oleh

Memaknai Perjumpaan Yesus dengan Saulus di Dekat Kota Damsyik

-Rohani-90 Dilihat

Hari Minggu, 1 Mei 2022 yang menurut kalender Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah awal bulan Budaya dan Bahasa. Kegiatan berjalan seperti ini berlangsung secara rutin setiap tahun. Untuk hari ini bahasa yang dipakai dalam bahasa-bahasa yang sedang dipakai di Pulau Timor, bahasa Tetum Terik, yaitu bahasa yg dipakai oleh warga Kabupaten Malaka dan sebagian Belu karena warga Kabupaten Belu Tengah dan Utara menggunakankan bahasa Marai, Bunak dan Kemak sedangkan mereka yang tinggal di perbatasan dengan Kabupaten TTU menggunankan bahasa Dawan “R “, misalnya bahasa Tetum “diak = baik, yang Dawan “R” = Namria” TTU = Leko.

Bahasa Tetum Terik dipakai oleh penduduk sebelah Selatan yaitu Kabupaten Malaka, kemudian di wilayah Timor Leste (Covalima, sebagian Ainaro, sebagiannya pakai bahasa Mambai, Manufahi bagian selatan, Manufahi lainnya bahasa Mambai, Manatuto bagian Selatan sampai Viqueque. Sedangkan Timor Leste (Timor Timur) pada umumnya menggunakan Tetum Dili yang kosa katanya banyak terdiri dari bahasa Portugis.

Penduduk sebelah timur yaitu Lautem (Lospalos) menggunakan bahasa Fataluku yang sebagian sama dengan bahasa Daerah penduduk Pulau Kisar dan Pulau Leti (Maluku Tenggara), Makasai oleh penduduk Baucau, Tokodede oleh Penduduk Liquisca dan Maubara, kemudian Bobonaro menggunakan bahasa Marai dan Bunak.

Kemudian dalam Liturgi hari juga lagu-lagunya menggunakan hahasa Meto dengan sedkit fariannya di TTU, TTS dan Kabupaten Kupang; Kabupaten Kupang plus bahasa Helong. Bahasa Meto kadang orang bilang Dawan, tetapi penutur aslinya membantah karena dalam kosa kata Meto tidak ada konsonan D dan R. Jadi lidah mereka sebut Mazmur Daud bilang MASMUL LAUT. Kita akan tahu perbedaannya kalau mengikuti kebaktian di desa-desa di pedalaman. Jadi biasanya kalau kita ajak orang Amanuban (TTS) untuk bercakap-cakap dalam bahasa daerah mereka, maka kita akan bilang “hit uap Meto lo”.

Setelah dipadukan dalam Liturgi kebaktian di GMIT hari ini (Minggu, 1 Mei 2022), menjadi suatu rangkaian bahasa-bahasa yang indah, mungkin sekali banyak anggota jemaat yang tidak menikmati keindahan atau keharmonisan ini karena keterbatasan pengetahuannya, tetapi bagi yang mengetahui bahasa-bahasa di pulau Timor, sungguh indah.

Kemudian natz Alkitab yang menjadi bahan renungan jemaat adalah Kisah para Rasul 9 : 1 – 20, yang dibawakan oeh ibu Feri Padafani, STh seorang Pendeta Senior GMIT yang khotbahnya cukup memikat perhatian jemaat. Saulus ke Damsyik dengan surat kuasa penuh dari para pemimpin Yahudi di Yerusalem yang memiliki otoritas penuh untuk menangkap dan menyiksa orang-orang Yahudi yang baru saja bertobat dan megikut Yesus.

Beberapa waktu sebelumnya, Saulus dkk telah menangkap dan menyiksa serta merajam dengan batu sampai mati seorang pengukut Yesus yang bernama Stepanus. Saat itu Saulus juga turut hadir. Rupanya membendung orang-orang kristen baru dengan cara kekerasan merupakan cara yang disenangi oleh Saulus. Mereka dengan dalih hukum Taurat dan mengejar orang-orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan JURU SELAMAT yang menyebar ke Damsyik.

Misi Saulus yang membawa kuasa khusus ke Damsyik sudah diketahui oleh masyarakat di kota Damsyik. Rupanya cara berkomunikasi masyarakat dulu kala 2000an tahun lalu sudah hebat. Tetapi lebih dari itu adalah cara kerja Roh Kudus. Ketika perjalanan Saulus dkk sudah dekat kota Damsyik, Tuhan Yesus sendiri datang bertemu Saulus. Cahaya sinar Yesus menerpa Saulus dan Saulus tumbang, rebah. Kemudian disusul suatu suara: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”

Kemudian Saulus menjawan: “Siapa Engkau Tuhan?” Jawaban dari suara itu: ” Akulah Yesus yang kau aniaya itu.Tetapi bangunlah dan pergilah ke kota, di sana dikatakan kapadamu, apa yang harus kau perbuat”. Rupanya Saulus mau mengembangkan budaya kekerasan atas nama agama (Yahudi), tetapi Yesus datang menjumpai Saulus dengan bahasa yang ramah dan disaksikan oleh anggota rombongannya yang mendengar suara percakapan Yesus dan Saulus.

Memang acap kali demi agama orang menghalalkan darah orang yang beda keyakinan dan pandangan dengan dia. Sejak saat-saat itu sampai sekarang orang Kristen selalu menjadi korban kekerasan demi agama tertentu. Saya melihat dan mengikuti kesaksian para petobatan baru di youtube, rasanya peristiwa perjumpaam Yesus dan Saulus selalu terulang. Saulus akhirnya dibaptis sesaat setelah didoakan oleh Ananias.

Momentum ini juga menunjukan Saulus dipatis secara percik (Kisah Rasul 9 : 18). Makna perjumpaan Yesus dan Saulus di dekat Damsyik adalah merubah budaya kekerasan atas agama menjadi budaya ramah dan lembut dalam menyiarkan agama. Dan mulai saat itu Saulus menjadi Paulus seorang pemberita Injil Yesus mulai dari Kota Damsik dan ke mana-mana.

Paulus menjadi penyiar Khabar baik (Good News) yang terkenal sepanjang lebih dari 20 abad. Keramahtamahan dan kelembutan dan murah hati, anti kekerasan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia adalah budaya manusia yang bermartabat, manusia masa kini.

Zaman Saulus adalah zaman kuno karena 20an abad yang lalu. Sekarang kita sudah di zaman yang modern adalah zaman toleransi antar umat beragama, budaya modern yang kita harus junjung adalah mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran.

 

Oleh : Yulius Mantaon

Komentar

Jangan Lewatkan