oleh

Amos Pah Tokoh Veteran Perang Asal NTT Penerima Bintang Gerilya

-Sejarah-1.379 views

Marthinus Aurelius Amos Pah dilahirkan pada tanggal 24 September 1923, dari keluarga Kristen Protestan yang berasal dari Pulau Sabu-Nusa Tenggara Timur (NTT).

Latar Belakang Pendidikan Umum dan Militer

Pendidikan pertama dimulai pada tahun 1933 ketika ia memasuki HIS-Christelijk di Kupang dan menyelesaikan pelajarannya pada tahun 1938. Dari HIS MA Amos Pah melanjutkan pendidikan ke Ambacht School (Sekolah Teknik jaman Belanda) di Yogyakarta dan lulus tahun 1943 . Pada Tahun 1951 mengikuti Pendidikan Infantri di Tegalega dibawah Nederlands Missie Militer (NMM). Tahun 1953/1954 mengikuti Pendidikan Akademi Staf Kempen di Jakarta. Tahun 1957 mengikuti Pendidikan Perwira Teritorial di Cimahi. Tahun 1957/1958 mengikuti Pendidikan Perwira Lanjutan di Bandung. Pada tahun 1966- I968 mengikuti kuliah di Fakultas Hukum Berdikari.

Karier di bidang Militer dan Riwayat Pekerjaan.

Di Bulan Februari tahun 1942, ketika dimulainya masa pendudukan Jepang di Indonesia, tentara Jepang langsung menunjukkan kebrutalan dan kebengisannya yang tidak manusiawi terhadap rakyat Indonesia, Amos Pah muda menyaksikan langsung bahkan sempat merasakan sendiri kebrutalan tentara Jepang, hal ini yang menyebabkan Amos Pah sangat membenci penjajah Jepang. Untuk itu Amos Pah melupakan semua cita-citanya untuk menuntut ilmu di Jawa dan dia bertekad untuk turut berjuang pikul senjata berperang melawan Penjajah saat itu. maka diapun turut bersama-sama pemuda-pemuda Timor lainnya bergabung dengan organisasi gerilyawan ex. Tentara KNIL-Belanda yang berasal dari Timor, Ambon dan Manado serta dari Jawa yang dikenal dengan gerakan organisasi perjuangan ”V-aksi “, tentara ex. Tentara KNIL Belanda asal orang Indonesia banyak yang melakukan desersi dan bergabung dengan para pejuang lainnya, mereka ketika melarikan diri dari kesatuannya juga membawa serta senjata, amunisi peninggalan Belanda yang mereka pergunakan dalam perjuangan. Amos Pah bersama-sama dengan teman-temannya Willem Ballo,Habel Bunga Radji, Lopong, Nalle, Koroh, Henuhili (ayah dari Letjen TNI Julius Henuhili), Markus, Titus Tallo, Moihia dan Soleman Seik bergabung dalam gerakan perjuangan V-aksi untuk berjuang demi Kemerdekaan Negara ini.

Karier beliau ditahun 1943-1945 dilanjutkan dengan bekerja pada Soerabaya Kikai Seisaku SHO (Ini adalah Pabrik Pembuatan Mesin Kapal “Braat”) yang berlokasi di Ngagel-Surabaya. Amos Pah muda mulai meniti karier pekerjaan di Pabrik Pembuatan Mesin Kapal ini pada tanggal 11 April 1943, bersama-sama dengan seorang temannya yang bernama Soleman Seik. Di tempat bekerjanya ini Amos Pah menyaksikan sendiri bagaimana kekejaman seorrang Werkboos (pengawas tenaga kerja) bernama Hisiki (orang Jepang) menganiaya karyawan pabrik orang Indonesia hingga babak belur, bahkan ada yang sampai meninggal dunia, akhirnya para tenaga kerja asal Indonesia mengeroyok Werkboos (Hisiki) tersebut hingga tewas dan jenazahnya ditenggelamkan ke Kali Mas Surabaya. Mereka, tenaga kerja orang Indonesia tersebut (termasuk Amos Pah) akhirnya ditangkap oleh Tentara Jepang (Ken Pen Tai) dan disiksa di penjara. Namun nasib mereka masih baik, melalui jaminan Direktur Ambachtschool Probolinggo Mr. Suparjo, maka mereka semua dibebaskan.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Tentara Sekutu, tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta. Pada tanggal 23 Agustus 1945 terbentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR), BKR adalah cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tanggal 12 September 1945 Amos Pah bergabung dengan BKR di Surabaya atau tepatnya dia langsung dipercayakan serta ditunjuk sebagai Kepala Pasukan Badan Keamanan Rakyat atau BKR-Ngagel-Surabaya (dibawah Komandan BKR Surabaya saat itu adalah Soengkono, Salah satu Pejuang 45 asal Surabaya, terakhir pangkat Mayor Jenderal TNI).

Amos Pah menceritakan pula bahwa bersama-sama dengan dia berjuang di Jawa Timur cukup banyak pemuda-pemuda asal NTT dan Ambon yang angkat senjata bahu membahu melawan tentara Belanda saat itu, mereka tergabung dalam laskar PRI-Soerabaja ( Pemoeda Repoeblik Indonesia-Soerabaja).

PRI adalah Perhimpunan dari berbagai organisasi Pemuda dari belbagai suku bangsa yang paling banyak anggotanya di Surabaya saat itu. PRI Surabaya dengan komandannya saat itu adalah Soemarsono, sedangkan Bung Tomo yang terkenal itu adalah Ketua Bidang komunikasi PRI. Turut bergabung didalam organisasi Pemoeda Repoeblik Indonesia (PRI)-Surabaya tersebut adalah Pemuda Toelle dan Saphya (Saphya ini adalah mantan Marine Belanda di Kapal ” Zeven Provincien “, teman seperjuangan dari Marthen Paradja almarhum) dll, sedangkan kalau Pemuda asal Sulawesi Utara, mereka tergabung dalam Kebaktian Rakyat Sulawesi (KRIS).

Disamping PRI juga ada Laskar PPRI-Soerabaja (Pemoeda Poetri Repoeblik Indonesia-Soerabaja), organisasi ini juga adalah organisasi Laskar Wanita Kemiliteran yang mendapat pelatihan militer dari tentara Jepang. Kegiatan PPRI adalah mempersiapkan tenaga wanita untuk membantu tentara Indonesia mempertahankan Kemerdekaan, dimana dalam organisasi ini tergabung 3 srikandi asal Rote-NTT yakni Elizabeth Sjioen sebagai Ketua PRRI-Soerabaja Oetara, Francisca Fanggidae sebagai Wakil Ketua PRRI-Soerabaja Oetara serta Toni Sjioen sebagai Anggotanya.

Para Pejuang 10 November 1945

Keterlibatan Amos Pah dengan pasukan BKR-Ngagel Surabaya ini menyebabkan dia ikut terlibat dalam Pertempuran 10 Nopember 1945 yang terkenal itu. Pertempuran 10 November 1945 merupakan pertempuran pertama dan terdahsyat setelah Indonesia memproklamirkan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, dimana dalam pertempuran besar ini tentara Indonesia berhadapan dengan tentara sekutu (Inggris dan Belanda) yang tergabung dalam tentara NICA. Brigadir Jenderal Mallaby pimpinan pasukan Brigade Infanteri India ke-49 (tentara Gurkha) berhasil ditewaskan dalam suatu pertempuran di Jembatan Merah, hal ini yang menyebabkan Inggris sangat murka, kemudian Inggris memerintahkan pasukan Indonesia untuk menyerah tanpa syarat pada tanggal 9 November 1945, namun tentara Indonesia dalam hal ini BKR yang didukung oleh TKR, dan masyarakat Surabaya menolak keras permintaan Inggris tersebut, sehingga keesokkan harinya terjadi pertempuran hebat antara Pasukan BKR, TKR, Polisi Istimewa (Brimob), PRI/PPRI, Tentara Pelajar Jawa Timur, TKR Laut beserta Tentara Rakyat Semesta-Jawa Timur melawan Tentara Inggris dan NICA yang bersenjatakan persenjataan modern (saat itu) ditambah dukungan Pesawat Tempur/pembom standard pasukan Sekutu, sedangkan Tentara Indonesia hanya bersenjatakan senjata hasil rampasan yang sederhana namun didukung oleh Semangat Juang yang tinggi untuk mempertahankan kota Surabaya.

Tank Inggris menggempur kantong-kantong Pejuang Indonesia di Surabaya

Inilah yang menyebabkan terjadinya Pertempuran yang sengit dan mematikan, yang puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran di Surabaya memakan waktu 1 bulan. Amos Pah menuturkan (kepada bung Jack Adam) bagaimana dia dengan anak buahnya (34 orang anggota BKR) pada tanggal 16 Nopember 1945 turut mengalami pertempuran sengit secara seporadis melawan tentara Inggris yang didukung oleh Nica Belanda di Surabaya yakni disekitar Pasar Turi dan Stasiun Kereta Api, dalam pertempuran tersebut 8 anggota BKR anak buahnya tewas. Kemudian pada tanggal 18 November 1945 kembali Amos pah beserta 62 orang anggota BKR anak buahnya melancarkan serangan terhadap tentara Inggris dan Nica di Viaduct dan Ex.Kantor Gubernur lama, dimana 21 orang anak buahnya gugur dalam pertempuran itu.

Surabaya akhirnya diduduki oleh Inggris dengan bantuan tentara NICA. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, antara lain tidak kurang dari 10-15 ribu tentara BKR,TKR, tentara Indonesia lainnya serta dari laskar masyarakat umum Surabaya tewas, sedangkan dipihak tentara Inggris dan NICA diperkirakan 1500 tentara tewas. Karena ini merupakan Pertempuran Besar dalam mempertahankan negara kesatuan RI maka tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Kemudian setelah itu ditahun 1946-1948, Amos Pah menjadi Komandan Kompie III pada Batalion Paraja-Brigif 16-Resimen II Divisi VI-Surabaya.

Pertempuran 10 November 1945 (foto dari Tribun Wiki)

Pada Tahun 1948-1949, Amos Pah diangkat sebagai Kepala Seksi III pada Batalion Paraja-Brigif 16- Divisi Diponegoro di Yogyakarta_Jawa Tengah, bersama-sama dengan Herman Johannes, Jos Kodiowa, Daud Kellah, Is Tibuludji, Benjamin PandiE, Eltari, Frans Seda, Laurens Say, Paulus Wangge, Silvester Fernandes, Dion Lamury, Herman Fernandez dibawah pimpinan I.R.Lobo (berada dibawah Komando I Gusti Ngurah Rai), di era inilah Batalion Paradja sebagai bahagian dari Divisi Diponegoro dibawah pimpinan Panglima Divisi Bambang Soegeng ikut serta dalam Pendudukan Yogyakarta selama 6 (enam) jam dimana sebagai Komandan Operasi saat itu adalah Letnan Kolonel Soeharto (dikenal dengan Operasi Serangan Oemoem 1 Maret 1949). Selain itu M.A. Amos Pah juga ikut dalam peperangan melawan pendudukan Jepang hingga Agresi Belanda I dan II serta Penumpasan Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 (dikenal dengan Madiun Affair), Penumpasan Pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar tahun 1950-1965 di Sulawesi Selatan, dan Penumpasan Pemberontakan RMS pada tahun 1950 di Maluku Selatan (waktu itu dibawah Komando Kolonel Inf. Alexander Evert Kawilarang)

    Ilustrasi Perang 6 Jam menduduki Yogyakarta(foto dari Fornews,co)

Setelah itu pada tahun 1950 — 1951. M.A. Amos Pah diangkat dan ditunjuk sebagai Kepala Sekretariat Oemoem Komando Groep Seberang di Yogyakarta. Pada tahun 1951-1953 Beliau ditunjuk sebagai Kepala Biro I -PMT -Territorial VII di Makassar, kemudian di tahun 1954-1956 Amos Pah diangkat menjadi Wakil Perwira Penerangan Territorial VII di Makassar, dan pada tahun 1956-1960 Amos Pah diangkat menjadi Perwira Komando Distrik Militer 266 di Sumba. Tahun 1961-1962 Beliau diangkat sebagai Formatur Kodim Flores Timur dengan membubarkan Komando TAAMELA-MELA di Larantuka. Tahun 1962, beliau bertugas di Belu dan TTU sebagai Kepala Seksi III Komando Resort Militer 161/ Wirasakti di Kupang. Tahun 1963/1964 M.A Amos Pah menjabat sebagai Formatur Belu-TTU di Atambua.Tahun 1964-1966, M.A.Amos Pah menjabat Kasie III Korem.161/Wirasakti di Kupang. Tahun 1967-1968 Amos Pah diangkat sebagai Komandan Distrik Militer Belu dan TTU. Tahun 1968-1978 Amos Pah diangkat sebagai Kepala Markas Wilayah Pertahanan Sipil XX-Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Riwayat Pengalaman Organisasi Sosial dan Politik.

Pada tahun 1962 M.A. Amos Pah menjabat Ketua Koperasi Primer Korem. 161 di Kupang. Tahun 1970 – 1980 scbagai ketua Dewan Pimpinan Daerah Musyawarah Keluarga Gotong Royong (MKGR) Propinsi NTT di Kupang. Tahun 1968 – 1979 sebagai anggota Dewan Pembina Golongan Karya Propinsi NTT. Sejak tahun 1982 M.A. Amos Pah menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Pepabri Propinsi NTT dan ketua Dewan Harian Angkatan 1945 Propinsi NTT / 1 981 – sampai akhir hayatnya). Sebagai ketua Markas Pertahanan Sipil M.A. Amos Pah banyak bergerak dalam kegiatan Hansip.

Keluarga

Istri : Menikah dengan Ny. Emma Maria Tallo dan dikaruniai 4 (empat) anak masing-masing : 1. Yohana Amos Pah (almh), 2. Elizabeth Amos Pah (almh), 3. Ferdinand Amos Pah, 4. Emil Libertus Amos Pah.

Ny. Emma Amos Pah-Tallo meninggal dunia pada 12 November 1955 di Makassar.

Istri : Menikah dengan Rebecca Kudji Kana di Waingapu-Sumba Timur dan dikaruniai 8 (delapan) orang anak masing-masing : 1. Lodia D. Amos Pah (almh), 2. Julriani K. Amos Pah, 3. John Carlos Amos Pah, 4. Maria T.Amos Pah, 5. Marchie Amos Pah, 6. Meity E. Amos Pah, 7. Septiati D. Amos Pah, 8. Stevanus H. Amos Pah.

Ny. Rebecca Amos Pah-Kudji Kana meninggal dunia di Kupang pada tanggal 3 Mei 2011

Bapak Marthinus Aurelius Amos Pah meninggal dunia di Kupang pada tanggal 2 Juni 2003.

Bintang dan Tanda Jasa

  1. G.O.M I
  2. G.O.M. II
  3. BINTANG GERILYA.
  4. BINTANG SEWINDU ANGKATAN PERANG RI
  5. G.O.M IV.
  6. MADIUN AFFAIR.
  7. G.O.M. SULAWESI SELATAN.
  8. G.O.M RMS.
  9. P E N E G A K
  10. SATYA LENCANA 24 TAHUN.
  11. BINTANG KARTIKA EKA PAKSI KLAS III
                                                               M.A. Amos Pah

Sumber Data :

  1. Tulisan Pemegang ” Bintang Gerilya ” oleh Jack Adam dan Mell Adoe
  2. Daftar Riwayat Hidup Marthinus Aureulius Amos Pah,
  3. Buku Sejarah sosial di NTT
  4. Catatan Peter A.Rohi .

Foto berasal dari Keluarga Amos Pah

Oleh: Nicky Uly

Komentar

Jangan Lewatkan