oleh

Mengasihi Sampai Sehabis-habisnya

-Rohani-126 Dilihat

Ada sekian banyak jenis dan tindakan mengasihi. Orang tua mengasihi anaknya, suami mengasihi isterinya. Tindakan mengasihi ini bersifat kekeluargaan, ada ikatan darah. Seorang pemuda jatuh cinta pada seorang pemudi. Kasih yang dirasakan indah dapat diteruskan dalam hidup berkeluarga. Itulah kasih yang biasa dialami oleh kebanyakan orang.

Kasih Yesus kirannya mengatasi semua itu, baik unsur keluarga, unsur keindahan maupun hal-hal manusiawi lainnya. Yesus mengasihi dengan memberikan seluruh hidupnya, sampai wafat bahkan wafat di kayu salib.

Mengasihi tanpa batas dan dengan cara yang luar biasa. Dalam bacaan pertama, mengisahkan tetang Paulus dan Barnabas yang `menguatkan hati murid-murid, dan menasihati mereka supaya bertekun dalam iman, dan mengingatkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak sengsara’.

Orang yang bertekun dalam iman, bagaikan carang yang tetap melekat pada pokok anggur dan mendapat kehidupan dari pokok itu. Yesus menjadi pokok iman kita, walau kita harus melewati ujian dan pencobaan. Lewat janji-janji firman-Nya Ia memelihara kita, dan dengan Roh Kudusnya Ia menolong dan memberi kekuatan agar kita jadi pemenang. Karena itu, tetaplah bertekun dalam iman!  Ia selalu hadir untuk menyertai kita semua.

Lebih lanjut dalam bacaan kedua yang di ambil dari kitab Wahyu, mengisahkan bahwa sejatinya Allah akan menghapus segala air mata dari mata umatNya, dan maut tidak akan ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu.

Ia menjadikan segala sesuatu baru bagi umatNya. Jika Allah sedemikian mengasihi segala sesuatu, kita pun harus meneladaninya. Dunia ini memang tidak sempurna, namun itu bukan alasan untuk mengeluh dan meratap.

Allah memang akan merestorasi semuanya, tetapi itu bukan alasan untuk bersikap cuek dan malas-malasan dalam memperbaiki dunia ini. Yesus sendiri dalam bacaan Injil hari ini telah memberikan perintah baru kepada kita, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Dan Yesus menghendaki agar perintah itu dilaksanakan tanpa syarat jika kita mau disebut sebagai murid-murid-Nya. Bahkan Yesus juga menuntut agar cinta kita itu serupa dengan cinta-Nya sendiri kepada kita.

Karena itu, apapun yang terjadi, termasuk pengkhianatan sekalipun, tidak pernah boleh menghalangi dan melenyapkan cinta kasih kita kepada sesama yang mungkin telah bersalah kepada kita. Karena bagaimanapun, pengampunan yang akan kita terima dari Allah, akan ditentukan oleh pengampunan dan maaf yang telah kita berikan kepada sesama. (Ingat saja doa Bapa Kami: dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kami).

Perintah Yesus untuk saling mengasihi menuntut kita untuk keluar dari diri kita dan bergerak menuju orang lain. Kasih menuntut kita untuk menyerahkan diri seutuhnya dan bersatu dengan orang lain. Jika kita ingin mengasihi orang lain secara tulus maka kita pun harus bersedia memberikan seluruh hidup kita. Amin.

Minggu, 15 Mei 2022
MINGGU PASKAH V
Bacaan I : Kis. 14:21b-27
Bacaan II : Why. 21:1-5a
Bacaan Injil : Yoh. 13:31-33a. 34-35

 

Oleh: Frater Adrianus N

Komentar

Jangan Lewatkan