oleh

MBJR dan Kedatangan KRI Dewaruci, Cambuk bagi NTT Untuk Pemulihan Ekosistem Cendana

-Sejarah-417 Dilihat

RADARNTT, Kupang – Kedatangan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) tahun 2022 yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementenrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, menjadi cambuk bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melakukan pemulihan ekosistem Cendana.

Rencananya kapal milik TNI Angkatan Laut tersebut akan tiba di Kota Kupang 24 Juni 2022 mendatang membawa pemuda-pemudi pilihan dari 34 provinsi dengan tujuan untuk tapak tilas Jalur Rempah Nusantara.

Puluhan Laskar Rempah RI akan mengunjungi sejumlah situs budaya di Kota Kupang seperti mercusuar, Kota Lama, Gereja Kota Kupang, Desa Cendana di Nitneo, SMK Negeri 4 Kupang, Museum NTT, SMA Negeri 6 Kupang sebagai role model sekolah rempah, dan sejumlah situs budaya.

Adapun kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa catatan-catatan sejarah yang menjadi pertimbangan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementenrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, yang dimuat dalam buku saku MBJR. Dalam catatan tersebut menghimpun berbagai cerita kejayaan rempah-rempah nusantara. Sudah sejak lama rempah-rempah dari Nusantara turut berkontribusi pada sejarah peradaban dunia.

Jalur Rempah menjadi cikal bakal perdagangan komoditas yang dilakukan nenek moyang bangsa Indonesia. Rutenya dimulai dari timur ke barat: pala, bunga pala, dan cengkeh dari Kepulauan Maluku, dikumpulkan di Pantai Malabar, India, lalu diangkut ke Teluk Persia dan ke sepanjang Lembah Eufrat, Mesopotamia, ke Babilonia, juga Madagaskar dan Afrika Selatan.

Ada tiga makna penting Jalur Rempah dicatat dalam MBJR. Pertama, bukti kemampuan Nusantara dalam menjelajah dan menjadi bagian masyarakat dunia. Kedua, Jalur Rempah sebagai jalur kebudayaan yang mendorong interaksi antarbudaya. Ketiga, membentuk jejaring spiritual dan intelektual Nusantara dengan bangsa lain.

Rempah bersama komoditas perdagangan lainnya yang beredar di wilayah Nusantara telah memicu lahirnya basantara (lingua franca) pemersatu bangsa-bangsa, alat tukar berupa mata uang simbolik, bangunan-bangunan penanda kehadiran bangsa, teknologi dan pengetahuan, literasi dan seni, hingga perilaku kehidupan berempah sehari-hari, yang meliputi penyebaran agama, pendidikan, pertukaran ilmu pengetahuan, seni, bahasa, teknologi perkapalan, busana, kesehatan ragawi, kuliner, gastronomi, hingga pertemuan berbagai kepentingan politik.

Dalam Jalur Rempah juga bisa ditemukan manusia-manusia penting seperti Karaeng Pattingalloang dan Syekh Yusuf Al-Makassari. Semua hal itu kemudian menjelma menjadi tradisi dan jati diri wilayah dan kota pada Jalur Rempah yang hingga hari ini masih kita temukan jejaknya.

Imajinasi perdagangan rempah dan terbentuknya Indonesia pada dasarnya mengingatkan kembali bahwa Jalur Rempah adalah jalur pengetahuan yang kompleks dan kaya potensi.

Jika dieksplorasi lebih dalam, Jalur Rempah bisa berkontribusi ke banyak hal seperti ilmu pengetahuan, teknologi sampai dengan logika berpikir, sikap dan penyikapan terhadap kehidupan.

Dengannya, Jalur Rempah adalah masa depan kebudayaan. Dalam rangka merevitalisasi hubungan historis tersebut, Muhibah Budaya merupakan sebuah platform untuk mengembangkan dan memperkuat ketahanan budaya serta diplomasi budaya di dalam dan luar negeri, serta memaksimalkan pemanfaatan Cagar Budaya (CB) dan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pelayaran mengarungi lintas samudera menyusuri titik-titik rempah di Indonesia sebagai penegasan ketersambungan daerah-daerah dan konektivitas historis Indonesia melalui Jalur Rempah.

Cendana dalam gugusan jalur rempah.
Kupang menjadi salah satu Jalur Rempah karena keberadaan komoditas kayu cendana wangi (Santalum album), asam, dan kemiri. Cendana merupakan tumbuhan endemik atau asli dari provinsi NTT yang disebut sebagai Nusa Cendana. MBJR kali ini pun memasukan NTT sebagai salah satu daerah yang akan dikunjungi.

Hal ini berangkat dari beberapa catatan-catatan sejarah kejayaan cendana di masa lampau. Berkaca pada sejarah pulau di gugusan Sunda Kecil itu, era lampau selalu dikunjungi bangsa Tiongkok, India, dan Eropa.

Cendana tergolong komoditas unggulan yang juga disebut emas hijau. Layaknya pala dan cengkih, kayu cendana juga menjadi tujuan bangsa-bangsa asing datang ke Tanah Air pada abad ke-14 dan turut membentuk simpul-simpul Jalur Rempah atau titik persinggahan perdagangan di Nusantara.

Dalam catatan buku saku MBJR, mencatat Cendana sebagai komoditas tersohor bahkan sebelum kedatangan bangsa asing. Para pedagang Jawa dan Melayu sudah memasarkannya sampai ke India untuk digunakan sebagai salep dan parfum.

Pedagang Tiongkok pun secara periodik pergi ke Pulau Timor untuk mengambil barang berharga itu. Demikian juga bangsa Arab dan Eropa yang datang kemudian, turut mencari kayu cendana untuk bahan obat-obatan dan juga diperlukan dalam upacara kremasi.

Menurut WALHI NTT, kedatangan KRI Dewaruci harus jadi cambuk bagi NTT untuk pemulihan ekosistem Cendana.

Kunjungan KRI Dewaruci dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) kali ini tentunya mempunyai basis historis yang panjang. Catatan-catatan kejayaan masa lalu dan beberapa kejayaan yang masih terjaga sampai saat ini menjadi pendorong pentingnya dilakukan kegiatan MBJR. Hal ini tentunya memiliki hal positif ketika Negara melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementenrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menaruh perhatian terhadap berbagai catatan kejayaan warisan Nusantara dan alam Indonesia.

Namun, WALHI NTT punya catatan tersendiri terkait beberapa ekosistem endemik NTT salah satunya cendana. Dalam sejarah cendana NTT, NTT pernah berjaya dengan komoditas cendana. Selama masa orde baru cendana menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT.

Kayu cendana juga menjadi salah satu tujuan bangsa-bangsa asing datang ke Tanah Air pada abad ke-14. Sehingga, Pulau Timor yang merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Kecil turut membetuk simpul-simpul jalur rempah atau titik persinggahan perdagangan di Nusantara.

Tidak hanya itu, sejarah rusaknya cendana NTT juga diakibatkan oleh beberapa kebijakan pemerintah yang bagi WALHI NTT dinilai sebagai salah satu faktor penyebab berkurangnya cendana di NTT. Kebijakan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 1986 tentang Pengelolaan Cendana yang tidak berpihak pada masyarakat karena cendana diklaim oleh pemerintah.

Kemudian di era Reformasi, Pemerintah Daerah Provinsi NTT mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 1999 tentang pembatalan Perda Nomor 16 tahun 1986 dan penyerahan wewenang pengelolaan cendana kepada Pemerintah daerah Kabupaten Kota.

Kedatangan KRI Dewaruci ke NTT sebaiknya tidak semata berangkat dari basis ideologis melihat cendana dalam kacamata ekonomi belaka. Narasi sosial ekologis perlu dikuatkan sebagai acuan yang kuat kedekatan ekosistem endemik cendana dengan budaya lokal di NTT serta pola pengembangan berperspektif keberlanjutan lingkungan menjadi kuat dalam setiap narasi kebijakan pemerintah.

Fakta pengerusakan dan bangkrutnya cendana dari NTT sudah menjadi sejarah publik yang diingat selalu. Semua bermula ketika dunia internasional hanya memandang cendana dalam satu sudut pandang tunggal yakni hitungan keuntungan ekonomi belaka. Pola yang sama tentunya harus disadari dalam kegiatan MBJR ini.

Kehadiran KRI Dewaruci dalam kegiatan MBJR memberikan dua pertanda bagi masa depan cendana. Pertama, momentum ini bisa saja memberikan kontribusi suramnya masa depan cendana di NTT ketika salah melihat cendana, atau semata menggunakan kacamata kuda yakni kacamata ekonomi semata. Kedua, bisa saja menjadi bagian dari kampanye pemulihan komoditas cendana dengan perspektif sosial ekologis yang kuat dalam mengimbangi narasi ekonomi. Setidaknya momentum ini bisa menjadi satu cambuk peringatan bagi Pemerintah NTT dalam pemulihan ekosistem Cendana. (TIM/RN)

Komentar