Lukas 21:19. Penegasan yang hendak diungkapkan dalam kisah injil menuntun setiap murid Kristus untuk hidup dalam penghayatan iman yang benar. Orang yang hidup dalam penghayatan iman yang benar akan memperoleh keselamatan.

Berakar dari bacaan-bacaan suci yang ada kemudian kita diarahkan kepada beberapa butir refleksi. Pertama, hari Tuhan adalah berita yang memuat pesan iman. Inti dari pesan iman adalah keselamatan. Bagi kita tanggapan atas datangnya hari Tuhan mesti dituangkan melalui cara hidup yang benar. Adapun model dari cara hidup yang benar dapat dituangkan melalui perbuatan baik, rela berkorban, saling mengasihi dan mampu mengampuni sesama.

Kedua, makna pekerjaan sebagai gambaran dari kualitas iman. Gambaran jemaat Tesalonika menjadi rujukan bagi kita untuk hidup dalam kualitas kerja yang benar. Paulus berpesan jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan. Secara utuh pesan Paulus ini ditujukan kepada jemaat Tesalonika yang hidup dalam kecendrungan mental enak dengan tidak mau bekerja.

Paulus dalam hal ini mau menyadarkan jemaat di Tesalonika agar dapat menghadirkan diri sebagai orang-orang beriman yang mampu mendatangkan manfaat dalam kehidupan melalui pekerjaan yang dilakukan. Pesan utama yang dapat di petik dari Paulus mengarah pada dimensi kerja. Sebagai orang beriman pekerjaan dimaknai sebagai bagian yang secara pasti membahasakan kualitas iman. Pekerjaan yang benar menjadi tanda yang secara utuh menampilkan corak iman yang benar.

Ketiga, penderitaan sebagai jalan menuju keselamatan. Dalam terang iman kita memahami bahwa misteri keselamatan mengalir dari jalan penderitaan. Dasar utama gambaran penderitaan menuju keselamatan bersumber dari misteri penyelamatan Kristus. Kisah mengenai gambaran hari Tuhan dengan dinamika keteguhan iman yang melalui penindasan, penolakan bahkan hukuman di sini menjadi gambaran iman yang perlu dimaknai sebagai pengungkapan misteri keselamatan.

Bagi kita misteri penderitaan adalah uraian iman yang membutuhkan keteguhan dan kepastian iman. Secara praktis tentunya nilai keteguhan iman akan sangat sulit kita maknai bila kecendrungan duniawi masih menjadi patokan dasar kehidupan. Melalui kisah iman dalam bacaan suci hari ini kita kemudian disadarkan untuk mampu meninggalkan segala kencendrungan manusiawi. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.

 

Bacaan I: Maleaki 4:1-2a
Bacaan II: 2 Tesalonika 3:7-12
Bacaan Injil: Lukas 21:5-19

 

Oleh: Frater Ovan

Komentar