oleh

Terus Berubah Tetap Setia

-Rohani-101 Dilihat

Bacaan-bacaan suci yang hari ini kita dengarkan secara garis besar mau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berbahagia dan tetap berpengharapan kepada Kristus sang Mesias. Sebab melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya kita telah dijadikan sebagai anak-anak terang.

Dalam bacaan pertama hari ini, Nabi Yeremia melukiskan tentang dosa bangsa Yehuda yakni ketidaksetiaan dalam hubungan mereka dengan Allah dan juga konsekuensi yang akan mereka terima. Ia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan.

Mereka yang mengandalkan diri pada manusia serta segala yang ada pada mereka, oleh Nabi Yeremia dilukiskan sebagai padang gurun yang penuh semak bulus dan tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Bentuk kepercayaan yang berpusat pada diri manusia akan bermuara pada kekecewaan dan pasti akan lenyap.

Selain itu, mereka tidak akan mengalami datanya masa kebaikan dan juga akan menemui hari-hari kehidupan yang dipenuhi rasa takut, kecewa dan kebinasaan.

Sedangkan bagi mereka yang mengandalkan Tuhan, Nabi Yeremia melukiskannya ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air. Bisa jadi pohon yang ditanam di tepi air itu akan mengalami masa yang berat saat pertumbuhannya, tetapi ia akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan yang membuat akarnya semakin tertancap dalam, berdiri kokoh dan menghasilkan buah.

Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengisahkan tentang persoalan yang terjadi dalam Jemaat Korintus di mana mereka percaya bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati tetapi sulit untuk memercayai adanya kebangkitan orang mati. Perbedaan pandangan tentang kebangkitan orang mati dalam masyarakat pluralis di Korintus bisa saja mempengaruhi lunturnya iman dan kepercayaan dari umat Allah.

Terkait hal ini, Paulus jeli dalam mengantisipasi masuknya pandangan yang tidak sesuai dengan iman Kristen ke dalam kehidupan jemaat. Oleh karena itu, Paulus menegaskan penolakannya terhadap dua pandangan yang berbeda. Di mana jemaat harus menyimak dengan saksama, jika tidak ingin menjadi orang yang paling malang dari segala manusia.

Pertama, Paulus menolak pandangan orang Saduki dan orang Yahudi yang sangat dipengaruhi konsep Yunani bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Jemaat Korintus pun seharusnya menolak pandangan tersebut. Kedua, Paulus menolak pandangan Yunani tentang imortalitas jiwa tanpa kebangkitan tubuh, sebagaimana orang Farisi. Kebangkitan Kristus tidak hanya mencakup aspek kehidupan iman percaya masa kini tetapi juga pengharapan akan kehidupan masa yang akan datang; pada kehidupan yang akan datang kita akan dibangkitkan bersama Kristus dengan tubuh sorgawi.

Selanjutnya dalam bacaan injil hari ini, Lukas mengisahkan tentang ucapan bahagia dan peringatan. Ada dua hal menarik yang terdapat dalam bacaan injil hari ini yakni: Pertama, seruan “Berbahagiah”. Seruan berbahagialah ditujukan kepada mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup berkaitan dengan iman mereka kepada Tuhan. Mereka menjadi miskin, lapar, sedih, dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak. Itulah harga yang harus mereka bayar karena komitmen mereka untuk mengikuti Yesus. Kepada orang-orang semacam inilah, Yesus menjanjikan Kerajaan Allah dan berkat-berkat, termasuk kecukupan makanan, sukacita dan upah besar di surga. Yesus sendiri memilih kemiskinan, kelaparan, kesedihan dan penolakan, supaya Ia menjadi Juru selamat dunia dengan mati di kayu salib.

Maka orang yang mengikuti Dia seharusnya mengikuti pula jalan-Nya. Lalu apakah mereka yang ikut Yesus harus hidup melulu dalam penderitaan? Bukan hal ini yang dimaksudkan oleh Yesus, tetapi yang dimaksudkan Yesus ialah bahwa sukacita dan berkat karena ikut Yesus begitu besar sehingga meskipun kita menyerahkan segala sesuatu milik kita, itu takkan berarti apa-apa untuk kita. Karena Yesus menganugerahkan pengampunan dosa, damai dengan Allah serta sukacita dalam mengikuti Dia.

Kedua, seruan “Celakalah”. Seruan celakalah ditujukan kepada mereka yang kaya, kenyang, tertawa dan dipuji orang. Mereka merasa nyaman dengan hidup mereka dan dengan apa yang mereka miliki, sehingga bukan tidak mungkin mereka merasa tidak perlu bergantung pada apapun, bahkan kepada Allah. Dan sebagai upahnya, mereka akan mengalami kelaparan, dukacita, dan kehidupan seperti para pengikut nabi palsu. Dalam keseharian hidup ini, kita juga akan menghadapi aneka pilihan.

Setiap pilihan akan mendatangkan berkat dan manfaat. Yang mengikuti Yesus akan memperoleh keselamatan dan yang tidak mengikuti Yesus akan memperoleh kebinasaan. Dengan demikian, kita sebagai para pengikut Kristus yang masih berziarah di dunia ini, hendaknya berusaha untuk meneladani Guru Agung kita yakni Yesus Kristus.

Mungkin kita harus kehilangan pekerjaan tetap atau sumber kekayaan yang menjadi milik kita selama ini. Mungkin juga kita akan mengalami kelaparan. Mungkin kita akan menangis karena berbagai pergumulan hidup, ketidakbenaran atau ketidakadilan serta dibenci oleh orang-orang yang menantang kita. Semuanya ini tidak menjadikan kita hidup bahagia secara lahiriah.

Namun motivasi murni dan kesetiaan kita pada panggilan-Nya akan menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati, yang tidak dapat digantikan dengan materi, makanan, kesenangan duniawi dan pujian. Lebih berharga hidup kita, bila kita miskin tetapi kaya dari pada kaya tetapi miskin. AMIN.

 

Minggu, 13 Februari 2022
HARI MINGGU BIASA VI
Bacaan I : Yer. 17:5-8
Bacaan II : 1Kor. 15:12.16-20
Bacaan Injil : Luk. 6:17.20-26

 

Oleh: Frater Vergilius Mandonza

Komentar