oleh

Pariwisata Dalam Pandangan Ekologis dan Budaya Orang Hewa

-WisBud-445 views

Pengantar

Tulisan ini merupakan tulisan Almarhum Petrus Kleruk Liwu, seorang pegiat pariwisata asal Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Beliau bertempat  tinggal di Waiara, sebuah daerah Pariwisata di Kapaten Sikka. Berbekal pengalaman sebagai pemandu, ia kemudian mendirikan PT. Alam Komodo Flores Tours (Tour Oprerator & Travel Service).

Ia kemudian menggagas wisata food untuk menggerakan ekonomi warga di sekitar Waiara di masa pandemi Covid-19. Usaha itu pun berjalan belum setahun jagung, setelahnya maut telah menjemputnya. Tulisan ini, sebagai salah satu tulisannya yang kami gagas bersama untuk dibukukan.

Sebuah sumbangan pikiran tentang membangun desa Hewa dengan cara pandang setiap penulis. Berdasarkan latar belakang profesinya, ia kemudian menuangkan gagasannya berwujud tulisan yang sedang Anda baca ini. Sebuah tulisan yang bernas walau ia tidak pernah belajar jurnalistik.

Yang saya tahu, ia adalah seorang otodidak. Dalam beberapa kesempatan, ia selalu merendah untuk belajar tentang menulis. Semangat belajar itu tidak saja pada sektor pariwista yang digelutinya, tetapi juga tentang menuangkan gagasan-gagasan secara tertulis.

Saya memiliki tanggung jawab moril untuk menyampaikannya kepada pembaca pada umumnya, dan orang Hewa khususnya walaupun ia kini telah menghadap Sang Kuasa; dan menjadi beban moril pula bila saya tidak menyampaikan buah pikirannya melalui media. (Joni Liwu).

———————————————————————–

Pariwisata dalam pandangan masyarakat lokal, meskipun sudah, dan sedang berjalan saat ini namun masih menjadi sebuah diskursus yang secara kasat mata dipandang sebagai sebuah bisnis yang hanya menguntungkan sebagian orang atau individu yang menjalankan usahanya, seperti rumah makan, penginapan dan juga melalui usaha kerajinan tangan. Kelompok-kelompok sadar wisata yang dibentuk di desa melalui program pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) di mana masyarakat lokalnya sendiri yang menjadi pemeran utama di pasar diharapkan mampu memperbaiki ekonomi melalui sektor pariwisata, selain pertanian yang memang selama ini telah mengurat akar dalam kehidupan kita.

Dalam Pemerintahan otonomi daerah, pusat telah memberikan kewenangan khusus kepada pemerintahan daerah dalam hal ini pemerintahan desa untuk menjadi penentu kebijakan utama di dalam membangun desanya sendiri dimana sektor pariwisata menjadi salah satu alternatif yang diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di desa. Desa Hewa, di kecamatan Wulanggitang, kabupaten Flores Timur, memiliki keunikan budaya, adat dan istiadat serta alam yang indah dengan ekosistem laut dan darat yang melimpah adalah suatu kekayaan hayati yang luar biasa yang harus disyukuri sebagai suatu anugerah Ilahi yang mesti selalu dijaga dan dilestarikan oleh semua masyarakat desa Hewa sendiri.

Pariwisata, sesuai pengertiannya merupakan sebuah bidang ilmu yang cakupannya sangat luas. Menurut (Kodhyat 1998) pariwisata merupakan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya dan alam serta ilmu. Pariwisata yang berasal dari kata Pari dan Wisata (bahasa Sansekerta) yang berarti berjalan mengelilingi suatu daerah tertentu dengan tujuan menikmati  keindahan. Maka secara keseluruhan pariwisata identik dengan sebuah keindahan. Dengan kata lain, orang berwisata bukan ke tempat-tempat yang kumuh dan jorok tetapi mencari suatu keindahan untuk menemukan sebuah ketenangan jiwa.

Dalam filsafat estetika, jika dikaitkan dengan ilmu pariwisata maka keduanya saling berkaitan satu sama lain. Estetika adalah seni yang menggambar tentang suatu keindahan tidak hanya pada karya seni manusia tetapi juga expresi kekaguman terhadap sebuah keindahan yang digambarkan melalui karya Allah lewat alam semesta yang kita jumpai setiap saat.

Maka keindahan itu penting dalam kehidupan kita karena mewakili nilai-nilai kita. Nilai-nilai itu indah karena mereka menentukan tindakan kita melalui kehidupan. Budaya seni kita menentukan identitas kita. Tarian Sakalele adalah sebuah seni yang menjadi identitas orang Hewa. Ritual adat pleba watar, ea uran wair dan lain-lain itu juga merupakan bagian unik dari budaya yang menentukan identitas kita.

Begitu juga keindahan alam pantai Rako, Ilin Wuko dan Lewotobi, tidak hanya sebatas keindahan pemandangannya tetapi juga segala ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk babi rusa, burung-burung di udara, dan binatang-binatang liar lainnya serta ikan-ikan di laut juga merupakan kekayaan alam yang indah yang menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan mancanegara. Itulah karya alam yang kemudian dipadukan dengan karya seni manusia sehingga menjadi sebuah objek yang menarik untuk dinikmati.

Oleh karena itu, sesuai dengan maknanya sebagai suatu nilai seni maka kaum penikmat seni (estetikus) tidak menginginkan suatu kehancuran atas keindahan nilai seni yang dimiliki oleh orang Hewa. Dalam konteks budaya, kita adalah pencipta karya seni seperti seni tari, seni musik tradisional, seni suara, dan pada suatu waktu kita juga akan menjadi seni ukir dan seni pahat seperti orang Bali, meskipun itu bukan menjadi budaya asli kita. Kita sebagai pencipta seni (the art maker) tetapi kita telah kehilangan jati diri kita sebagai orang Hewa karena kita menggunakan produk-produk dari luar seperti sarung Sa’En Waher tidak lagi dipakai generasi sekarang, Pute Noru dianggap sebagai sesuatu yang kolot primitif.

Dalam konteks ekologi, kita telah menghancurkan sebagian habitat alam yang dahulu kita anggap suara mereka adalah nyanyian alam yang merdu. Perburuan liar menggunakan senjata moderen telah menghancurkan ekosistem alam. Penebangan hutan secara masif menghancurkan tempat hunian mereka. Danau Se yang dahulu menjadi tempat bersemayamnya awan tebal di atas pohon-pohon besar mengakibatkan burung-burung unik yang menjadi daya tarik wisatawan sekarang hilang entah kemana.

Ribuan ekor burung kakatua di Pantai Rako yang dilindungi negara pun punah entah kemana. Desa Hewa telah kehilangan satu nilai keindahan oleh karena keserakahan kita sendiri. Belajar dari pengalaman inilah maka pemerintah menciptakan sebuah program Community Based Tourism untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya orang Hewa tercinta untuk kembali kepada budaya asli, mempertahankan nilai-nilai keindahan dan keunikan kita agar tidak tergerus oleh budaya moderen.

Pemerintah dalam pandangan konservatif melihat bahwa perlu dan dengan sesegera mungkin dilakukan revolusi mental melalui program pembentukan kelompok-kelompok sadar wisata agar sumber daya manusia dibentuk sesuai pemahaman konservasi yang diprogramkan pemerintah melalui kelompok ini agar kita tidak kehilangan budaya asli kita termasuk budaya Tabe Telan terhadap leluhur yang telah mewariskan kita begitu banyak kearifan lokal yang mesti kita jaga dan kita lestarikan.

Coba kita telusuri kembali beberapa tokoh sejarah kita seperti Moan Klateng Soge (yang menjadi cikal bakal suku Soge Mading Aijawan). Moan Mahing Rotan (yang memulai penjelajahan lewat berburu hewan liar secara tradisional hingga membuat batas-batas wilayah desa Hewa mulai dari Boru Kedang hingga Kokang Tana Gajon). Moan Katan dan Moan Getan – dua pria yang menjadi saksi sejarah perbatasan wilayah tanah Hewa dan Boru Kedang di sebelah timur dan Kokang di sebelah barat.

Sejarah peradaban masa lalu tentang batas-batas wilayah Natar Hewat begitu luar biasa syarat akan makna historis, sebuah perjuangan untuk menguasai wilayah tanpa ada pertumpahan darah tetapi melalui sebuah kebijaksanaan yang luar biasa atas dasar tabe telan. Sejarah Huu Bubuk Wara Bekor di mulai ketika Moan Klateng Soge dalam penjelajahannya dari pantai hingga ke gunung bersama dua ekor anjing kesayangannya Supu dan Suru tiba di sebelah barat Boru Kedang (Nale Wutun) mengetahui bahwa tuannya sedang haus lalu pergi mengorek tanah dan mendapatkan air lalu pulang memberitahukan kepada tuannya bahwa ia telah menemukan air. Dan betapa bijaksananya orang-orang di sekitar wilayah itu (Nale Wutun, lokasi bagian sebelah timur gunung Wuko bersebelahan dengan Boru Kedang) menyerahkan wilayah itu kepada Moan Klateng Soge. Keturunan yang di sebut Soge Mading Aijawan pun dimulai dari situ.

Huu Bubuk Wara Bekor. Sungguh luar biasa. Para leluhur itu membuat batas-batas wilayah tanah.Perburuan itu pun kemudian menyejarah sebagai sebuah cerita tetang batas-batas wilayah yang selalu dituturkan kepada genera-generasi desa Hewa, di kecamatan Wulangitang, kabupaten Flores Timur.

Diceritakan bahwa dengan sebuah pengorbanan besar walau bukan lewat pertumpahan darah tetapi melalui sebuah eksplorasi secara fisik. Dilakukan dengan ara yang cukup cerdik untuk menguasai wilayah dengan mengikat ketupat berisi abu dapur lalu pergi memburu hewan liar sambil mengikuti jejak kaki anjing dan abu dapur yang tumpah sepanjang anjing itu berlari. Batas wilayah pedesaan pun mengikuti jejak anjing dengan abu dapur sepajang Gunung Wuko di sebelah utara hingga tepian pantai sebelah barat Bukit manuk.

Tinjauan Ekologis

Dalam pandangan pariwisata secara ekologis, segala makhluk hidup yang ada di bumi ini diciptakan untuk dinikmati. Menikmati tidak hanya dengan mencicipi tetapi juga menikmati dengan memandang atau menyaksikan. Di barat orang tidak membunuh hewan liar karena itu di lindungi oleh negara. Pemerintah punya aturan untuk berburu dan setiap orang harus memiliki surat ijin berburu dengan jumlah buruan di batasi. karena jika kedapatan membunuh hewan liar akan diberi sanksi dengan membayar denda. Harus ini selalu merespon setiap perbuatan kita. Kita menyadari bahwa alam semesta ini telah memberi kepenuhan dalam segala hal. Tetapi kita tidak menyadari bahwa alam semesta juga merespon setiap perbuatan kita jika kita tidak peduli kepadanya. Tentu kita berhak untuk menguasai alam dan segala isinya, tetapi kita juga punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi seluruh ekosistem yang ada di darat dan laut agar tetap memberikan kehidupan yang berkesinambungan bagi kita.

Sebaliknya jika kita serakah maka kita siap menerima berbagai ancaman seperti bencana alam dan non bencana alam seperti virus corona yang juga merupakan bagian dari kemurkaan Ama Lero Wulan Ina Nian Tana. Kita belajar dari pengalaman pandemi Covid-19 yang mengakibatkan hilangnya pendapatan negara miliaran rupiah dari sektor pariwisata dan juga jutaan umat manusia di dunia kehilangan pekerjaan karena perusahaan perhotelan, restoran, biro perjalanan wisata, tempat hiburan, penerbangan antar negara serentak ditutup demi menghentikan penyebaran pandemi Covid-19.

Semua itu adalah akibat dari perbuatan manusia. Keserakahan yang membawa kita kepada suatu kehancuran yang membuat kita terus berpikir, apakah kita tetap dengan keegoan kita atau harus merubah mindset atau pola pikir kita untuk hidup berdamai dengan alam supaya pariwisata yang kita andalkan nanti sebagai leading sektor bagi pertumbuhan ekonomi di desa kita setelah pertanian dapat hidup kembali.

Inilah tantangan besar bagi masa depan kita khususnya desa Hewa. Maka, untuk menghadapi tantangan masa depan Natar Hewat Lewo Rotan Guhi Natar Gahar, kita butuh generasi muda yang kreatif dan berdaya guna, yang mampu membawa desa Hewa ke tingkat nasional lewat sektor pariwisata. Pantai Rako kiranya menjadi  tumpuan bagi perekonomian kita kelak. Jika Lewotana mengijinkan maka nama Pantai Rako akan harum di seantero nusantara dan mancanegara. Itu tugas besar dan berat bagi generasi muda desa Hewa khususnya dan semua pihak yang berkecimpung di dalamnya.

Semua kembali kepada kita yang memulai, kita yang merintis demi masa depan desa Hewa yang jaya dan makmur. Semoga.

 

Oleh: Petrus Kleruk Liwu  (Alm)

Komentar

Jangan Lewatkan